
Peter masih terdiam dan tak bergerak dari tempatnya berdiri saat ini, namun pandangannya tetap luruh ke arah perempuan yang saat ini sedang tersenyum menatapnya. Apakah ini nyata?
Peter menggeleng-gelengkan kepalanya barangkali ia sedang terkena fatamorgana dan melihat Christine diruangannya. Tapi seberapa keras pun ia menggelengkan kepalanya dan kembali melihat perempuan itu masih disana, bahkan saat ini perempuan itu melihatnya dengan tatapan bingung.
“Christine.” panggilnya lagi, barangkali tadi adalah suara dari kepalanya karena terlalu merindukan wanitanya itu.
“Ya.”
Peter kembali terdiam dan itu membuat Christine bingung sekaligus kesal, tapi ia melihat gurat kelelahan diwajah Peter. Wajah lelaki itu sekarang sudah ditumbuhi bulu-bulu halus dan sudah cukup tebal serta terlihat berantakan, sudah berapa lama lelakinya ini tidak bercukur?
“Aku merapikan mejamu,” Christine lebih dulu memulai pembicaraan “Mejamu cukup berantakan, jadi aku merapikannya.” Christine kembali merapikan meja Peter.
Peter bergeming, ia tidak menjawab maupun bersuara pandangannya masih tetap lurus pada Christine, apa ini nyata?
“Christine.” panggilnya lagi membuat Christine bertambah kesal, kenapa dari tadi lelaki itu hanya menyebut namanya.
Christine menghela napas pelan dan mendongak menatap Peter, lelaki itu masih tetap berdiri disana di depan pintu. “Apa kau akan tetap berdiri ditempatmu itu?”
Tidak ada jawaban.
Christine merasa jengah, ia mendekati Peter yang masih berdiri dan mata lelaki itu tetap lekat menatapnya.
Christine semakin dekat dan ia bisa melihat wajah syok Peter dan raut wajah rindu. Ia menarik sedikit tangan Peter dan menutup pintu ruangan lelaki itu, karena dari tadi pintu itu terbuka.
Peter menatap tangannya yang dipegang oleh Christine, dan ia bisa merasakan lembut tanyan Christine yang begitu dirindukannya. Dan ia tidak tahu harus bagaimana, tangan ini terasa sangat nyata, wangi Christine juga terasa sangat nyata menusuk hidungnya.
Ia kembali menatap Christine yang saat ini tersenyum manis, semanis gula-gula.
“Christine,” panggilanya lagi, kali ini Christine memutar bola matanya tapi kemudian ia langsung memeluk Peter yang terlihat sangat bodoh sekarang.
Hangat dari pelukan Christine langsung menariknya dari ketetkejutannya, dan tanpa pikir panjang lagi Peter langsung membalas pelukan Christine lebih kuat, ya Tuhan ini nyata!
“Christine,” panggilnya lagi kali ini seakan sudah sadar.
“Kau nyata! Ya Tuhan, kau nyata!”
Christine langsung menarik kepalanya dan menatap Peter tanpa melepaskan pelukannya, “Jadi dari tadi kau mengira aku tidak nyata?”
Peter tidak menjawab pertanyaan itu dan langsung memeluk Christine dengan erat, bahkan sangat erat sampai Christine menepuk-nepuk punggung Peter.
“Kau membuatku kesulitan bernapas,” ucapnya kesal.
Peter tidak menjawab pertanyaan itu dan tetap memeluk Christine tapi sedikit mengendurkan pelukannya agar wanitanya ini tidak mati karena kehabisan napas.
Peter menciumi puncak kepala Christine, membuat wanita itu tersenyum.
“Aku merindukanmu,” gumam Christine pelan, tapi jelas Peter masih bisa mendengarnya dan ia semakin merapatkan pelukannya.
“Aku hampir gila karenamu.”
“Bukan salahku.”
“Haruskah kita membalasnya sekarang? Aku masih merindukanmu.”
Christine tersenyum dalam pelukan Peter, “Aku mencintaimu.” gumam Christine lagi.
“Tapi kau meninggalkanku.” rajuk Peter.
“Tapi kau yang tiba-tiba menghilang bahkan tidak menghubungiku sama sekali, membuatku berpikir kalau kau melupakanku.”
“Aku tidak akan pernah bisa melupakanku, kau sudah membawa setengah kehidupanku. Jadi jangan tinggalkan aku lagi.”
Christine mengeratkan pelukannya pada Peter, ia tahu Peter juga mencintainya dan masih akan selalu mencintainya.
“Dan jangan meragukanku lagi.” gumam Peter pelan dan serak.