
Dua bulan sudah Peter mencari Christine tapi hasilnya tetap nihil. Peter sudah menemui Lexy untuk menanyakan dimana Christine, tapi bukannya memberitahu Lexy malah memarahi Peter dan mengatakan kalau ia adalah laki-laki yang sangat tidak bisa diandalkan.
Bukan salah Peter jika ia menghilang, karena dari awal, Kevin memang sudah merencanakan semua ini. Tapi di satu sisi hal yang membuat Peter senang saat itu adalah karena rencana calon kakak iparnya itu gagal, namun disini lain yang membuatnya sedih, jengkel, marah dan kesal karena Christine menghilang.
Sudah dua bulan ia tidak bisa menemukan Christine dimanapun, baik di kota New York maupun di kota-kota yang dekat dengan New York dan di kota-kota lainnya.
Peter bahkan menemui William, ayah Christine, tapi hasilnya juga nihil. William juga tidak tahu Christine dimana, tapi setidaknya ada sedikit perasaan lega saat Peter mengetahui kalau William saat itu sempat memergoki Christine saat sedang mengendap-endap untuk pergi.
William mengatakan kalau Christine ingin sendiri, gadisnya itu sedang butuh waktu untuk menenangkan dirinya. William bahkan mengatakan kalau Christine akan pulang kalau ia sudah merasa tenang.
Sayangnya ini sudah dua bulan dan tidak ada tanda-tanda kalau Christine akan pulang. Tapi Peter tidak boleh egois, ia akan menunggu Christine pulang. Kepergian Christine saat ini juga karena ada sangkut pautnya dengan dirinya.
Seperti yang dikatakan oleh Lexy beberapa minggu yang lalu, Christine pernah mencoba menghubungi dirinya tapi dengan bodohnya ia malah menolak panggilan itu. Ia ingat saat itu. Itu adalah saat ia turun pesawat dan menginjakkan kaki di Papua. sialan!
Penyesalan ada karena kebodohan masa lalu, dan ia menyesal karena pernah begitu sangat bodoh di masa lalu. Peter sangat berantakan, sangat kacau dan terlihat menyedihkan.
Ia kembali berusaha menekuni berkas-berkas yang ada di mejanya yang sudah menggunung karena kekalutannya dan tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Bayangkan saja sudah terlalu lama tidak melihat Christine. Dan ia sudah setengah mati merindukan Christine, wanitanya.
Setelah itu tidak ada lagi jejak yang ditinggalkan oleh Christine. Tidak ada jadwal penerbangan atas namanya, nomor ponselnya juga sudah tidak bisa dihubungi. Gadisnya itu seolah telah lenyap, hilang ditelan bumi.
Peter hampir gila memikirkan Christine, lagi-lagi ia teringat saat pertemuan terakhirnya dengan Christine, itu bukanlah pertemuan yang bisa dibilang baik karena pertemuan itulah awal dan akar dari semua masalah ini. Ia bahkan tidak pernah mengira kalau semuanya akan sangat berat seperti saat ini.
Dan Peter menyesal, seandainya ia bisa mengulang waktu, ia tidak akan pernah percaya pada Kevin dan saat ini ia sudah pasti bersama Christine saat ini.
Time passes very fast and everything changes in a instant.
Semuanya berubah kecuali hatinya. Hatinya masih tetap sama seperti dulu saat ia pertama kali sadar kalau ia sudah jatuh cinta pada Christine. Dan sampai saat ini, ia masih jatuh cinta pada wanitanya, dan tidak ada niat sedikitpun baginya untuk mengubah perasaanya.
Semuanya masih sama, rasanya masih sama.
Ia merindukan Christine.