
Christine memasuki rumah sederhananya dengan perasaan kesal, sedangkan Alexa mengikutinya dari belakang masih dengan ekspresi bingung. Selama dalam perjalan pulang, Christine tidak mengajaknya berbicara sama sekali, perempuan itu hanya berguman tidak jelas.
Tapi dari caranya bergumam, Alexa tahu kalau Christine sedang kesal. Bahkan mungkin sangat kesal.
“Sebenarnya ada apa Christine?” tanyanya begitu Alexa duduk di sofa ruang tamu.
Christine menatap Alexa dengan tatapan tajam, tapi tiba-tiba ia berteriak membuat Alexa kaget sekaligus jengkel.
“AKU BENAR-BENAR MEMBENCI WANITA GILA ITU...!!!!”
“Sebenarnya apa yang sudah terjadi!” tanya Alexa jengkel, tapi bukannya menjawab Christine malah berbicara lagi.
“Berani sekali wanita gila itu mengatakan kalau Peter kekasihnya, dan kau dengar apa tadi katanya?! Aku menggoda Peter?!” Christine mendengus kesal, sangat kesal.
Alexa mengerutkan keningnya, kenapa dari tadi ia mendengar nama Peter. Siapa Peter?
“Memangnya siapa Peter?” tanya Alexa sambil dengan kening yang mengkerut.
“PETER KEKASIHKU..!!”
Alexa yang tadinya sudah cukup jengkel, kali ini semakin jengkel karena bentakan Christine barusan.
“Mana aku tahu kalau Peter kekasihmu!” ucapnya sambil mendengus kesal.
Christine yang mendengar nada jengkel Alexa barusan langsung sadar kalau ia baru saja membentak Alexa, dan ia tidak sadar.
Christine langsung tersenyum manis dan mendekati Alexa, “Maafkan aku, aku tidak bermaksud membentakmu..” ucapnya sambil nyengir seperti orang bodoh.
Alexa yang sadar jika Christine sudah tidak kesal lagi, langsung menatap Christine dengan serius “Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Siapa wanita tadi?” tanyanya serius dan semangat.
Christine menatap Alexa sayu, “Ceritanya panjang,”
“Apa itu juga yang membuatmu mengasingkan diri dengan alasan ‘menenangkan pikiran’ disini?” tanya Alexa lagi dan dijawab dengan anggukan oleh Christine.
“Ceritakan padaku, aku akan mendengarkannya,” ucap Alexa tenang dan lagi-lagi diangguki oleh Christine.
Christine kemudian menceritakan semuanya dari awal, tentang perjodohan yang dilakukan oleh ayahnya, tentang dia kabur dari rumah sampai kejadian pertunangannya yang dibatalkan kerena kakaknya yang ada dibalik semua ini. Semuanya diceritakan Christine dengan lancar.
Dan setelah mencerikan semuanya, entah kenapa Christine merasa sedikit lebih lega. Seakan ia sudah menghilangkan sedikit beban yang dirasakannya.
“Karena kau terlalu banyak berpikir bagaimana cara menenangkan pikiranmu,” ucap Alexa datar “Jadi?” tanyanya.
Christine mengangkat sebelah alisnya “Jadi?” beonya pada pertanyaan Alexa barusan.
Alexa memutar bola matanya “Jadi apa yang akankau lakukan? Kau sudah mencoba menenangkan diri Christine,”
Christine menghela napas lelah, “Aku rasa aku masih membutuhkan waktu,”
“Sampai kapan? Sampai kau tua?”
“Entahlah, aku masih tidak tahu, yang jelas aku belum siap.”
“Aku tidak tahu bagaimana tepatnya perasaanmu, tapi aku mengerti. Apa kau tahu yang kau lakukan saat ini adalah melarikan diri?”
“Aku tidak melarikan diri! Aku hanya sedang butuh waktu untuk sendiri!”
“Apa bedanya? kau tetap membiarkan masalah itu tanpa menyelesaikannya. Christine ini sudah dua bulan,”
“Aku belum ingin pulang, aku masih kecewa.”
“Sampai kapan kau akan kecewa? Ini sudah dua bulan Christine,”
“Ini baru dua bulan!”
“Jadi kau berencana ‘menenangkan pikiran’ berapa lama?! Dua abad? Kalau begitu nikmati kekecewaanmu, rasakan kekecewaanmu itu lebih lama lagi. Kau tidak perlu merasakan kebahagiaan karena kau selalu memaksa untuk merasakan kekecewaan!” Alexa menghirup napas sejenak sebelum kembali berkata, “Kau merasa kalau semua orang mengecewakanmu, padahal kau juga ikut andil menciptakan rasa kecewa itu, ini sudah dua bulan dan kau masih tidak merasakan dimana letak kesalahmu? Kau sangat keterlaluan.”
“Jadi sekarang kau menyalahkanku? Ku kira bercerita padamu akan membuatku merasa tenang! Tapi ternyata tidak, kau malah menyalahkanku sekarang!”
“Karena semuanya memang bermula darimu!!” sentak Alexa kesal, ia sudah sangat kesal akan kebodohan Christine.
Christine mengerutkan keningnya, “Dariku? Bagaimana bisa?”
Alexa memutar bola matanya malas, “Pikirkan saja sendiri!” ucapnya kesal kemudian meninggalkan Christine yang masih bingung tapi sebelum kakinya sampai di luar rumah Christine, ia berbalik dan berkata, “Saranku lebih baik kau pulang dan bicarakan baik-baik dengan kakakmu dan Peter, aku pulang bye.”
Christine masih menatap Alexa yang sudah menghilang pandangannya sayu, “Apa aku harus pulang?” gumamnya redah.