
Peter menutup matanya. Sejenak ia berpikir bagaimana caranya agar bisa mendapat restu dari Kevin.
Peter yakin kalau Kevin tidak akan dengan mudah memberinya restu. Mungkin lelaki itu tidak akan pernah memberikannya restu.
Kevin satu-satunya penghalang, ia bisa hidup bahagia dengan Christine di masa depan nanti. Sialnya, lelaki itu adalah kakak kesayangan Christine.
'Ah, Christine. Kira-kira apa yang sedang dilakukan oleh kekasihnya itu sekarang?'
Tadi siang setelah Peter mengatakan kalau Kevin akan menjodohkannya pada lelaki lain, Peter tahu Christine sudah tidak fokus lagi. Gadisnya itu langsung meminta pulang. Peter sadar kalau Christine memang tidak tahu apa-apa tentang perjodohan itu. Setelah Christine ngotot ingin pulang, Peter akhirnya mengangguk dan mengantarkan Christine sampai gerbang depan rumahnya saja. Peter sampai mendengus kesal kala teringat kalau saat ini hubungan mereka sedang disembunyikan dari keluarga Christine.
Ah, ia jadi merindukan Christine.
Peter melirik arlojinya. Hampir pukul tujuh malam, sepertinya Christine akan makan malam sebentar lagi. Mungkin ia bisa mengajak kekasihnya itu makan malam bersama malam ini. Ia akan mencoba peruntungannya.
Peter mengambil ponselnya yang ada di atas nakas lalu membawanya ke atas tempat tidurnya. Sambil berbaring, Peter mencari nomor Christine lalu menekan tombol memanggil.
Ia menunggu beberapa saat sampai seorang sudah dirindukannya menerima panggilannya.
"Halo..."
Peter memejamkan matanya, menikmati suara lembut dari seberang yang mampu menghancurkan ego dan harga dirinya sebagai seorang lelaki most wanted yang tidak pernah memohon pada seorang perempuan.
"Aku merindukanmu." ucap Peter pelan. Ia menyadari kalau dirinya memang sudah jatuh cinta pada gadis di seberang.
Terdengar suara kekehan dari seberang. Peter bisa membayangkan bagaimana gadisnya ini akan terlihat sangat menggemaskan.
"Kita baru berpisah beberapa jam yang lalu.."
Peter bisa membayangkan kalau saat ini Christine sedang tersenyum tipis. "Memang, tapi aku sudah merindukanmu sekarang.." kata Peter dengan jujur.
"Gombal! Dasar perayu ulung!"
"Aku tidak gombal sayang, aku benar-benar merindukanmu," sanggah Peter.
"Hmm, aku juga merindukanmu. Ngomong-ngomong kau sedang apa?"
"Sedang meneleponmu." jawab Peter santai. Ia terkekeh pelan membayangkan kalau saat ini Christine tengah merona. Buktinya gadisnya itu langsung mengalihkan pembicaraan.
"Sudah makan?"
"Semua makanan terasa hambar kalau kau tidak menemaniku makan."
"Yang penting kau sudah makan, masalah hambar atau tidak itu tidak penting."
"Hmm kau tega sekali padaku.." Peter merajuk namun hanya dibalas dengan kekehan geli dari seberang.
"Kau sendiri sudah makan? Atau mau makan malam bersamaku? Aku tidak masalah makan malam sekali lagi selama itu denganmu."
"Aku sedang dalam perjalanan menuju tempat makan,"
jawaban Christine membuat Peter langsung menegang.
"Dalam perjalanan? Kenapa tidak makan di rumah saja?" tanyanya was-was.
"Kakak mengajakku makan di luar bersama temannya,"
"Teman? Apa itu laki-laki yang akan dijodohkan denganmu?" tanya Peter dengan degup jantung yang tidak karuan.
Jangan sampai apa yang ada dipikirannya benar-benar terjadi. Tidak, tidak Peter benar-benar berharap kali ini. Namun sayangnya sepertinya harapan Peter tidak terjadi begitu iya mendengar gumaman sebagai jawaban dari Christine.
Wajah Peter langsung berubah dingin, "Di restoran mana?" tanyanya.
"Tidak usah menghawatirkanku, aku akan selalu untukmu,"
Peter tahu gadisnya itu sedang berusaha menenangkannya. Tapi bagaimana ia bisa ditenang di situasi seperti ini? Kekasihnya akan makan malam bersama lelaki lain. Jangan bercanda!
"Aku tanya di restoran mana?!" desis Peter tajamĀ dan tidak sabar, membuat Christine menghela napas panjang.
Apapun yang berusaha dikatakan Christine entah kenapa tidak bisa membuat Peter lebih tenang. Apalagi mengingat kalau saat ini gadisnya itu akan makan malam dengan lelaki yang dijodohkan dengannya.
Ingat, makan malam bersama calon jodoh. Peter tidak akan pernah rela.
Lagipula tidak menutup kemungkinan kalau Christine tidak tertarik pada lelaki itu bukan, mengingat Peter yang pernah menyakitinya dengan sangat dalam. Sial!
______________
Christine menutup ponselnya setelah mengatakan nama restoran yang akan didatanginya. Ia menghela napas lelah.
"Kekasihmu?" tanya Kevin yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Christine.
"Sudahlah putuskan saja dia." ucap Kevin santai membuat Christine langsung memandangi kakak lelakinya itu.
'Apa kakak sudah tahu?' batin Christine resah
Christine menyusul Kevin yang berjalan mendahuluinya, mereka masuk ke dalam restoran dan salah seorang pelayan langsung menghampiri mereka.
"Reservasi atas nama siapa tuan?" tanya pelayan itu sopan pada Kevin.
"Erick Hobbs."
"Baik. Mari silahkan ikut saya, tuan Hobbs sudah menunggu." kata pelayan itu ramah lalu berbalik dan berjalan menunjukkan meja Erick Hobbs.
Christine bisa melihat lelaki itu sedang mengamati jalanan yang ada diluar melalui kaca bening yang ada di sebelah lelaki itu. suasana sangat gelap di luar restoran, jalanan juga sepi, hanya satu dua kendaran yang melintas.
Erick Hobbs, pembalap Moto GP yang paling diminati oleh kaum hawa. Sahabat kakaknya yang dekat dengannya yang kebetulan juga pernah disukainya dulu. Namun sikap yang ditunjukkan lelaki itu padanya hanyalah rasa sayang seorang kakak pada adiknya, bukan sebagai lelaki yang jatuh cinta pada seorang perempuan.
Tapi apa ini? Kakaknya menjodohkannya dengan lelaki yang hanya menganggapnya adik. Lelaki yang dahulu pernah menolak rasa sukanya. Membawa perempuan lain sebagai kekasih di hari ulang tahunnya yang ke 15 beberapa tahun yang lalu.
Erick menoleh pada mereka dan langsung berdiri. Lelaki itu tersenyum lembut padanya sebelum beralih pada Kevin. Tidak banyak yang berubah pada wajah lelaki itu. Saat ini bahkan terlihat lebih maco dan manly. Dan paling penting lelaki itu masih tampan.
Kevin berjalan lebih cepat dan langsung memeluk Erick sahabatnya.
"KEVIN!!"
"ERICK!!"
Mereka berpelukan sambil menepuk-nepuk punggung masing-masing.
Christine menyusul dibelakang Kevin, Erick yang melihat Christine sudah dekat dengannya segera melepaskan pelukannya dari Kevin dan mengulurkan tangannya pada Christine.
"Hai Christine, kau semakin cantik." katanya lembut lalu mencium punggung tangan Christine. Dan Christine hanya tersenyum kaku tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Erick menatap Christine lama sambil tersenyum membuat Christine terdiam. Untungnya Kevin menyadari perubahan kikuk adiknya itu.
"Sudah, ayo duduk." kata Kevin yang langsung di tanggapi oleh Christine dengan menarik tangannya dari tangan Erick. Membuat Erick mau tidak mau juga langsung duduk di depan Christine dengan Kevin yang duduk di sebelah Christine.
"Bagaimana kabarmu Christine?" tanya Erick memulai dialog.
"Kabarku baik kak." jawab Christine pelan.
"Kau ingin makan apa?" tanya Kevin pada Christine.
"Samakan dengan kakak saja."
"Minumnya?"
"Aku sedang ingin minum coklat panas."
"Hanya itu?"
"Hmm."
Erick mengangkat sebelah tangannya dan seorang pelayan mendatangi meja mereka. Setelah menyebutkan pesanan masing-masing pelayan tersebut kemudian meninggalkan meja mereka.
"Jadi bagaimana kuliahmu?" tanya Erick yang ditujukan pada Christine namun bukan perempuan itu yang menjawab melainkan Kevin.
"Dia akan wisuda semester ini, jadi kau harus datang," jawab Kevin santai.
"Benarkah? Kabari saja nanti, aku pasti akan datang." kata Erick santai. Sesekali ia melirik Christine yang masih diam.
"Perasaanku saja atau sekarang Christine memang lebih pendiam?" tanya Erick kali ini terus menatap Christine.
"Tidak juga, mungkin karena kalian sudah lama tidak bertemu jadi ia malu." kata Kevin.
"Benarkah?" tanya Erick memastikan kemudian tersenyum, "Sayang sekali padahal aku merindukan Christine kecil, yang selalu menggangguku dan mengikuti ku kemanapun aku pergi." ucap Erick menggoda Christine kemudian terkekeh geli.
Berbeda dengan Christine yang saat ini sudah memerah karena malu, ia malu mendengar kalimat Erick barusan.
Memang benar dulu ia sering sekali mengganggu Erick. Mengikuti kemana pun lelaki itu pergi. Selalu berusaha dekat dengan Erick jika lelaki itu datang ketumahnya. Namun mendengar Erick sendiri yang mengatakan sendiri bagaimana kelakuannya dulu membuatnya malu. Malu dalam artian malu yang sebenarnya.
"Sudah Erick jangan menggoda adikku. Ngomong-ngomong bagaimana tanggapanmu?" tanya Kevin.
Sebelum Erick menjawab pertanyaan Kevin, seorang pelayan menghampiri meja mereka dan mulai meletakkan makanan yang tadi dipesan oleh mereka. Setelah pelayan itu pergi, mereka mulai memakan pesanan mereka.
"Jadi bagaimana?" Kevin mengulangi pertanyaannya lagi, membuat Erick dan Christine langsung menoleh padanya.
"Aku sih sudah jelas setuju dan menerima Christine dengan senang hati, tapi semuanya tergantung pada Christine." kata Erick santai.
Christine langsung tersedak mendengar ucapan Erick. Bersamaan dengan itu ponselnya berbunyi menandakan pesan masuk.
Christine langsung mengecek ponselnya dan benar saja pesan itu dari Peter yang berbunyi:
'Katakan kalau kau menolaknya, jangan terima!'