He Is My Bad Boy

He Is My Bad Boy
29. I love you?



Christine mengarahkan pandangannya mencari orang yang sudah sangat dirindukannya. Tidak butuh waktu lama untuk bisa menemukan seseorang yang dia cari karena orang itu adalah pusat perhatian kaum hawa yang ada di kafe.


Christine tersenyum lebar. Jantungnya berdetak kencang. Perasaan bahagia melingkupinya kala melihat Peter sedang duduk tenang. Mengacuhkan para perempuan yang berusaha menarik perhatiannya. Tidak tertarik sama sekali pada setiap wanita yang memberanikan diri mengajaknya berbicara. Peter hanya duduk diam dengan sesekali menyesap kopi yang ada di hadapannya.


Christine berjalam mendekat dan langsung duduk di depan Peter dan meraih tangan Peter yang saat ini sedang bermain di bibir cangkir yang berisi cappucino latte, kesukaannya.


Sentuhan itu membuat Peter mendongak dan tersenyum lembut ke arah Christine. Menggenggam erat tangan yang sebelumnya hanya menyentuh tangannya.


Tanpa melepas tangan Christine, Peter bangkit berdiri dan berjalan ke arah Christine. Christine mengerti maksud Peter, ia menggeser duduknya dan memberi tempat untuk Peter duduk di sebelahnya. Setelahnya lelaki itu duduk di sebelahnya dan memeluknya dengan erat.


"Aku hampir gila karena merindukanmu," kata Peter lembut namun sarat akan rasa frustasi.


Christine tersenyum lebar dan membiarkan Peter yang memeluknya semakin erat. "Aku juga merindukanmu," kata Christine lembut. Mengelus lengat Peter yang tengah memeluknya.


Peter melonggarkan pelukannya sambil memegang bahu Christine, menatap mata cantik gadisnya dengan intens. Dalam tatapannya, ia tengah mencoba untuk menahan emosinya.


"Lalu kenapa kau mengabaikan ku selama beberapa hari belakangan ini, babe?"


Christine menatap manik mata Peter. Mereka memang sangat suka menatap mata satu sama lain, tempat di mana tidak akan ada kebohongan yang bisa disembunyikan, dan Christine melihat kegelisahan di mata Peter.


Christine tersenyum mengelus rahang Peter dengan lembut. "Bukan hal penting Peter, aku saja yang terlalu berpikir keras sehingga mengabaikanmu."


"Memangnya apa yang membuatmu berpikir keras itu?" tanya Peter ingin tahu, sesuatu hal yang tidak penting dan membuat Christine berpikir keras dan sekaligus mengabaikannya.


"Hanya sebuah pertanyaan dari Allen, atau mungkin bisa juga menjadi sebuah pernyataan." kata Christine, namun berbeda dengan Peter yang semakin terlihat ingin tahu.


Jadi bukan masalah perjodohan sialan yang direncanakan Kevin yang membuat Christine mengabaikannya, tapi apa yang Allen katakan sehingga membuat Christine berpikir keras dan mengabaikannya, membuat hubungan mereka merenggang selama hampir seminggu. Allen sialan!


Sebelum Peter bertanya lagi, Christine mengangkat tangannya membuat seorang pelayan cafe berjalan menuju ke arahnya, menyerahkan buku menu kepada Christine. Pandangan Peter tidak lepas dari Christine barang sedetikpun, ia memperhatikan gerak-gerik Christine dengan tersenyum.


Namun berbeda dengan Christine yang risih karena pelayang wanita itu memandang Peter sangat lekat. Terlihat sangat jelas kalau ia menginginkan Peter.


Christine butuh beberapa waktu untuk menyadarkan pelayan cafe itu agar menulis pesanannya. Tak lama setelahnya, ia mendesah lega karena pelayan itu sudah pergi.


Christine kembali menatap Peter yang ternyata juga masih menatapnya.


"Jadi apa?" tanya Peter masih tetap menatap lekat mata Christine.


Christine mengernyit. "'apa' apanya?"


"Jadi apa yang dikatakan Allen padamu?"


"Eh,.." Christine tergagap dan sedikit gelisah. Ia berusaha mengalihkan pandangannya dari mata Peter ke arah bawah menuju cangkir cappuchino latte milik Peter.


"Christine, cangkir itu tidak lebih tampan dariku." kata Peter menarik wajah Christine agar kembali menatapnya.


kalimat Christine berhenti ketika pesanannya datang, ia menatap ke arah pelayan cafe itu yang tengah meletakkan pesanannya. Setelahnya ia meminum mocachino latte lalu menatap Peter yang terlihat sangat sabar menunggu penjelasannya.


"Lalu?" tanya Peter santai.


"Lalu apa? Sudah hanya itu saja." kata Christine.


"Apa? Hanya karena pertanyaan itu kau mengabaikan ku?!" tanya Peter tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Ia bingung dan sangat tidak mengerti. Tidak percaya karena Allen bahkan hanya bertanya. Sial! Ia sangat emosi sekarang.


"Iya, dan pertanyaan itu cukup menggangguku," kata Christine pelan.


"Dan apa kata Kevin mengenai hubungan kita?" tanya Peter datar setelah berhasil mengendalikan emosinya. Namun sepertinya pengendaliannya tidak bertahan lama setelah mendengar jawaban yang keluar dari bibir Christine.


"Kakak masih belum mengetahui tentang hubungan kita," kata Christine ragu dengan mata yang menatao jarinya, ia tidak berani menatap mata Peter lagi.


Mata peter menggelap, rahang lelaki itu mengeras ia berusaha berbicara sedatar yang ia bisa disaat emosinya sudah di ubun-ubun.


"Lalu mau sampai kapan kau akan merahasiakan hubungan kita dari keluargamu?!" geramnya tertahan.


"Aku masih belum tahu.." Cicit Christine sambil menunduk. Sejujurnya ia sangat takut saat ini, apalagi Peter sedang menahan emosinya. Apa Christine sudah pernah bilang kalau Peter sangat menyeramkan saat sedang emosi?


"Ku harap kita tidak akan berpisah," kata Peter datar. Suaranya terdengar lelah dan kesal.


Christine langsung mendongak menatap mata berwarna abu-abu milik Peter dengan dalam. "Apa maksudmu?" tanyanya tergagap. Tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Siapa tahu kau sengaja merahasiakan hubungan kita dan menerima perjodohan dari kakakmu." kata Peter dingin.


"A-apa m-maksudmu? Perjodohan apa?" mata Christine sudah berkaca-kaca hendak menangis. Tidak mengerti apapun. Kenapa Peter tiba-tiba berkata mengenai perpisahan dan perjodohan?


Peter menatap manik mata Christine dengan intens, "apa kau tidak tahu kalau Kevin mau menjodohkan mu?"


Christine menggeleng dengan cepat. Tidak tahu. Ia tidak tahu sama sekali.


Peter menghela napas panjang, lalu menatap Christine dengan lembut.


"Kevin ingin menjodohkan mu dengan temannya, aku benar-benar berharap kalau kau tidak akan menerima perjodohan itu Christine,"


Christine menggeleng dengan cepat. Menatap Peter lembut membuat lelaki itu sedikit tenang.


"Tidak, aku tidak akan menerima perjodohan itu untukmu, aku hanya mencintaimu."


Peter tersenyum mendengar kalimat Christine "Aku juga mencintaimu, sangat."