He Is My Bad Boy

He Is My Bad Boy
44. Plan?



Christine membuka matanya perlahan, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya mtahari yang menyentuh wajahnya. Christine menggerakkanbtangan kanannya, mencari ponselnya. Setelah dapat, ia segera menyalakannya siapa tahu ada pesan ataupun notifikasi dari Peter. Tapi Christine harus menahan rasa kecewa karena harapannya berujung sia-sia.


Christine bangun dari tempat tidurnya, berjalan menuju dapur untuk mengambil air. Tadi malam ia lupa membawa air minum karena merasa sangat lelah.


Begitu membuka lemari pendingin, ia melihat sebuah cake dan langsung teringat kalau tadi malam Kevin baru kembali dari Manhattan.


Selesai minum, Christine segera berlari menuju kamar Kevin. Sayangnya bukn Kevin yang ia temui.


“Di mana kakakku?” tanya Christine pada pelayan yang sedang merapikan tempat tidur kakaknya itu.


“Tuan muda ada di ruang kerjanya Nona.”


Tanpa menunggu lagi, Christine segera berjalan menuju ruang kerja Kevin dan mengetuk pintu. Christine menunggu cukup lama tapi tidak ada sahutan sama sekali sehingga membuatnya sedikit bingung.


“Apa kakakku ada di dalam?” tanya Christine pada salah satu pelayan yang kebetulan berjalan melewati ruang kerja Kevin.


“Tuan ada di dalam Nona. Tadi beliau langsung masuk ke dalam setelah turun dari kamarnya.”


Christine mengangguk lalu kembali mengetuk ruang kerja Kevin. Namun kali ini tanpa menunggu sahutan dari dalam, ia langsung saja membuka pintu itu dan berjalan masuk. Dan yang dilihat Christine ketika ia sudah di dalam ruang kerja itu adalah pemandangan di mana sang kakak  sedang termenung di meja kerjanya.


Pantas saja dari tadi ia mengetuk pintu tidak ada sahutan, ternyata kakaknya tidak mendengar karena sedang termenung. Kevin baru kembali tadi malam setelah tiga hari berada di Manhattan untuk menemui Peter. Itu adalah kesepakatan antara dirinya dengan sang kakak. Kevin akan membujuk Peter untuk menemuinya.


Christine melangkah mendekati Kevin, “Kak.” panggilnya pelan.


“Kak!” panggilnya lagi, namun lagi-lagi sang kakak tetap diam seakan ia hanya berada seorang diri di ruangan itu.


“Kakak!!” sentak Christine sedikit berteriak, dan barulag ia mendapat  sahutan dari Kevin dan itu adalah teriakan kaget.


“Demi dewa Neptunus Christine, kau mengagetkanku!” bentak Kevin karena terkejut.


“Aku sudah dari tadi memanggilmu kak!” kata Christine kesal.


“Kenapa tidak mengetuk pintu?”


“Ada apa?” tanya Kevin.


“Kakak sudah bertemu Peter kan? Apa katanya?” tanya Christine membuat Kevin terdiam sesaat.


Sial! pikir Kevin.


"Tadi malam kau baru pulang makan malam dengan calon suamimu dan sekarang kau membahas tentang Peter?"


"Tapi kakak sudah berjanji padaku!"


“Kakak tidak bertemu dengannya, ia sedang keluar negeri,” jawab Kevin bohong dan ia harus menelan pil pahit begitu melihat ekspresi sedih Christine. Double shit!


“Benarkah? Kemana?” tanya Christine. Sungguh ia sangat kecewa. Entah kepada dirinya yang terlalu berharap atau Kepada Peter yang kembali menyakitinya.


“Ke tempat antah berantah yang bahkan tidak ada sinyal.” lagi-lagi Kevin harus berbohong dan kali ini ia harus melihat Christine meneteskan air mata. Tripple shit.


Kenapa adiknya ini sangat mencintai lelaki brengsek seperti Peter sih? batin Kevin jengkel.


“Sudahlah Christine, kau akan menikah dengan Erick hari sabtu nanti. Berhentilah memikirkan Peter, aku bahkan ragu kalau lelaki itu memikirkanmu sekarang.”


Kevin merutuki dirinya karena harus berbohong lagi, yang ada dalam benaknya saat ini sungguh sangat berbeda dengan yang dikatakan mulutnya. Kevin tahu betul kalau Peter si sialan itu, yang sayangnya juga sangat mencintai adiknya, akan selalu memikirkan Christine.


Sial! Ia kembali merasa bersalah.


Christine mengangguk dengan murung, “Aku akan kembali ke kamar.” katanya lalu berbalik meninggalkan Kevin yang semakin merasa bersalah. Sebenarnya ada apa dengannya? Kenapa ia merasa bersalah padahal rencananya sudah berhasil?!


“ARRRGGGHHH!! SIALAN”


Kevin terlalu banyak mengumpat hari ini dan juga hari-hari sebelumnya. Ia mulai ragu pada rencananya sendiri!