He Is My Bad Boy

He Is My Bad Boy
62. 10 hours!



Christine sudah membulatkan tekadnya, ia sudah memikirkannya dengan matang. Ada benarnya juga apa yang dikatakan Alexa dua hari yang lalu.


Alexa benar, mungkin dia juga ikut andil kenapa dirinya kecewa, walau ia sendiri tidak tahu dimana letak bagiannya yang menyesengsarakan dirinya sendiri. Jika dia tidak berharap sangat tinggi jelas tingkat rasa kecewanya juga akan semakin tinggi.


Tapi setidaknya ia tidak boleh lagi melarikan diri seperti ini, ia akan menghadapi semuanya secara jantan sekalipun ia adalah betina.


Christine mengambil ponselnya dan menghubungi ayahnya. Orang pertama yang harus tahu mengenai keputusannya saat ini adalah ayahnya. Tidak terlalu lama deringan itu terdengarkarena ayahnya dengan begitu cepat selalu mengangkat panggilannya


“Ayah aku akan pulang hari ini, dan mungkin baru sampai besok pagi.”


William yang mendengar kalimat barusan langsung berbahagia. “Benarkah? Kenapa bisa sampai besok? Memangnya kamu naik apa?”


Christine tersenyum tipis, menyadari nada bahagia bercampur khawatir dari suara ayahnya. "Aku pulang naik bis ayah. Ayah tidak perlu khawatir, aku sudah hapal caranya." Kata Christine menenangkan ayahnya.


"Begitukah? Apa perlu jemputan di terminal bis?"


“Tidak perlu ayah, aku sepertinya tidak akan langsung pulang dulu, aku akan menemui seseorang terlebih dahulu”


William memahami maksud putrinya ini, “Apa kau akan menemui kakakmu terlebih dahulu?” tanyanya.


“Bukan ayah, aku akan menemui Peter.”


“Baiklah kalau begitu, atau apa sebaiknya kau naik pesawat saja Christine?”


“Tidak perlu ayah, aku ingin naik bis. Aku merasa seperti seorang petualang pergi jauh naik bis” ucap Christine kemudian terkekeh kecil.


“Baiklah kalau begitu, hubungi ayah kalau kau sudah sampai”


“Baik ayah, aku sayang ayah”


Christine kemudian pamit kepada Alexa yang terlihat bersedih.


“Kau yang menyuruhku pulang tapi lihat sekarang, air matamu bahkan terlihat memaksaku untuk tetap tinggal.” Ucap Christine.


“Bisakah kau untuk tidak merusak suasana?” tanya Alexa kesal.


Christine kemudian tertawa, “Oke oke, aku akan pergi agar suasanamu terasa seperti ini setiap hari.”


Alexa kemudian cemberut, “Aku memang menyuruhmu pulang, tapi aku tidak tahu kalau perpisahan itu semenyakitkan ini,”


Christine tersenyum “Dan akan lebih menyakitkan lagi saat kau berpisah dengan seseorang yang paling kau cintai. Itulah yang kurasakan karena kebodohanku sendiri.”


Alexa terkekeh kecil “Sepertinya pengalamanmu dalam percintaan sangat banyak dan luas. Kau seperti seorang motivator cinta.”


Kali ini Christine yang tertawa, “Yang terakhir ini memberiku lebih banyak rasa.”


Alexa menatap Christine “Aku pasti akan sangat merindukanmu.” dan ia langsung memeluk Christine erat juga dibalas sama eratnya oleh Christine.


“Aku juga pasti akan merindukanmu. Kapan-kapan datanglah ke New York, aku akan mengenalkanmu pada Lexy, sifatnya hampir sama sepertimu, Setiap kali berbicara denganmu, aku seperti sedang berbicara dengannya juga. Sifat kalian juga benar-benar sama.”


Alexa kembali terkekeh, “Akan ku usahakan. Lagipula kau kan harus mengundangku ke acara pernikahanmu dengan lelaki itu nantinya.” kata Alexa sambi melepaskan pelukannya.


Christine tertawa lalu mengangguk kemudian mengambil ranselnya dan berbalik. Berjalan menuju bus yang akan segeran mengantarkannya ke New York, Christine menaiki bus itu dan duduk dikursinya. Sekali lagi ia menoleh melalui jendela dan melihat Alexa sedang melambai ke arahnya.


Dia akan berada di bus ini selama kurang lebih sepuluh jam, dan waktu sebanyak itu bisa dia gunakan untuk kembali berpikir.