
“Baby kenapa bertanya seperti itu?”
“Aku egois Peter, Aku menerima tawaran kak Erick untuk bertunangan denganku, lalu aku menghilang seperti yang kau katakan, aku bahkan tidak mempedulikan ayahku yang mengkhawatikanku.” Christine menangis tersedu-sedu “Aku terlalu egois”
Peter tidak tahu harus bagaimana sekarang, sepertinya tadi ia salah berbicara. “Baby, kita baru saja bertemu, bahkan baru beberapa jam yang lalu. Aku tidak ingin membicarakan hal seperti ni yang hanya membuatmu ragu lagi padaku.”
“Christine dengarkan aku, aku tidak akan pernah melepasmu lagi. Aku sudah merencanakan masa depanku denganmu, dan berhentilah bersikap seperti ini aku sudah memikirkan hal ini sudah dari dulu, jadi aku sudah sangat yakin menikahimu.”
Christine lagi-lagi melihat kesungguhan di mata Peter tapi kali ini ia juga melihat sarat frustasi, sebenarnya apa yang baru saja ia lakukan? Lagi-lagi ia bersikap egois. Ia tidak boleh egois lagi mulai saat ini dan detik ini juga.
Ia menganggukkan kepalanya mantap membuat Peter tersenyum dan mengusap kepalanya lembut.
Peter kembali melajukan mobilnya menuju kantor Kevin. Christine menatap Peter yang terlihat santai dan biasa-biasa saja berbanding terbalik dengannya yang saat ini sudah jantungan karena belum siap.
“Pe-peter,” panggil Christine kaku.
“Hmm,”
“Apa kita bisa menemui kakak besok-besok saja?”
Lagi-lagi lelaki itu mengerutkan keningnya “Memangya kenapa?”
“Aku punya sedikit masalah dengan kakak dan aku belum baikan dengannya sampai sekarang.”
“Kalau begitu nanti kalian berbaikan dulu, setelah itu aku akan membicarakan mengenai rencana pernikahan kita”
“Tapi permasalanku dengan kakaklah yang membuatku pergi,”
“Aku tahu,”
Christine menatap Peter terkejut “Kau tahu?”
“Tentu saja, kakakmu bahkan menyuruhku pergi ‘liburan’ ke tempat yang tidak punya sinyal. Ia menyuruhku pergi selama seminggu karena kau akan bertunangan dengan Erick di hari sabtu. Ia menyuruhku untuk tidak mencari informasi tentangmu selama aku pergi.”
Christine semakin terkejut “Dan kau melakukannya?”
“Tapi aku tidak jadi bertunangan dengan kak Erick,”
“Aku tahu, aku mengetahuinya setelah memukuli mereka berdua” Peter tersenyum kecil.
“Mereka berdua?”
“Kevin dan Erick”
Christine langsung menutup mulutnya kerena kaget dengan pernyataan Peter barusan. Dan tepat setelah mengatakan itu mobil mereka berhenti di depan kantor Kevin.
Peter keluar dari mobil terlebih dahulu sebelum membukakan pintu untuk Christine.
“Kau memukul kakak dan kak Erick?” tanya Christine masih tidak percaya.
“Tentu saja, mereka sudah menipuku” Peter terlihat sangat santai dan tanpa beban mengatakan hal tersebut. “Ayo masuk.”
_________________________________
Kevin baru saja menutup teleponnya. Ia menerima kabar kalau Christine sudah sampai di New York beberapa jam yang lalu, dan saat ini adiknya itu sedang bersama Peter.
Kevin menghela napas rendah, kenapa orang pertama yang harus didatangi oleh Christine adalah Peter? kenapa bukan dia ataupun ayah mereka?
Christine mungkin masih marah dan kecewa padanya, ia tidak sadar jika perbuatannya akan membuat ia dan Christine menjadi seperti ini.
Kevin kembali memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya ketika tiba-tiba asistennya mengetuk pintu dan mengatakan kalau ada tamu. Kevin mengerutkan keningnya seingatnya ia tidak ada tamu maupun janji dengan seseorang.
“Persilahkan masuk,”
Kevin mendongak melihat siapa tamunya dan ia cukup terkejut karena melihat orang yang selama ini dirindukannya dengan orang yang membuatnya kesal masuk bebarengan ke ruangannya.
Kevin mengehela napas rendah. “Ada apa?” tanyanya datar.