He Is My Bad Boy

He Is My Bad Boy
54. Will meet Kevin!



William memasuki ruang makan dengan santai, dan mendapati Kevin termenung tanpa menyentuh sarapannya


yang bahkan sepertinya sudah dingin.


“Kenapa tidak makan sarapanmu?” tanya William yang sepertinya mengagetkan Kevin.


“Eh, aku akan memakannya,” Kevin langsung mengambil roti yang ada di piringnya dan langsung memasukkannnya ke dalam mulutnya. Ia mengamati ayahnya yang mengambil tempat duduk di depannya.


“Kau makan sendiri.” kata William, itu bukan pertanyaan melainkan sebuah pernyataan.


Kevin menelan ludahnya dengan susah, ia tidak tahu harus bagaimana. Tidak mungkin ia mengatakan pada William kalau Christine menghilang, ayahnya itu pasti akan sangat marah padanya. Secara Christine adalah perempuan satu-satunya dalam keluarga karena ibunya sudah lama meninggal.


Jadi William begitu menyayangi Christine yang memiliki wajah dan sifat yang hampir 90 persen sama dengan ibunya. Kadang melihat Christine, akan langsung membuat ayahnya maupun dirinya secara tidak langsung melihat bayangan ibunya, Catherine.


Apa yang harus ia lakukan jika seandainya ayahnya akan bertanya dimana Christine sekarang? Tapi melihat gerak-gerik ayahnya, Kevin merasa kalau ayahnya tidak terlalu memusingkan ketidakhadiran Christine saat ini.


“Apa ayah akan bekerja?” tanyanya berbasa-basi.


William menaikkan sebelah alisnya, tidak biasanya putranya ini bertanya, “Tentu saja” jawabnya, ia melihat Kevin yang langsung menunduk begitu dirinya menjawab pertanyaan barusan. William memperhatikan gerak-gerik Kevin yang terlihat gugup dan cemas,


“Ada apa? Kenapa kau terlihat cemas?”


Kevin langsung mendongak menatap William, namun kali ini wajah Kevin terlihat sedikit panik.


“Ah- itu..., hmmm bukan apa-apa,” cicitnya kemudian kembali menunduk, saat ini Kevin seperti


benar-benar seperti seorang penakut.


“Lalu kenapa ekspresimu seperti itu?” William menaikkan sebelah alisnya.


Kevin menarik napas panjang, tidak ada gunanya ia menyembunyian tentang hilangnya Christine, cepat atau lambat ayahnya akan tahu, mungkin lebih tepatnya pasti akan tahu.


“Christine menghilang” ucap Kevin pelan dengan kepala yang masih menunduk tanpa berniat


mengakat kepalanya dan menatap sang ayah.


“Christine menghilang, aku sudah mengetuk pintu kamarnya bahkan menggedornya tapi Christine tidak menyahut jadi aku memutusakan masuk dengan cara paksa dan mendapati kamarnya kosong” ucap Kevin lagi, kali ini dengan perasaan bersalah.


“Ayah tahu,” kata William membuat Kevin langsung mendongak tak percaya.


“A-ayah ta-tahu?” tanyanya mengulang.


William mengangguk “Ayah memergokinya tengah malam tadi sedang mengendap-endap keluar berusaha


agar tidak menimbulkan suara, dan ia berkata sedang ingin sendiri.”


“Ini salahku membuat Christine pergi, maafkan aku ayah.”


“Sudahlah, tidak ada yang spenuhnya salah dan tidak ada yang sepenuhnya benar, semuanya sudah terlanjur terjadi.”


“Dulu ia juga pergi karena kecewa pada ayah yang berusaha menjodohkannya,” William melanjutkan


sarapannya.


“Tapi kali ini berbeda ayah, maafkan aku.” Kevin mendongak menatap William yang tengah memakan


sarapannya.


William menghela napas dan mentap putranya yang sedang menatapnya dengan perasaan bersalah “Sudahlah


Kevin, jangan meminta maaf pada ayah. Kalian berdua anak ayah dan ayah menyayangi kalian. Tidak ada yang salah diantara kalian, mungkin kau terlalu keras pada adikmu, kau tahu kan dia perempuan dan dia sedikit lebih sensitif,”


“Iya aku tahu,”


“Mungkin kau juga butuh waktu untuk mengitrospeksi diri,”


Mereka kemudian melanjutkan sarapan masing-masing dalam keadaan hening. William selesai lebih


dulu, karena pagi ini dia memang akan rapat dengan beberapa kepala bagian di kantornya. Sebelum William meninggalkan ruang makan Kevin kembali bertanya,


“Apa ayah tahu Christine pergi kemana?”


William berbalik dan terdiam beberapa saat dan berpikir, tapi kemudian ia menjawab “Tidak tahu,


ayah tahu ia pergi tapi ayah tidak tahu ia pergi kemana,”


“Aku akan mencarinya,”


“Tidak perlu, ia akan pulang kalau ia sudah merasa baikan. Kalau begitu Ayah berangkat” kata William kemudian meninggalkan ruang makan.


“Hati-hati” balas Kevin setelah William benar-benar sudah tidak terlihat lagi.


Perasaan bersalah kembali menggerogoti pikiran Kevin, ya Tuhan sebenarnya apa yang sudah dia lakukan sekarang. Adiknya sampai menghilang dan pergi tanpa berniat pamit padanya. Kevin mengusap wajahnya kasar. Christine benar-benar kecewa padanya.


Adiknya kecewa padanya.


Adik kesayangannya kecewa padanya.


Terima kasih kepada keegoisan yang berhasil membuat dirinya menjadi seorang kakak yang jahat.


______________________


Setelah kurang lebih 12 jam Peter tidak menginjak tanah, Pesawat yang ditumpanginya mendarat dengan mulus di bandara John F. Kennedy, New York. Peter turun dengan perasaan campur aduk kesal dan marah sekaligus.


Ia bahkan tidak merasa lelah sama sekali, yang ada malah perasaan jengkel tingkat akut. Ia langsung menuju mobil yang terparkir di depan pesawat pribadi milik ayahnya itu.


“Antarkan aku ke kediaman calon istriku, Christine Haliane,” perintah Peter dingin pada supirnya. kali ini ia akan memberi perhitungan pada Kevin.