
Raut wajah malu terlihat sangat jelas di wajah Christine. Sedari tadi wanita itu berusaha menutupi wajahnya. Peter sediri hanya tertawa geli melihat tingkah Christine yang berusaha menyembunyikan wajahnya pada punggung Peter. Beberapa pegawai memang memperhatikan mereka terang-terangan.
Kening Peter mengkerut ketika mereka melewati meja resepsionis yang ada di lantai dasar. Entah kenapa ia merasa jika Christine berusaha berjalan mendahuluinya ataupun membiarkannya berjalan lebih dulu. Intinya wanita itu tidak mau bergandengan ataupun berjalan bersisian dengannya.
Ketika kedua resepsionis itu menyapa mereka Christine hanya tersenyum kaku. Tapi setelah itu Peter nyaris tertawa begitu mendengar resepsionis itu berkata kalau Christine sudah bertemu dengan sepupunya. Resepsionis itu sendiri mengucapkan itu dengan nada menggoda, membuat Christine hanya tersenyum kaku serta membuat Peter tahu kenapa dari tadi gadisnya ini berusaha menutupi wajahnya.
Peter masuk ke dalam mobil setelah menutup pintu untuk Christine. Kali ini bukan raut wajah malu yang ditunjukkan oleh Christine padanya, melainkan raut wajah kesal dan cemberut sambil memanyunkan bibirnya.
Peter tersenyum “Sebenarnya ada apa?”
“Tidak ada apa-apa.”
“Lalu kenapa kau cemberut seperti itu?” Peter berusaha tidak tertawa mendengar nada jengkel dari Christine.
Christine tidak menjawab dan tetap memasang raut wajah cemberutnya membuat Peter gemas melihatnya.
“Baby tell me what’s going on?”
“Apa kau tidak lihat kalau resepsionismu itu menggodaku?!”
“Memangnya kenapa mereka bisa menggodamu?”
Christine kembali diam tidak bersuara membuat Peter semakin gemas.
“Baby, tell me why?”
“Aku mengatakan pada mereka kalau kau sepupuku” gumam Christine pelan.
Peter yang sedari tadi sudah menahan tawanya, kali ini tawa itu langsung lepas tanpa beban. Ia sebenarnya memang sudah tahu karena tadi resepsionis itu sudah mengatakannya. Tapi mendengarnya langsung dari bibir Christine entah kenapa terasa sangat berbeda dan pastinya lebih lucu.
Christine menatap Peter yang masih tertawa. Ya Tuhan ia malu.....
“Bagaimana mungkin kau mengatakan pada resepsionis itu kalau aku sepupumu? Lagipula kenapa kau berbohong seperti itu? Mereka sudah tahu kalau kau kekasihku”
“Aku takut kalau aku mengatakan pada mereka, mereka tidak akan percaya dan malah mengusirku. Lagipula mana aku tahu kalau mereka sudah tahu!”
Peter terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya paham. “Sekarang semua orang yang ada di kantor sudah tahu kalau kau adalah kekasihku dan sebentar lagi kau akan menjadi istriku”
Christine tersenyum manis mendengarnya, ia juga ingin menjadi istri Peter.
“Peter,”
“Hmm?”
“Apa menurutmu aku kekanak-kanakan?”
Peter mengerutkan keningnya “Kenapa bertanya seperti itu?”
“Karena aku selalu bersikap egois dan labil”
“Baby you are not like what you say. Kau tidak egois, terkadang kita memang harus memikirkan diri sendiri sebelum mulai memikirkan orang lain. Hubungan kita memang sedikt rumit jadi wajar membuatmu merasa egois karena kau tiba-tiba pergi dan menghilang.”
“Aku tidak menghilang, ayahku tahu kalau aku pergi”
“Tapi ia tidak tahu kau pergi kemana”
Christine diam seribu behasa, Peter benar ia pergi dan tidak ingin diganggu siapapun termasuk ayahnya. Egois sekali, padahal selama ia pergi ayahnya tetap mengiriminya uang tapi dengan egoisnya ia tetap tidak memberitahukan keberadaannya, meskipun William sudah bertanya berkali-kali.
“Ternyata aku memang egois, apa kau masih mau menikahi wanita egois sepertiku?” tanya Christine serak.
Peter langsung meminggirkan mobilnya dan menatap Christine terkejut, ada apa lagi sekarang? Ia meraih tangan Christine dan sebelah lagi ia menarik kepala Christine agar menatapnya.