
Peter melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Membelah jalanan kota New York yang tidak pernah sepi. Kota yang dijuluki sebagai kota yang tidak pernah tidur. New York adalah pusat bisnis negara Amerika. Itulah sebabnya kota ini akan selalu ramai meskipun malam hari. Akan selalu ada orang-orang yang berlalu lalang di jalanan. Baik pagi, siang, sore, malam, subuh dan kembali lagi ke pagi hari. Selalu sama, orang-orang tetap sibuk bekerja.
Peter berhenti saat lampu lalu lintas menyala berwarna merah. Ia mengamati setiap orang yang menyeberang jalan dengan cepat, seakan mereka semua terburu-buru. Peter melirik jam rolex-nya, jarum pendek itu berada diantara angka satu dan dua. Setengah dua siang. Tapi semua orang berjalan seakan takut terlambat datang ke tempat kerja.
Peter melajukan lagi mobilnya setelah lampu lalu lintas berwarna hijau. Ia menepikan mobilnya di depan toko bunga. Peter turun dari mobilnya dan berjalan ke dalam toko. Beberapa pegawai toko terpesona melihat ketampanan Peter yang masih ber-stelan kantor. Memakai jas mahal namun tidak menggunakan dasi, membuatnya terlihat santai dan menggoda sekaligus karena kancing kemeja atasnya yang terbuka.
"A-ada yang bisa kami bantu sir?" tanya seorang pegawai toko mendekati Peter yang tengah melihat-lihat bunga. Pegawai itu terlihat gugup.
"Aku ingin membeli bunga untuk kekasihku." kata Peter dengan senyum manis. Sangat kentara kalau ia tergila-gila pada kekasihnya.
Pegawai perempuan itu mengangguk mengerti kemudian mengambil sebuah bunga mawar dan menunjukkannya pada Peter.
"Ini adalah mawar merah sir, biasanya seseorang memberikan mawar merah kepada pasangannya untuk menunjukkan betapa pasangannya itu sangat berharga dan spesial untuknya. Mawar merah juga biasa diberikan sebagai tanda cinta pada pasangannya." jelas pegawai itu sambil tersenyum.
"Begitu ya? Berikan aku mawar ini lima puluh tangkai. Tolong dihias."
"Baik sir, silahkan tunggu sebentar." ucap pegawai perempuan itu kemudian pergi menyiapkan pesanan Peter.
Peter berjalan-jalan kembali untuk melihat bunga-bunga yang bermekaran. 'cantik' pikirnya. Mungkin kecantikan itulah yang mendasari kenapa banyak sekali perempuan suka dengan benda hidup yang satu ini.
Setelah puas melihat bunga-bunga yang cantik itu, Peter berjalan ke ujung toko yang terdapat tempat duduk. Ia memilih duduk sambil menunggu bunga pesanannya.
Beberapa saat setelah ia duduk, ponselnya bergetar. Peter membuka pesan masuk tersebut dan sirat amarah seketika menguasainya. Pesan itu berisi gambar Christine yang sedang makan siang sambil bercengkrama akrab dengan Max, ya Max sang mantan.
Jelas, seorang laki-laki tidak akan suka melihat gadis incarannya kembali dekat dengan mantan kekasihnya.
Hubungan Chriatins dengan Max memang sudah selesai, tapi tetap saja lelaki itu pernah mengisi hati dan hari-hari Christine. Ditambah lagi, posisi Peter saat ini bisa dibilang tidak menguntungkan, karena Christine masih jelas membencinya.
Pesan gambar itu dikirim oleh Allen. Allen sendiri mendapatkan gambar itu dari Lexy. Meski saat ini Lexy sudah mendukung Peter. Tapi kekasih sahabatnya itu masih terus memancing emosi Peter salah satunya dengan mengirimkan foto seperti ini. Peter benar-benar kesal dengan kelakuan Lexy.
Setelah cukup lama menunggu, pegawai toko itu kembali menghampiri Peter dan mengatakan kalau pesanannya sudah siap. Peter menganggukkan kepalanya, berjalan ke kasir dan membayar pesanannya sekaligus mengambilnya.
Peter kembali ke mobilnya dan mengemudikannya menuju kampus untuk bertemu gadisnya.
Peter memarkirkan mobilnya disebelah gerbang masuk, ia sengaja tidak masuk karena tahu Christine hari ini tidak bawa mobil. Informasi itu juga Peter dapatkan dari Lexy melalui Allen.
Peter bersandar di mobilnya sambil memainkan ponselnya. Peter terlihat sangat tampan, dengan kemeja putih. Ia menggulung lengan kemejanya setengah lengan, kancing atas kemejanya ia biarkan terbuka. Peter mengacak sedikit rambutnya membuat ia terlihat sedikit berantakan namun sangat menggoda iman. Ia juga juga menggunakan kacamata hitam untuk menghalau sinar matahari yang sangat terang mengenai matanya secara langsung.
Dan tidak menunggu waktu lama ketika kaum hawa mulai mengerubunginya.
------------
Christine baru saja selesai kelas yang terakhir untuk hari ini. Setelah selesai membereskan buku-bukunya ia berjalan keluar ruangan. Christine melihat beberapa perempuan berjalan ke arah gerbang dengan buru-buru. Christine penasaran dengan orang-orang itu. Memangnya ada apa di gerbang kampus?
Tapi meskipun penasaran, Christine tetap tidak mau ambil pusing dengan mereka semua. Christine mengambil ponsel di dalam tasnya. Ia mencari-cari kontak untuk di hubungi, namun sebelum ia memencet tombol call, Lexy sudah lebih dulu merangkulnya membuatnya terkejut.
"Damn Lexy! What the hell is wrong with you!" sentak Christine dengan nada jengkel.
Lexy hanya nyengir melihat Christine yang jengkel.
"Maaf. Btw kau mau pulang?" tanya Lexy dengan cengirannya.
"Lalu kau kira aku kemana kalau jadwalku sudah selesai hari ini!" Christine menatap Lexy yang selalu membuatnya semakin kesal. Yang ditatap justru masih nyengir tidak jelas.
"Berhentilah tersenyum seperti itu Lexy, kau seperti orang gila."
"Kau pulang dengan siapa? Aku tidak melihatmu membawa mobil tadi pagi."
"Sepertinya dengan kakakku, tadi pagi dia bilang akan menjemputku."
Christine men-scroll kembali ponselnya. Setelah menemukan kontak yang dia cari, ia langsung menekan tombol call. Terdengar panggilan masuk beberapa kali sebelum akhirnya dimatikan. Membuat kening Christine mengkerut. Beberapa saat kemudian ponselnya bergetar, sebuah pesan dari Kevin yang mengatakan kalau ia masih rapat dan menyuruhnya pulang dengan taxi.
"Naik taxi? Apa kau yakin?"
"Iya. Memangnya kenapa?"
"Tidak usah naik taxi, seseorang akan dengan senang hati mengantarmu pulang," ucap Lexy sambil tersenyum.
Christine mengernyit tidak mengerti. Siapa yang dengan senang hati akan mengantarnya? Belum ia bertanya pada Lexy, perempuan itu sudah lebih dulu berbicara padanya.
"Ia sudah menunggumu di depan gerbang kampus. Kau mau aku mengantarmu?" Tawar Lexy.
"Tidak usah, aku akan tetap pulang dengan taxi." ucap Christine mantap dan langsung meninggalkan Lexy.
Christine keluar gerbang melihat banyak perempuan mengerubungi sesuatu, namun ia tidak bisa melihat apa yang nereka kerubungi.
Christine terus berjalan lurus dan melihat kalau ternyata yang sedang dikerubungi itu adalah Peter. Dan bukan hanya itu, di depan Peter berdiri seorang perempuan yang sepertinya tengah merayunya.
Badan Christine memanas melihat perempuan itu bergelayut manja pada Peter dihadapan banyak orang. Perempuan itu adalah Caroline. Perempuan yang membullynya beberapa bulan lalu.
Christine sedikit merasakan sesak dibagian dadanya melihat Peter tersenyum pada Caroline. Jujur ia masih membenci Peter, tapi di dalam lubuk hatinya ia juga masih mencintai lelaki jahat itu. Tapi biarlah, Peter bukan urusannya lagi.
Berbeda dengan Christine yang berjalan lurus, Peter justru menangkap bayangan gadisnya lewat di belakang kerumunan gadis-gadis gila yang mengerubunginya melalui celah celah badan mereka.
Christine yang menyadari Peter melihatnya, langsung berjalan mempercepat langkahnya menuju halte. Shit! kenapa aku gugup lagi seperti ini? Christine benar-benar kesal melihat banyak perempuan yang menggoda Peter.
Christine tersentak ketika seseorang menarik tangannya. Ia langsung menoleh dan mendapati kalau Peter lah yang sudah menarik tangannya.
"Kenapa buru-buru?" tanya Peterlembut.
Christine menghentakkan tangan hingga terlepas. "Bukan urusanmu!" ucapnya dingin.
"Lihatlah wanita murahan itu, sombong sekali" pekik seseorang dari belakang Peter membuat mereka -ia dan Peter- menoleh.
Caroline berjalan dengan angkuhnya dan langsung mendekap lengan Peter begitu ia sudah berdiri di sebelah Peter.
"Sayang kenapa kau mengejarnya? Bukankan kau sudah MEMBUANGNYA dulu?" Caroline menekankan kata itu sambil menatap tajam Christine.
Christine sangat muak melihat tingkah Caroline. Benar setelah kejadian wisuda itu, Caroline senantiasa membully-nya selama lebih dari satu bulan. Caroline berhenti membulinya karena Lexy dan Allen yang notabene sahabat Peter berada dipihak Christine.
Dan satu lagi jangan lupakan kalau Kevin turun tangan mengancam Caroline karena telah membully adiknya. Tanpa sepengetahuan Christine tentunya.
Peter tersenyum pada Caroline membuat wanita itu merasa menang, sampai kemudian Peter berbicara dan membuatnya marah.
"Justru aku kesini untuk menemuinya." ucap Peter santai sambil melepas dekapan Caroline dengan kasar.
Christine hanya diam mendengar ucapan Peter barusan. Ia berusaha mengeraskan egonya, agar lelaki itu tidak mudah masuk kedalam hidupnya lagi.
Peter menghampiri Christine dan menarik tangan Christine untuk mengikutinya.
Christine mendesah pelan lalu mengikuti Peter. Ia melirik Caroline yang sudah mengepalkan tangannya siap memukulnya. Tapi bisa dipastikan kalau wanita itu tidak akan berani memukulnya di depan banyak orang, terlebih lagi di depan Peter.
Peter membukakan pintu untuk Christine, tapi sebelum Christine masuk, ia menatap Peter dengan tajam. Peter hanya membalasnya dengan tersenyum lembut.
Dengan berat hati, Christine akhirnya masuk ke mobil Peter dan Peter segera melajukan mobilnya dengan perasaan bahagia.
*note:
maaf guys updatenya lama. Aku lagi kurang sehat jadi butuh istirahat. btw semoga kalian suka sama part ini yaa.
sayang kalian ❤*