
Kevin melipat kedua tangannya diatas meja kerjanya. Pandangannya kosong, pikirannya sedang mengarah ke ayahnya. Dari tadi sikap ayahnya ini sangat mengganggunya. Ayahnya seperti sedang berusaha menyembunyikan entah tentang apapun itu darinya.
Akhir-akhir ini ia menjadi sedikit curiga kepada ayahnya. Entah kenapa ia merasa kalau akhir-akhir ini ayahnya menyembunyikan sesuatu darinya. Setiap kali ayahnya menerima panggilan dari seseorang, ayahnya selalu menghindar dari orang-orang termasuk dirinya. Tapi, itu tidak ke semua nomor melainkan hanya satu nomor saja, kenapa ia tahu? Bagaimana ia tidak tahu dering nomor itu berbeda dengan yang lainnya.
Tapi siapa sebenarnya yang menghubungi ayahnya sampai-sampai harus menghindari semua orang termasuk dirinya? Apa ayahnya punya masalah besar sehingga ayahnya harus diam-diam menerima panggilan dari orang itu? jika memang benar begitu, maka Kevin jelas tidak akan diam saja membiarkan ayahnya menghadapi masalah sendirrian.
Namun jika dipikir-pikir lagi ayahnya tidak mungkin memiliki musuh yang akan menimbulkan masalah besar bukan? Karena jika memang ada masalah, ayahnya pasti akan langsung menyuruh dirinya untuk sementara waktu mengurusi perusahaan. Bukan seperti ini. Lalu apa yang sedang berusaha disembunyikan ayahnya?
Apa yang menghubungi ayahnya adalah Christine?
“Kenapa kau melamun?” tanya seseorang membuyarkan lamunannya, Kevin melirik malas ke arah Erick yang sedang berjalan ke arahnya. Kevin hanya diam dan tidak berniat sama sekali menjawab pertanyaan Erick.
“Kau mendengarku? Hallo? Kevin kau masih hidup?” Erick melambai-lambaikan telapak tangannya di hadapan Kevin, membuat lelaki itu kesal.
“Singkirkan tanganmu dari wajahku!” kata Kevin kesal sambil menyingkirkan telapak tangan Erick yang berada tepat di hadapannya. Benar-benar menggangunya!
Erick hanya terkekeh kecil mendengar nada kesal Kevin, “Jadi kenapa kau melamun? Aku bahkan tadi menggedor pintu itu tapi kau tetap tidak mendengarnya” Erick menunjuk pintu ruangan Kevin yang besar.
“Aku sedang berpikir,”
“Aku tahu! Tapi apa yang sedang kau pikrikan sampai sampai alismu mengkerut seperti itu?”
“Ayahku,”
Erick mengerutkan keningnya, tumben sekali seorang Kevin memikirkan ayahnya? Erick kemudian tersenyum tipis,
“Tumben sekali kau memikirkan ayahmu? Apa sekarang kau berubah untuk lebih perhatian pada ayahmu, mengingat selama ini kau lebih terlihat seperti anak durhaka yang setelah mati sudah pasti masuk neraka.”
“Tidak juga, aku cukup sering memikirkan ayahku. Lagipula kenapa kau harus tahu seberapa aku memikirkan ayahku! Dan aku tidak pernah menjadi anak durhaka sialan!” Kevin mendengus kesal karena Erick.
“Benarkah? Mungkin aku saja yang kurang tahu tentang itu,” Erick kemudian terkekeh.
“Ngomong-ngomong sedang apa kau kemari?”
Raut muka Erick seketika berubah membuat Kevin mengernyitkan dahinya, “Ada apa?” tanya Kevin penasaran.
Kevin semakin mengerutkan keningnya penasaran “Kabar apa?”
Raut wajah Erick kembali berubah datar dan terkesan santai membuat Kevin semakin mendengus kesal.
“Kalau kau tidak ingin mengatakan apa-apa kurasa kau bisa pu-”
“Aku mendengar kabar kalau seseorang sudah menemukan Christine dan menghubungi Peter,”
“Apa katamu!!”
“Apa?”
“Seseorang tahu Christine dimana dan yang pertama kali orang yang mengetahuinya adalah si sialan Peter?”
“Mereka memang pasangan serasi.”
“Diam Erick.”
“Apa? aku hanya mengatakan pendapatku.”
“Diam! Kurasa kau bisa pulang sekarang.”
Erick hanya terkekeh kecil, “Sebelum aku pulang bisa aku bertanya sesuatu?”
Kevin menatapa Erick seolah berkata ‘apa?’
“Kenapa kau mencurigai ayahmu?”
Kevin menghela napas “Aku tidak mencurigai ayahku, aku hanya merasa kalau ayahku tahu Christine ada dimana,”
Erick hanya membentuk huruf O kemudian berbalik dan meninggalkan Erick yang terdiam dan kembali ke pemikirannya. “ Apa kali ini ia harus merelakan Christine pada Peter?” gumamnya.