He Is My Bad Boy

He Is My Bad Boy
38. She's not fine at all



Sudah dua hari sejak kejadian Peter dan Christine break. Selama dua hari pula Christine mengurung diri di dalam kamar dan membuat Kevin bingung apa yang terjadi pada adiknya itu.


Kevin bahkan tidak mengerti kenapa dua hari yang lalu Peter tidak jadi mendatanginya. Tapi ketika ia mau bertanya pada Christine, adiknya itu justru diam dan mengurung diri di dalam kamar. Tidak mau menjawab pertanyaannya sama sekali.


"Christine." panggil Kevin sambil sesekali mengetuk pintu kamar Christine. Tapi tetap tidak ada sahutan dari dalam.


"Christine!" panggil Kevin lagi namun kali ini dengan nada yang tinggi seperti membentak. Ia juga mulai mengetuk pintu kamar Christine dengan kasar.


Kevin masih mengetuk pintu kamar Christine dengan keras membuat sang empunya kamar kesal dan segera membuka pintu kamarnya dengan wajah masam.


"Ada apa kak?" tanya Christine dengan kesal.


"Apa yang sedang kau lakukan?"


"Tidak ada."


"Lalu kenapa kau selalu berada di kamar selama dua hari ini? Bahkan makananmu semuanya diantarkan ke kamar."


"Aku tidak apa-apa kak, aku hanya lelah."


"Lelah sampai berhari-hari, heh?"


"Sudahlah kak, intinya aku baik-baik saja."


"Kemana Peter? bukankah seharusnya dia menemui ku dua hari yang lalu?" tanya Kevin sambil mengamati perubahan ekspresi yang ditunjukkan oleh Christine.


Christine sendiri langsung diam begitu mendengar kalimat Kevin barusan. Ia juga tampak tidak bisa menjawab pertanyaan Kevin tersebut, Christine hanya menunduk dan Kevin langsung tersenyum miring. Tuh kan, lagi-lagi Christine tidak menjawab.


"Apa kalian sudah berpisah?" tanya Kevin santai.


"Kau tidak menjawab pertanyaan ku, jadi ku anggap diammu itu adalah jawaban 'ya' darimu," kata Kevin datar namun santai. "Baguslah kalau begitu, sudah tidak ada lagi pengganggu antara kau dan Erick kedepannya." lanjutnya, membuat Christine mendongak menatap Kevin tidak percaya.


"Apa maksud kakak?" tanya Christine dengan mata memicing.


"Karena sudah tidak ada pengganggu, aku memutuskan untuk mempercepat acara pertunanganmu dengan Erick."


"Kakak pasti bercanda!"


"Apa wajahku berkata kalau aku sedang bercanda?"


Christine mengamati wajah Kevin yang terlampau sangat serius. Sial!


"Tapi aku tidak mau kak!" sentak Christine.


"Lalu kau mau apa? Apa kau mau menunggu lelaki bodoh itu melamarmu? Bagaimana mungkin ia melamarmu sedangkan kalian saja sudah berpisah? Jangan menjadi perempuan bodoh Christine, kakak melakukan ini karena kakak tidak ingin melihatmu terluka lagi. Ini sudah kedua kalinya ia menyakitimu!" ucap Kevin tegas.


"Tapi kali ini berbeda kak, bukan Pe-"


"Sudahlah Christine, jangan mencari alasan dan membela si pengecut sepertinya. Intinya kalian sudah berpisah dan dia sudah meninggalkanmu." Kata Kevin memotong kalimat Christine dengan tajam. Tanpa menunggu jawaban Christine, Kevin langsung meninggalkan adiknha yang masih berdiri di depan kamarnya. Kevin sendiri sudah tidak bisa memaafkan Peter, ini adalah kesalah kedua yang dibuat oleh Peter pada Christine.


Setelah mempermalukan Christine di hadapan banyak orang, kali ini laki-laki sialan itu meninggalkan adiknya yang sudah sangat berharap padanya.


Benar-benar lelaki brengsek!


______________


Christine merasa bersalah karena keraguannya pada Peter diawal. Sekarang lelaki itu sudah kembali ke Manhattan tanpa pamit padanya. Ia tahu kalau Peter sudah berangkat ke Manhattan dari Lexy. Lexy mengatakan kalau Peter berangkat ke Manhattan sehari setelah kembali dari rumah Christine.


Lexy juga mengatakan kalau Peter saat itu terlihat sangat berantakan.


Baru dua hari Peter break darinya dan ia sudah sangat merindukan lelaki itu.


Christine mengambil ponselnya dan mencari kontak Peter. Ia hanya menatapnya lama, ia ingin sekali menghubungi lelaki itu tapi sayang ia tidak keberanian yang berani.


Christine beralih membuka galeri foto yang ada di ponselnya, ia men-scroll ke bawah dan menemukan foto-fotonya berdua dengan Peter. Foto mereka selfie saat di taman ketika mereka resmi berpacaran kembali, dalam foto itu, Peter memeluknya dari belakang sedangkan Christine mengambil gambar dari depan.


Ah, kenangan yang manis. Batinnya.


Christine masih senyum-senyum sendiri ketika seseorang mengetuk pintu kamarnya. Ia kemudian berjalan membuka pintu dan mendapati seorang pelayan.


"Ada apa?" Tanya Christine.


"Nona Lexy ada di bawah ingin bertemu dengan Anda."


Seketika Christine merasa aneh, tumben sekali Lexy menunggunya di ruang tamu. Biasanya, sahabatnya itu bahkan dengan tidak tahu malu langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Oke, aku akan turun."


Christine langsung menutup pintu kamarnya begitu pelayan perempuan itu pergi dan langsung turun ke ruang tamu untuk menemui Lexy.


Begitu sampai di bawah, Christine mendapati kalau Lexy sedang berbincang-bincang dengan Kevin tempat itu.


"Ehem!" gumam Christine mengganggu pembicaraan kedua insan itu.


Kevin dan Lexy serentak langsung mendongak begitu mendengar gumaman menginterupsi pembicaraan mereka. Lexy langsung tersenyum begitu melihat Christine.


"Baiklah akan meninggalkan kalian berdua." kata Kevin kemudian melangkah menuju ruang kerjanya.


"Tumben sekali." kata Christine pada Lexy, begitu Kevin menghilang dari balik pintu.


Lexy mengernyit tidak mengerti. "Tumben apa?"


"Biasanya kau langsung masuk ke kamarku jika datang, dan ini tumben sekali kau menungguku di ruang tamu." ucap Christine curiga.


"Ah, sebenarnya tadi aku juga ingin langsung menuju kamarmu, tapi aku bertemu dengan kak Kevin jadi dia mengajakku berbicara terlebih dahulu." kata Lexy menjelaskan.


Christine memicingkan matanya curiga, "Memangnya apa yang kalian bicarakan? Ini aneh, biasanya kau dan kakak kan jarang berbicara." ucap Christine dengan nada curiganya.


"B-bukan apa-apa, anyway aku ingin mengajakmu ke pantai. Kau mau?" tanya Lexy menetralkan dirinya dari kegugupan.


"Pantai?"


"Iya pantai, aku sedang butuh angin laut saat ini."


"Dan sepertinya aku juga sedang membutuhkan lautan setidaknya untuk mengalihkan pikiranku darinya."


Lexy memandang Christine cukup lama begitu sahabatnya itu selesai mengucapkan kalimatnya barusan. Ia tahu Christine tidak sedang baik-baik saja, ditambah lagi dengan apa yang dikatakan Kevin tadi, membuatnya yakin Christine tidak sedang baik-baik saja.