He Is My Bad Boy

He Is My Bad Boy
23. Jealous



Maapkeun eui uploadnya lama. Btw sekarang ku sudah sembuh jadi sudah bisa up lagiii 🤭🤭🤭


------------------------------------------


Mereka berjalan di pinggir taman. Peter selalu mencoba menggenggam tangan Christine agar bisa berjalan sejajar, sayangnya Christine selalu bergerak menjauh setiap kali Peter berusaha mendekat.


Setelah selesai makan siang di sore hari, Peter tetap tidak mau mengantar Christine pulang. Ia berusaha menahan Christine agar tinggal lebih lama dengannya.


Peter memiliki sejuta alasan agar tetap bisa bersama Christine. Seperti alasan mengapa mereka berada di taman. Lelaki itu mengatakan kalau ia sangat ingin ke taman, walau hanya sebentar karena ia sangat merindukan taman yang berada di tengah kota New York ini. Peter bahkan tidak memperdulikan protes Christine yabg tidak ingin bersamanya.


Christine kembali berjalan mendahului Peter ketika lelaki itu menyusulnya. Christine tidak ingin berjalan sejajar dengan Peter.


Peter mendesah jengkel. “Christine sampai kapan kau akan berjalan seperti itu? Apa kau tidak lelah?” tanyanya frustasi. Peter tidak bisa menyembunyikan kalau saat ini ia sudah jengkel dengan kelakuan Christine yang berjalan bersisian dengannya.


Christine tidak menanggapi ucapan Peter dan terus berjalan menjauhi lelaki itu. Setelah berjalan cukup jauh, Christine menemukan bangku kosong lalu memutuskan untuk duduk di bangku itu. Menikmati matahari yang tenggelam di antara bangunan-bangunan tinggi. Christine sendiri tidak sadar kalau Peter juga sudah duduk di sebelahnya ikut mengamati matahari tenggelam.


“Christine.” panggilnya lembut.


"Hmm?” Christine hanya menggumam. Ia bahkan tidak menoleh dan tetap menikmati indahnya senja di antara bangunan pencakar langit di tengah kota New York.


Peter memutar tubuhnya menghadap Christine. Christine sendiri masih tetap fokus menikmati senja yang kini sudah mulai menghilang. Sinar oranye dari matahari yang hanya tinggal setengah membuat Christine terlihat sangat cantik di mata Peter.


“Apa kau marah padaku?” tanya Peter menatap wajah cantik Christine.


Christine menoleh menatap Peter. “Kenapa memangnya?” tanyanya balik. Tidak ada raut wajah senang maupun sedih di sana. Hanya wajah datar saja.


“Aku merasa kalau kau memang sengaja menjauhiku.” kata Peter pelan tanpa ekspresi.


Wajah Peter bergerak mendekati wajah Christine. Hidung mereka nyaris bersentuhan. Dan itu sukses membuat jantung Christine berdetak tak karuan.


“Christine.” panggil Peter lembut.


“Hmm?” Christine bergumam tertahan. Ia berusaha untuk menjauh. Nalurinya berkata bahwa kedekatan mereka saat ini ‘berbahaya’. Tapi tetap saja entah karena apa tubuhnya tidak bisa bergerak.


Christine seperti terhipnotis dengan tatapan Peter yang dalam dan intens. Jika sebuah jantung bisa meledak, maka sudah dipastikan kalau jantung Christine akan meledak saat ini juga.


“Apa kau membenciku?” tanya Peter lagi. Lelaki itu semakin mendekatkan wajahnya. Kali ini ujung hidung mereka sudah berhasil bersentuhan.


"Bagaimana mungkin aku tidak membencimu setelah apa yang kau lakukan padaku?" Kata Christine pelan. "Kau mempermalukanku. Itu memang tujuan utamamu mendekatiku dari awal. Benar 'kan?"


Wajah Peter berubah sayu. Jika di awal ia merasa percaya diri, maka kali ini kepercayaan itu mulai runtuh.


"Apa benar-benar menyesal telah melakukan hal bodoh itu. Aku benar-benar minta maaf." Peter menjauhkan kepalanya dan menunduk. Sial, dadanya terasa sesak. Ia merasa sulit bernapas.


"Aku sudah memaafkanmu. Hanya saja setiap kali melihatmu, bayangan itu akan muncul lagi. Dan itu membuatku semakin membencimu."


"Apa yang harus aku lakukan agar kau bisa menerimaku kembali?" Peter menatap Christine yang saat ini tengah menatap langit yang sudah gelap.


"Jangan menemuiku lagi." Kata Christine datar tanpa menatap wajah Peter.


Peter kembali menunduk. Ia tersenyum miris. Betapa penyesalan itu memang menyakitkan. Seandainya dulu ia tidak sebodoh itu, mungkin saat ini ia masih bisa menggenggam tangan Christine. Mencium pipi wanita ini, tertawa berasama atau mungkin mereka sudah tinggal bersama di Manhattan.


Mungkin sekali atau dua kali mereka akan bertengkar, tapi Christine tidak akan membencinya sedalam ini. Apa ini artinya semua sudah terlambat.


"Tidak bisakah kau memberiku kesempatan kedua?" Tanya Peter pelan. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Peter memohon kesempatab pada seorang perempuan.


"Kesempatan agar kau bisa menyakitiku sekali lagi?" Tanya Christine sarkas namun suaranya pelan.


Peter langsung mendongak menatap Christine yang terlihat rapuh. Peter menggelengkan kepalanya.


"Kau sudah menyakitiku sekali, bukan tidak mungkin kau akan melakukannya lagi. Aku rasa ini terakhir kalinya kita bertemu. Jangan menemuiku lagi, Peter." Christine berdiri lalu meninggalkan Peter.


Peter mematung di tempatnya. Pandangnnya lurus menatap punggung Christine yang bergerak semakin menjauh. Tidak menemui Christine lagi? Peter tertawa sumbang. Itu satu-satunya hal yang tidak bisa ia lakukan. Dan Peter tidak akan mau melakukannya.


Dengan cepat Peter bediri dan berlari ke arah Christine. Tidak, Peter tidak bisa jika tidak bertemu Christine. Peter tidak bisa tanpa Christine di saat hatinya sudah terpaku pada gadis itu. Biarlah Christine membencinya, yang pasti Peter tidak mau hidup tanpa wanita itu.


Peter memeluk Christine erat begitu ia mencapai tubuh gadisnya itu. "Aku tidak bisa Christine. Aku tidak bisa menjauhimu seperti yang kau inginkan. Aku menginginkanmu. Jika kau memang tidak ingin melihatku lagi, maka lebih baik kau membunuhku saja."


Peter memeluk tubuh Christine semakin erat. Ia menjatuhkan kepalanya pada pundak wanita itu.


"Aku minta maaf, tapi aku benar-benar tidak bisa menjauhimu, sayang. Benci aku sesukamu tapi aku tetap tidak akan melakukannya." Kata Peter dengan suara bergetar. Kali ini Peter tidak akan melepaskan Christine lagi. Lebih baik ia dibenci dari pada menyesal di kemudian hari.


Dengan perlahan, Christine melepas lengan Peter yang memeluknya. Ia memutar tubuhnya menatap Peter yang menatapnya penuh tekad. Tekad untuk menjadikan Christine miliknya lagi.


"Kenapa lama sekali?" Christine memukul dada Peter dengan keras. Air matanya kembali mengalir membasahi pipinya.


Senyum Peter mengembang. Ya Tuhan, Peter benar-benar bahagia dan merasa lega sekaligus. Dalam sekli tarikan, Peter membawa Christine masuk ke dalam pelukannya. Ia mengecup puncak kepala gadisnya itu berkali-kali. Sedangkan Christine masih terus menangis sambil memukuli punggungnya.


"Pukul aku sepuasmu sayang. Luapkan rasa sakit hatimu padaku. Aku akan menerimanya, aku tidak akan menghindar karena dari awal ini memang kesalahanku." Peter terus memeluk tubuh Christine dengan erat.


Setelah merasa kalau Christine tidak lagi memukuli punggungnya, Peter menjauhkan tubuh mereka. Ia menatap wajah Christine yang merah karena air mata. Peter mengecup kelopak mata Christine dengan lembut.


“Kali ini aku akan memulainya dengan benar sayang. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi, kali ini aku hanya akan fokus pada kebahagiaanmu." Kata Peter lalu mengecup kening Christine dengan lembut.


Christine mengangguk.


Tanpa babibu lagi, Peter mengecup bibir Christine dengan lembut. Menciumnya dalam dan intens. Bibir Peter dengan lembut membelai seluruh bibir Christine. Peter menggigit bibir bawah Christine, membuat wanita itu mengerang.


“Open it.” ucap Peter di tengah-tengah ciuman mereka. Ia menarik dagu Christine pelan dan gadisnya itu menurutinya.


"Good girl." kata Peter dab setelahnya langsung memasukkan lidahnya ke dalam mulut Christine. dan membelai lidah Christine dengan lembut, sesekali menghisapnya membuat Christine kembali mengerang.


"P-Peter” ucapnya disela-sela ciuman mereka, Christine meremas rambut Peter dengan lembut, membuat lelaki itu semakin tidak bisa menahan diri.


Mereka berciuman di malam hari, senja sudah berlalu. Sebagian besar orang-orang yang berada di taman itu seakan tidak peduli dengan apa yang mereka lakukan. Mereka hanya melihat kemudian berlalu begitu saja.


Peter melepaskan ciuman mereka dengan napas terengah-engah. Peter melekatkan keningnya pada kening Christine.


"I Love you, baby." kata Peter lembut.


"I love you too." balas Christine lalu tersenyum lembut.


Peter balas tersenyum kemudian memeluk tubuh Christine erat, dan Chriatine juga balas memeluknya.


“Aku merasa ini seperti mimpi. Mimpi indahku menjadi nyata.” Kata Peter senang. Ia menghirup aroma rambut Christine.


Christine mengeratkan pelukannya yang dengn suka hati diterima Peter. Sudah lama Peter ingin menjadi tempat bermanja Christine. Rasanya sangat lengkap.


Dering ponsel Christine membuat Peter jengkel. Pasalnya Christine langsubg mendoring Peter menjauh sebelum mengambil ponselnya.


“Halo.” sapa Christine setelah menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.


Peter memperhatikan Christine yang tengah menelepon. Gadisnya ini memang sangat cantik, piki Peter. Peter kembali mendekati Christine. Memeluknya dengan posesif lalu mengarahkan kepalanya ke ponsel Christine untuk menguping pembicaraan gadisnya entah dengan siapa.


“Aku masih di luar, sebentar lagi aku akan pulang.” kata Christine membiarkan Peter menguping.


“Kau pulang dengan siapa? Naik apa? Apa perlu ku jemput?" tanya seorang dari seberang.


Suara laki-laki. Raut wajah Peter berubah masam. Ia menahan diri untuk tidak merampas ponsel gadisnya ini dan memaki siapapun yang di seberang sana.


“Tidak usah menjemputku, aku pulang diantar teman.” kata Christine dengan santai.


Sedangkan Peter saat ini sudah panas dingin mendengar pembicaraan, mengenai pulang dan jemput-menjemput. Apalagi kata ‘teman’ dari mulut Christine.


“Baiklah kalau begitu, aku akan menunggumu.”


“Tidak usah menungguku, duluan saja.” kata Christine dengan tersenyum, sedangkan lelaki yang saat ini memeluknya dari belakang sudah mendengus kesal.


“Kalau begitu, jangan pulang terlalu malam.”


‘perhatian sekali lelaki ini’ batin Peter kesal.


“Okay, sampai ketemu nanti.” Christine menutup panggilan itu kemudian berbalik menatap Peter yang saat ini menatapnya kesal.


“Ada apa?” tanya Christine heran.


“Tidak ada.” Balas Peter kesal. Hari pertama mereka baikan, Peter bahkan langsung cemburu.