
Lexy mengendarai mobilnya cukup kencang dengan Christine yang duduk di kursi sebelahnya. Mereka menuju pantai yang terletak di Brooklyn di bagian Timur kota New York. Pantai ini cukup indah dan bersih. Jadi cukup nyaman jika ingin bersantai.
Brighton Beach, pantai yang lumayan terkenal. Jika mendatangi pantai ini di hari libur musim panas, maka tidak akan ada tempat untuk berdiri karena terlalu padat. Kebanyakan warga yang tinggal di kawasan Brighton Beach ini keturunan Russia, oleh sebab itu banyak sekali toko dan restoran yang menggunakan dua bahasa, yaitu Amerika dan Russia.
Lexy memarkirkan mobilnya di lapangan parkir yang memang disediakan untuk pengunjung pantai. Karena hari bukan hari libur jadi pantai tidak terlalu ramai tapi tidak juga sedikit.
“Ada yang ingin aku sampaikan dan tanyakan padamu.” kata Lexy begitu mereka turun dari mobil.
Christine mengangkat sebelah alisnya. “Tentang apa?”
“Tidak di sini. kita harus mencari tempat terlebih dahulu untuk berjemur dan mencari angin laut.” jawab Lexy lalu mulai mencari lokasi untuk mereka berdua.
Christine mengangguk kemudian mengikuti Lexy mencari tempat untuk mereka berdua.
Sial, Christine salah. Pengunjung pangai hari ini tidak bisa di bilang sedikit. Sejauh mata memandang hanya terlihat kumpulan manusia yang berjemur, berenang, surving, bermain volley pantai, membuat istana pasir dan masih banyak lagi kegiatan yang yang ada di pantai itu. Tidak ada tempat untuk mereka!
Christine kembali mencoba mengamati sekelilingnya mencari tempat untuk mereka berdua. Tapi ke arah manapun matanya melihat, yang terlihat bukanlah apa yang yang mereka harapkan.
Christine menghela napas panjang kemudian menghembuskannya dengan sedikit kesal. Sedangkan Lexy terlihat masih tetap memperhatikan sekelilingnya dengan telaten.
“Aku tidak bisa menemukan tempat untuk kita Lexy, pantai ini terlalu ramai!” kata Christine kesal.
“Sabarlah sebentar Christine, tidak mungkin orang-orang ini akan menginap di sini. Mungkin ada beberapa yang akan segera pergi dari sini.” kata Lexy sabar, menoleh sebentar pada Christine dan kembali lagi mengamati sekelilingnya lagi.
“Itu hanya MUNGKIN Lexy, mungkin sebaiknya kita mendatangi pantai yang lain.” balas Christine dengan raut wajah mulai kesal.
“Tidak, kita sudah berada di sini dan ki-, hei lihat itu disebelah sana! Orang-orang itu sepertinya akan segera pergi!” ucap Lexy antusias setelah menunjuk pada kumpulan orang-orang yang sudah selesai berkemas.
“Ayo ke sana!”
Begitu sekumpulan orang-orang itu pergi –sepertinya sebuah keluarga- Lexy langsung menggelar alas kain untuk mereka berjemur.
“Oh akhirnya!” gumam Christine lega.
“Seperti yang kukatakan, bersabarlah sebentar lagi. Kebaikan akan selalu hadir jika kau bersabar.” kata Lexy menanggapi gumaman Christine dengan senyum tipisnya.
Christine hanya memutar bola matanya jengah, tidak biasanya ia cepat kesal seperti ini hanya karena tidak langsung mendapat tempat untuknya berjemur.
Gezzz Christine kesal dan ia tidak tahu apa tepatnya yang membuatnya kesal seperti ini. Ia mencoba menghilangkan kekesalannya dengan cara menikmati hangatnya sinar matahari. Cukup membantu meredakan kekesalannya.
Christine menoleh ke arah Lexy yang ternyata saat ini sedang memejamkan matanya. sepertinya juga menikmati hangatnya sinar matahari yang menembus ke dalam kulitnya.
“Apa kau tidak mau memakai sunblock? Kau akan gosong jika langsung berjemur seperti itu.” kata Christine datar. Ia sedang menuangkan benda itu di tangannya dan mengoleskannya pada bagian tubuhnya yang masih bisa ia jangkau.
Lexy membuka matanya melihat Christine sedang berusaha memakaikan gel itu pada bagian punggungnya, namun tangan sahabatnya itu tidak sampai jadi ia langsung mengambil gel yang ada di telapak tangan Christine dan membantunya mengoleskannya pada punggungnya.
“Jadi bagaimana perasaanmu?” tanya Lexy sambil mengoleskan gel itu pada punggung Christine.
“Sedikit kesal karena tempat ini begitu ramai!” jawab Christine dengan nada kesalnya.
“Bukankah itu bagus karena kau tidak akan merasa kesepian?” tanya Lexy lagi.
“Aku tidak merasa kesepian.” Christine memutar bola matanya. Kesepian karena apa?
"Jadi bagaimana keadaanmu?” tanya Lexy kembali. Ia tidak langsung mendengar Christine menjawabnya melainkan suara orang-orang yang ada di sekelilingnya “Apa be-”
“Apa aku menyedihkan?” tanya Christine kemudian, memotong pertanyaan Lexy.
Ia sudah tidak merasakan tangan Lexy di punggungnya, sepertinya Lexy sudah selesai mengoleskan gel itu pada tubuhnya. Christine berdiri kemudian mengambil tempat di belakang Lexy lalu mulai mengoleskan sunblock pada punggung sahabatnya itu.
“Mengapa kau bertanya seperti itu?” tanya Lexy balik begitu ia merasakan tangan Christine mulai mengoleskan gel pada punggungnya.
“Karena sepertinya cerita hidupku memang menyedihkan.” kata Christine pelan.
“Christine kau adalah pemeran utama dalam hidupmu. Kau tidak perlu merasakan hidup yang menyedihkan, karena kau bisa mengubahnya.”
“Bagaimana jika cerita hidupku memang menyedihkan karena Tuhan yang membuat skenarionya?”
“Maka kau harus percaya kalau Tuhan tidak akan membiarkanmu sedih selamanya. Pelangi ada setelah hujan, jadi kau pasti akan mendapatkan kebahagiaanmu setelah kau merasakan kesedihan.”
“Bagaimana jika aku memang tidak akan bahagia?”
“Bullshit! Semua orang akan bahagia pada akhirnya Christine, tidak terkecuali, SEMUANYA. Jadi jangan terlalu berlebihan oke.”
“Entahlah Lexy, aku tidak yakin dengan yang baru saja kau katakan.” kata Christine setelah selesai mengoleskan sunblock pada punggung Lexy. “Kakakku bahkan tidak mempedulikan kalau aku sedang bersedih. Ia tetap pada rencana awalnya. menjodohkan ku dengan kak Erick. Parahnya lagi ia merasa lega karena sudah tidak ada Peter. Kakakku menganggap Peter sebegai pengganggu.”
Lexy menatap Christine dalam diam, kemudian tersenyum. “Lalu bagaimana denganmu?” tanya Lexy.
Christine mendongak menatap Lexy. “Apa maksudmu?”
“Apa yang sebenarnya kau inginkan Christine?” tanyanya lembut sambil tersenyum.
Christine mengernyit “Aku tidak mengerti Lexy, ap-apa se-”
“Apa sebenarnya keinginanmu Christine? Kau mengatakan pada Peter kalau kau ragu padanya jadi ia melepaskanmu. Tapi apa sekarang? Kau kesal karena kak Kevin tetap menjodohkanmu pada Erick. Dan menurut pengamatanku, kau seperti tidak ingin Peter melepaskanmu. Jadi apa yang sebenarnya kau inginkan?”
“Lexy ini tidak se-simpel seperti yang kau katakan, ini sangat rumit!”
“Tidak, ini tidak rumit. Kau yang membuatnya rumit karena memikirkannya secara berlebihan.”
“Kau tidak me-”
“Bagian mana yang tidak aku mengerti? Kau meragukan Peter, meminta waktu padanya untuk memikirkan kembali tentang hubungan kalian hanya karena akhirnya kau tahu alasan kakakmu menjodohkanmu. Tapi apa sekarang? Ketika Peter sudah memberimu waktu untuk berpikir, kau malah kecewa pada kakakmu karena tetap melanjutkan perjodohanmu. Jelas Kevin akan melanjutkan perjodohanmu karena kenyataannya kakakmu itu memang tidak menyukai Peter dan bagi Kevin apa yang sedang dilakukan Peter saat ini adalah peluang besar untuk membuatmu bersatu dengan Erick. Jadi bagian mana yang tidak ku mengerti. Nyatanya di sini kaulah yang membuat semuanya sulit dimengerti Christine. Kau lupa kalau pada akhirnya kaulah yang akan memutuskan, entah itu dengan atau tanpa Peter dan Erick.”
"Tapi ini tidak semudah itu Lexy. Aku tidak bisa memilih antara Peter dan pilihan kakak."
"Pada akhirnya kau memang harus memilih. Peter atau pilihan kakakmu. Putuskan segera sebelum kau semakin kecewa nantinya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya."
"Tapi ini sangat rumit!"
"Tidak rumit. Kau hanya perlu mengingat, dengan siapa kau ingin menghabiskan masa tuamu yang penuh kebahagiaan nantinya. Ini hidupmu, kau yang akan menjalaninya. Kerumitan ini akan berakhir jika kau bisa menjawab pertanyaan itu. Sudahlah, ayo berenang!" Ajak Lexy semangat. Ia bahkan sudah berlari menuju pantai.
Christine terdiam mendengar kata-kata Lexy. Benar kata Lexy, ini hidupnya jadi dia yang akan menjalaninya. Apapun yang terjadi, dia yang akan melewatinya. Tapi apa semuanya sesimpel yang Lexy ucapkan? Ah, sudahlah! Nanti akan dia pikirkan lagi. Seeprtinya berenang memang membantu meringankan kerja otaknya yang terlalu berat!