
Raja Ampat, Papua, Indonesia.
Peter baru saja selesai berdiskusi dengan client-nya mengenai proyek baru yang akan segera di garap sebelum akhir bulan selesai. Hanya saja kali ini berbeda dengan proyek-proyek selama ia bekerja diperusahaan milik ayahnya. Kali ini Peter mencoba untuk membuat sebuah resort di Raja Ampat.
Resort ini akan berbeda dengan resort-resort lainnya, karena hal spesial dari resort ini yaitu makna liburan benar-benar ditanamkan. Resort ini tidak akan menyediakan akses internet, bahkan akan digunakan sebuah alat untuk menghalau segala jaringan internet.
Peter memang memilih ke Raja Ampat untuk memenuhi kesepakatannya dengan Kevin yang menyuruhnya 'liburan' dadakan di luar benua Amerika. Dari kesepakatan itulah akhirnya ia memutuskan untuk membangun sebuah resort.
Dan di sinilah dia sekarang, Raja Ampat, Papua, Indonesia. Dan yang terpenting, tempat ini berada di Asia dan cukup jauh dari benua Amerika.
Peter menghela napas panjang. Sudah dua hari ia berada di tempat ini. Sudah dua hari juga ia tidak mendengar kabar Christine. Ia bahkan jarang sekali mengecek ponselnya karena tempat yang saat ini ia datangi sangat minim sinyal, dan hanya di tempat-tempat tertentu saja bisa mengakses sinyal.
Tempat ini membuat Peter menjadi lebih dekat dengan alam, membuat ia bisa berpikir dengan jernih, membuat ia bisa memastikan dan menentukan sesuatu dengan jelas. Membuat ia semakin yakin bahwa ia benar-benar mencintai Christine.
Dan saat ini, ia sudah sangat merindukan gadisnya. Ia merindukan Christine sampai rasanya ingin mati saja. Kesepakatannya dengan Kevin membuat Peter hampir gila karena tidak bisa menerima kabar dari Christine sama sekali.
Ini baru dua hari tapi Peter merasa seperti sudah melewati waktu selama dua abad. Tidak ada gunanya mempunyai ponsel, laptop dan lain sebagainya di tempat ini. Semuanya percuma karena tempat ini susah sinyal. Hanya ada TV sedangkan Peter sendiri tidak terlalu suka menonton TV.
Kegiatan yang dilakukannya selama di sini pun sangat monoton. mulai dari pagi hari ia bangun tidur, lalu pergi olahraga, sarapan, berenang, jalan-jalan di pinggir pantai, makan siang, tidur siang, mandi, makan malam, lalu kembali tidur. Rutinitas ini sudah berlanjut selama dua hari dan Peter sangat bosan.
Peter tidak bisa menikmati 'liburan'nya ini dengan tenang. Ia merasa kalau ia sedang berada di luar angkasa ataupun di pulau yang tak berpenghuni, semuanya terasa hambar.
Tapi yang lebih menyakitkan lagi adalah ia merasa hampa tanpa menerima kabar tentang Christine. Jika dulu ia msih bisa menyewa detektif untuk memantau kegiatan Christine maka kali ini hanya bisa diam tanpa melakukan apa-apa.
Peter termenung di balkon kamarnya. I baru beranjak ketika seseorang mengetuk pintu kamarnya. Peter berjalan keluar dan mendapati seorang pelayan hotel sudah berdiri di depan pintu.
"What's wrong?" tanya Peter mengangkat sebelah alisnya.
"Someone named Hana calling you in receptionist, sir"
"Ok." katanya lalu mengikuti pelayan lelaki itu setelah sebelumnya menutup pintu kamarnya, dan tak lupa ia membawa ponselnya meskipun juga tidak ada gunanya.
"Ada apa Hana?" tanya Peter begitu ia sudah sampai di meja resepsionis dan menerima panggilan Hana.
"Sir, apakah liburan Anda menyenangkan?" Tanya Hana berbasa-basi.
"Kau meneleponku hanya untuk bertanya itu?"
Peter teringat kalau ia memang menyuruh Hana untuk mencari arsitek ternama untuk merenovasi rumah masa depannya bersama Christine. Setelah ia dan Christine menikah, mereka akan menempati rumah itu. Harapannya.
Namun, ayahnya benar-benar membuat ia jengkel. Meski Peter sudah mengatakan kalau ia tidak akan memberikan rumah itu pada ayahnya, tapi lelaki tua itu sangat keras kepala.
"Oh. untuk renovasi lakukan secepat mungkin Hana, dan aku meminta padamu untuk memantau renovasi itu langsung. Renovasi itu benar-benar harus sesuai dengan yang aku inginkan."
"Baik sir."
"Dan mengenai permintaan ayahku, tolong kau sampaikan lagi padanya kalau aku tetap pada pendirian ku." kata Peter mulai kesal. "Apa ada lagi?"
"Tidak ada sir."
"Ba-" belum sempat Peter menyelesaikan kalimatnya, ia bisa merasakan ponselnya bergetar lama menandakan ada panggilan masuk, ah ia mengingat kalau di sekitar meja resepsionis ini terdapat sinyal.
Peter meraih ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya. Tanpa menyelesaikan kalimatny, ia langsung saja menutup telepon dari Hana. Memandangi nama yang tertera di layar ponselnya cukup lama.
"Christine." Tanpa sadar ia menggumamkak nama yang tertera di layar ponselnya.
Peter ingin sekali mengangkat panggilan Christine itu, amat sangat ingin. Tapi ia kembali teringat kesepakatannya dengan Kevin.
"Sabarlah Christine sayang, setelah minggu ini selesai kau akan segera menjadi milikku. Selamanya." gumamnya kemudian me-reject panggilan Christine kemudian mematikan ponselnya dan kembali ke kamarnya.
Peter tidak tahu apa yang sedang terjadi tapi ia cukup, mungkin bukan cukup, tapi sangat penasaran mengapa Christine tiba-tiba menghubunginya. Tidak biasanya gadisnya itu akan menghubunginya terlebih dahulu apalagi setelah kejadian yang terakhir, di mana Peter memutuskan untuk break sementara.
Itu bukan sesuatu yang mudah, membiarkan orang yang kau cintai berpikir kembali tentang keraguan yang sedang dirasakannya dan kau membiarkannya bukan meyakinkannya.
Peter yakin Christine sedang butuh waktu sendiri untuk sejenak berpikir dan meyakinkan dirinya sendiri sebelum akhirnya Peter datang dan memberinya keyakinan yang lebih kuat.
Peter menghela napas panjang. Ia merasa sedikit frustasi, lelah, lesu, lemah, lunglai dan hampa tanpa Christine.
Hanya tinggal tiga hari lagi dan ia akan segera pulang ke New York dan langsung menjemput Christine. Bahkan kalau bisa, ia akan langsung melamar Christine saat itu juga.
"Bersabarlah, hanya tinggal beberapa hari lagi." gumam Peter menguatkan diri.