
Christine berjalan masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. Ia ingin segera bertemu dengan kakaknya. Dengan langkah cepat, ia berjalan menuju kamar Kevin. Ia masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Rasa jengkel mulai memenuhi kepalanya. Bukan Kevin yang ia temukan di dalam kamar melainkan seorang pelayan.
"Di mana kakakku?" tanya Christine. Berusaha sebaik mungking menghilangkan intonasi kesal di suaranya. Jangan sampai pelayan yang sedang membersihkan kamar itu takut padanya. Tidak tahu apa-apa tapi malah kena semprot darinya.
"Tuan muda berada di taman belakang nona." Kata pelayan itu sambil menunduk.
Christine mengangguk dan segera berjalan menuju taman belakang. Taman tempat kesukaan ia dan Kevin bermain saat masih kecil dulu. Langkah kaki Christine memelan. Ia menatap Kevin sedang menelpon seseorang dengan raut wajah serius. Samar-samar Christine bisa mendengar apa yang diucapkan oleh Kevin kepada lawan bicaranya di seberang.
Christine menghentikan langkahnya saat ia sudah bisa mendengar pembicaraan Kevin dengan. Ia tidak berusaha menginterupsi ataupun mendengarkan dengan sembunyi-sembunyi.
"Aku sudah mengatakannya, saat ini Christine sedang keluar." kata Kevin pada seseorang yang diteleponnya.
"Tenang saja nanti malam kalian juga akan bertemu, kurasa dia juga merindukanmu." kata Kevin lagi.
Christine tersenyum kecut mendengar kalimat terakhir kakaknya. Ia juga yakin kalau orang yang ditelepon itu adalah orang yang akan dijodohkan dengannya. Setelah Kevin mematikan ponselnya, Christine berjalan mendekat.
"Kak." panggilnya.
Kevin berbalik dan menatap Christine dengn mata membesar. Mungkin terkejut karena panggilannyayang tiba-tiba. Namun tidak berlangsung lama karena Kevin langsung tersenyum.
"Kau sudah pulang?" tanya Kevin yang dijawab dengan anggukan oleh Christine.
Christine lalu berjalan ke arah kursi gantung dan duduk di sana. Menatap Kevin yang ikut menyusulnya.
"Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Kevin ketika mereka sudah duduk bersebelahan.
Christine terdiam sejenak. Lalu menatap Kevin. "Apa aku boleh bertanya pada kakak?" tanyanya.
Kevin menatapnya dengan raut wajah bingung. "Sebelumnya kau tidak pernah bertanya dulu sebelum bertanya. Ada apa?"
"Aku ingin kakak menjawabnya dengan jujur." Christine mengubah posisinya menjadi menghadap Kevin.
"Apa kakak berencana menjodohkanku?" tanya Christine setelah Kevin mengangguk tanpa ragu.
Begitu pertanyaan itu meluncur, Kevin tersenyum penuh arti padanya.
__________________
Peter berjalan lurus memasuki apartemen Allen. Sahabatnya itu sedang bersantai di depan tv. Meliriknya sebentar lalu kembali fokus pada filmnya. Peter mendesah kasar lalu menjatuhkan tubuhnya di sebelah Allen, membuat sahabatnya itu mendengus sebal.
"Ada apa denganmu? Kau membuat sofa ku rusak!"
Peter memutar bola matanya mendengar ocehan Allen yang menurutnya hanya bualan semata. Dia tidak seberat itu untuk membuat sofa harga ribuan dollar rusak hanya dengan sekali menjatuhkan diri.
Mengabaikan ucapan Allen, ia langsung menatap sahabatnya itu tajam. "Apa yang kau sembunyikan dariku?" tanyanya.
Allen menatapnya dengan mata memicing. "Apa maksudmu? Memangnya apa yang ku sembunyikan darimu?"
"Tunggu, aku benar-benar tidak mengerti. Memangnya apa yang ku sem-"
"Tentang Kevin." Peter memotong kalimat Allen.
Allen yang tadinya memang tidak mengerti, seketika terdiam beberapa saat. Sepertinya sudah mengerti maksudnya. Sahabatnya itu menghela napas panjang, sebelum mulai berbicara.
"Aku tidak tahu kau tahu dari mana, tapi yang jelas Kevin tahu mengenai insiden wisudamu dulu yang melibatkan adik kesayangannya."
Peter menatap Allen dengan mata yang membulat. Kalimat itu sukses membuatnya bagai tersambar petir. Ternyata ia tidak hanya menyakiti Christine, tapi juga kakak lelaki gadisnya itu.
"Kau tahu kan bagaimana hancur dan malunya Christine saat itu? Aku bahkan tidak bisa menemukan kata-kata untuk sekedar menggambarkannya. Yang jelas, Christine hancur. Dan sehari setelahnya, aku dan Lexy mengantarnya pulang ke mansion ayahnya."
Peter menatap Allen yang tersenyum mengejek padanya. Ya, Peter tahu itu perbuatan dan kesalahannya. Dan dia tidak memiliki pembelaan untuk membenarkan perbuatannya saat itu. Sial, bahkan setelah berbulan-bulan, rasa sesak di dadanya masih terasa sama setiap kali mengingat perbuatan jahatnya pada wanita yang saat ini sangat dicintainya. Karma memang benar adanya.
"Entah bisa disebut keberuntungan atau kesialan, saat kami mengantarnya, Kevin ternyata sudah menunggunya di depan gerbang. Saat kami mengantarnya, saat itu mata Christine masih bengkak karena masih menangisi kebodohannya yang jatuh cinta padamu. Kevin melihat mata bengkak Christine tapi dia hanya diam. Setelahnya aku tidak tahu apa-apa lagi. Yang jelas dari raut wajahnya, ia terlihat sangat murka. Satelahnya Christine tidak datang ke kampus selama seminggu."
"Setelah akhirnya Christine kembali ke kampus, masalah kembali datang. Dia di bully oleh Caroline dan teman-temannya. Sialnya Kevin melihat kejadian itu. Dia melihat Christine di bully, tapi lagi-lagi hanya diam. Dia mengamati Christine yang dibully dari jauh."
"Apa kau masih ingin mendengar lanjutan ceritanya?" tanya Allen.
Peter menatap Allen dengan kaku. Tidak tahu apakah ia sanggup mendengar kelanjutan cerita itu. Rasanya Peter seperti mendengar rentetan dosa-dosanya. Tapi tanpa diperintah kepalanya malah mengangguk dengan pelan, membuat Allen kembali melanjutkan ceritanya.
"Kevin ternyata juga melihatku membela Christine. Siangnya lelaki itu mengajakku bertemu dan mencoba mengorek informasi dariku. Kevin tahu aku tidak akan memberinya informasi apapun, jadi ia bertanya pada Lexy. Kau tahu kan setelah insiden wisudamu, Lexy adalah musuh garis kerasmu? Dia mengatakan semuanya pada Kevin. Semuanya tanpa terkecuali, termasuk hubungan satu malammu dengan Caroline." Kata Allen.
"Setelah mendengar semuanya dari Lexy, Kevin langsung bergerak. Lelaki itu benar-benar membencimu dude. Ia sangat bersyukur saat tahu kau pindah ke Manhattan. Ia tidak akan membiarkanmu kembali pada Christine."
"Sebenarnya saat aku mendengar berita kalau kau sudah balikan dengan Christine, aku tidak kaget karena aku tahu dari awal kalian memang sudah saling mencintai. Tapi karena dendam bodohmu itu kau membuat semuanya kacau." Allen mendengus kesal.
"Seharusnya mulai sekarang kau tahu apa yang harus kau lakukan, aku yakin kau tidak akan melepaskan Christine lagi. Aku juga tahu kau sangat mencintainya jadi kau harus tunjukkan pada Kevin kalau kau bisa membuat adiknya itu bahagia, meskipun itu akan cukup sulit bagimu mengingat apa yang sudah kau perbuat pada Christine." kata Allen kemudian meninggalkan Peter yang masih diam.
Peter baru tahu tentang itu semua, ia tidak tahu kalau Christine bolos selama seminggu setelah kejadian itu padahal saat itu ia masih di New York. Ia juga tidak tahu kalau Caroline dan teman-temannya membully Christine.
Dan kalau dipikir-pikir, semuanya terasa menjadi meyakinkan sekarang. Kevin bukannya bersyukur ia pergi ke Manhattan, tapi lelaki itu memang penyebab ia berada di Manhattan. Dan mengenai Caroline, Peter semakin yakin Kevin lah yang membuat wanita itu masuk rumah sakit dulu.
Sial! Bagaimana ia bisa mendapatkan restu Kevin, kalau kakak tercinta kekasihnya itu malah ingin menghilangkannya?
Note
Tanya dong...
Ada nggak sih bagian yang bikin kalian bingung? Karena jujur aja, chapter yang ini menurutku kurang greget wkwkw menurut kalian gimana??
Boleh di share ya, biar aku bisa tahu kekukaranku di mana heheheh
Love,
Jusiana*