He Is My Bad Boy

He Is My Bad Boy
28. Backstreet



Pesawat yang di tumpangi Peter mendarat dengab mulus di John Kennedy Internation Airport. Hari masih gelap menyambut kedatangannya yang beberapa kali menghela napas lesu. Peter melirik arlojinya, masih pukul 03:47 am. Terlalu pagi jika langsung menemui Christine.


Peter memesan taksi untuk mengantarnya ke apartemen Allen. Sambutan Allen benar-benar sudah diprediksinya ketika ia sampai.


"Seriously Peter?! Matahari bahkan belum menampakkan diri!"


Peter tersenyum tipis. Sudah menduga kalau Allen akan membentaknya, terlebih lagi ini masih subuh. Sahabatnya ini pasti masih tertidur pulas ketika ia dengan tidak sabaran memencet bel dan menggedor pintu apartemennya.


"Jadi kenapa kau kesini?" Allen menatap tajam ketika Peter berjalan dengan santai menuju sofa.


"Aku akan menemui Christine siang nanti." katanya. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa lalu memejamkan mata.


"Demi para dewa, Peter!! Kenapa kau ke tempatku kalau kau ingin menemui Christine, sialan?! Kau mengganggu tidurku!" Teriak Allen emosi.


Peter menghela napas rendah. Masih dengan mata terpejam, ia bersuara, "Aku tidak tahu mau ke mana, jadi aku memutuskan ke sini." katanya.


"Kau punya apartemen sendiri! Orang tuamu juga punya mansion di sini! Kenapa harus ke tempatku?!"


Peter membuka mata dan menatap Allen yang saat ini terlihat seperti ingin menelannya hidup-hidup. Rasanya tubuh Peter semakin lelah mendengar bentakan protes Allen padanya.


"Aku sedang tidak ingin sendiri. Tidurlah, aku tidak akan mengganggumu."


Raut wajah Allen yang semula tambah keras secepat itu berubah menjadi datar. Sahabatnya itu menghembuskan napas dan tanpa berbicara lagi langsung berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Peter kembali memejamkan matanya. Mencoba mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Rasanya ia juga ingin marah, terlebih lagi soal perjodohan Christine. Kenapa di jaman yang sudah sangat canggih, terutama di negara yang sudah maju dan berpikiran bebas ini, masih ada yang ingin menjodohkan anaknya? Sungguh tidak masuk akal.


Sial! Semakin dipikirkan semakin membuat kepala Peter sakit. Memejamkan mata akan membuat ia kembali berpikir lagi. Peter akhirnya membuka matanya dan mengubah posisinya menjadi duduk. Ia meremas rambutnya sarat akan rasa lelah.


Ia sudah tidak bisa kembali tidur, jadi memutuskan untuk ke pantry dan membuat secangkir kopi untuk menemani subuhnya.


Setelah kopinya jadi, Peter membawa kopi itu ke ruang tamu. Peter membuka gorden hingga ia bisa melihat pemandangan New York yang masih gelap yang hanya ditemani oleh lampu-lampu. Peter menunduk menatap pemandangan jalanan kota yang mulai ramai.


Peter menyesap kopinya. Pikirannya kembali melayanh jauh. Christine dan alasan yang tidak pentingnya. Peter tertawa dalam hati. Apa mungkin perjodohan Christine benar-benar tidak penting? Atau dirinya yang tidak penting untuk di beritahu?


Pikiran Peter semakin kacau. Memikirkan Christine bersama lelaki lain benar-benar menyebalkan. Terlebih lagi lelaki yang adalah teman kecilnya. Memikirkan Cristine yang akan dijodohkan membuat kepala Peter berdenyut nyeri. Terlebih lagi kalau membayangkan kekasihnya itu bersama laki-laki lain membuat ia kesulitan bernapas.


Peter sangat lelah. Beberapa hari lalu setelah menyudahi panggilan dari Christine, ia sengaja menyibukkan diri dengan bekerja sampai larut. Ia bekerja sangat keras sampai-sampai ayahnya Josh sudah siap pensiun dan menyerahkan jabatannya ke Peter saat itu juga. Hanya dalam beberapa hari, Josh semakin yakin kalau Peter bisa menangani perusahaan dengan baik, dan ia bisa istirahat menikmati masa tua dengan tenang.


Setelah selesai dengan pekerjaannya, Peter sama sekali tidak bisa beristirahat. Kelelahan setelah kerja keras bagai kuda itu tidak bisa membuat ia beristirahat dengan tenang. Pikiran mengenai perjodohan Christine selalu menghantuinya dan hampir mengacaukan kewarasannya.


________


Christine membuka matanya ketika matari sudah muncul dan tersenyum padanya. Senyumnya mengembang kala mengingat kalau hari ini ia akan bertemu dengan Peter. Seperti menemukan air di padang gurun, rasa rindu pada Peter samudah tidak bisa di bentung lagi. Beruntungnya, kekasihnya itu adalah lelaki yang pengertian. Sebelum ia mengatakan rasa rindunya, Peter sudah lebih dulu mengatakan akan menemuinya.


Yeah, walau beberapa hari belakangn ini, tepatnya setelah Peter memutuskan sambungan panggilannya, Lelaki itu tidak lagi menghubunginya. Allen bilang, Peter tengah sibuk untuk meyakinkan para pemegang saham untuk menggantikan ayahnya.


Christine yakin Peter sangat lelah. Dan di sela-sela kelelahan lelaki itu, Peter masih meluangkan waktu untuk menemuinya.


Setelah selesai bersiap-siap, Christine berjalan keluar. Menuruni tangga, berjalan lurus menuju garasi. Hari ini ia melewatkan breakfast di rumah karena akan b**reakfast bersama Peter.


Mereka akan bertemu di cafe dekat kampus. Christine sudah tidak sabar untuk menemui Peter, ia merindukan lelaki itu. Cukup sulit sebenarnya untuk mengabaikan Peter selama beberapa hari ini, hanya saja ia juga takut pada Peter. Lelaki itu sangat menyeramkan jika marah.


Christine membuka pintu mobilnya ketika suara Kevin mengitrupsi, membuatnya berbalik.


"Kau mau kemana?"


Christine terdiam selama beberapa saat, tidak mungkin ia jujur pada kakaknya kalau ia akan menemui Peter, kekasihnya. Kevin mungkin akan langsung mengambil kunci mobilnya dan mengurung dirinya di kamar. Tidak membiarkan ia menemui Peter.


"Ke kafe. Sudah janji." Christine berusaha berbicara santai agr Kevin tidak curiga.


"Oh, tapi sore nanti kau sudah harus di rumah. Malam ini aku mau mengajakmu bertemu seseorang. Sekalian makan malam di luar."


"Orang yang sama dengan yang kakak maksud beberapa hari yang lalu?"


"Iya, jadi jangan pulang malam." kata Kevin sedikit menekan kalimatnya


"Kak, bukankah aku bilang kalau aku masih sibuk?" Dengus Christine kesal. Ia sudah lama tidak bertemu Peter. Ia merindukan kekasihnya itu. Bagaimana mungkin ia bisa pulang malam, saat ia sendiri tidak ingin pulang.


"Kau sibuk apa? Sudah pergi sana, jangan membuat Lexy menunggu lama. Ingat sore nanti kau sudah harus pulang." Kevin kembali menekankan kata-katanya.


Christine bergumam tidak jelas, ini benar-benar menyusahkan!


Begitu memasuki mobil, desah napas lega keluar dari mulutnya. Untunglah kakaknya berpikir kalau saat ini ia akan bertemu dengan Lexy.


Hubungannya dengan Peter masih harus disembunyikan terutama dari kakaknya, Kevin.