He Is My Bad Boy

He Is My Bad Boy
56. Deciever!



Peter memasuki lift dan menekan angka 12. Keluar dari lift dan langsung melihat meja asisten Kevin ada berada di depan pintu ruangan lelaki itu. Peter terus berjalan dan berniat langsung membuka pintu ruangan itu jika seandainya asisten Kevin itu itu menginterupsinya.


“Permisi tuan, apa ada yang bisa saya bantu?” Peter tidak menggubris pertanyaan tersebut dan terus berjalan dan hendak membuka pintu ruangan itu, tapi asisten Kevin tersebut lebih dulu sudah berada di depan pintu ruangan Kevin.


“Maaf sir, tapi Pak Kevin masih memiliki tamu di dalam,”


“Siapa tamunya? Apakah orang penting?” tanya Peter sarkas. Aura yang tidak bersahabat, tatapan yang tajam dan nada yang dingin yang keluar dari mulut Peter membuat asisten Kevin ketakutan dan sedikit gemetaran.


“E-Erick sir.” jawab asisten Kevin gelagapan.


Peter tersenyum miring mendengar nama Erick, ternyata lelaki itu juga sedang berada di sini. Baguslah, ini pasti akan menyenangkan.


“Erick bukan orang penting. Minggir!” Asisten kevin tersebut menelan ludah kasar, kemudian menyingkir dari  pintu ruangan Kevin.


Peter langsung membuka pintu itu dan masuk kemudian membanting pintu ruangan Kevin dengan kasar.


Peter dapat melihat keterkejutan yang ada di raut wajah kedua orang yang ada di ruangan itu, entah terkejut karena suara bantingan pintu yang keras atau terkejut karena melihat kehadirannya di ruangan ini. Ia tidak peduli!


“Terkejut?” tanya Peter dingin, “Kurasa bukan hanya kalian yang terkejut karena aku juga terkejut begitu mendengar kabar yang sangat tidak ingin aku dengar”


“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Kevin tajam, sedangkan Erick hanya menatap kedua lelaki tersebut dengan raut wajah aneh.


“Menurutmu apa yang aku lakukan?”


“Seharusnya kau tidak berada disini, kita sudah sepakat.”


Peter tersenyum miring kemudian berjalan ke arah sofa dan duduk tepat dihadapan Erick yang saat ini juga tengah menatapnya.


“Karena kesepakatan sialan itulah kenapa aku berada disini..” Peter menjeda kalimatnya “Kau penipu.” kata Peter tajam menutup kaliamatnya.


“Kau benar-benar berfikir kalau aku akan memberikan adikku padamu?” tanya Kevin “Kau naif sekali Peter, kau bahkan seharusnya sadar kalau kau tidak berhak bersamanya. Setelah apa yang kau lakukan pada adikku, kau ingin kembali bersamanya? Kau sangat menyedihkan.” kata Kevin tak kalah tajam.


Rahang Peter mengras, ia berdiri dan langsung memukul Kevin dengan kuat. “Kau menipuku baj*ngan!!” teriak Peter kemudian kembali memukuli Kevin dengan keras. Erick yang melihat Kevin dipukuli seperti itu langsung berdiri dan melerai. Tapi ia cukup kewalahan karena Peter sangat sulit untuk di hentikan.


“Sudah cukup! Sebenarnya ada apa dengan kalian berdua?!” ucap Erick masih dengan mencoba menarik Peter yang memukuli Kevin dengan membabi buta.


Peter yang merasa terganggu kemudian berbalik setelah merasa Kevin tidak akan sanggup bangun, dan menangkap kerah baju Erick dengan kasar, “Kau juga sama baj*ngan! Kau bahkan mencoba mengambil Christine dariku dengan tidak tahu malu! Kau sebut dirimu lelaki? Ha! Lelaki macam apa yang mencoba merebut kekasih orang lain! Kau tidak lebih dari sampah!” teriak Peter di depan wajah Erick, kemudian memukul Erick dengan kuat sekali, membuat lelaki itu sedikit terlempar ke belakang dan bibirnya berdarah.


Kevin yang mencoba berdiri kembali diterjang oleh Peter membuatnya kembali terjatuh. Peter tidak memukul Kevin lagi, ia hanya berdiri didekat Kevin dan menatapnya tanpa berniat membantunya “Kau benar-benar licik Kevin, aku heran kenapa Christine bisa memiliki kakak sepertimu?”


Kevin tidak menggubris pertanyaan Peter, ia masih berusaha untuk berdiri. Badannya terasa sakit tapi ia berhasil terduduk masih dengan napas tersengal-sengal sedangkan Peter hanya menatapnya tajam tanpa berniat menolongnya berdiri.


“Kau bahkan tidak merasa bersalah sama sekali,” ucap Peter datar membuat Kevin menatapnya tajam.


“Hanya itu?” tanya Kevin sarkas.


Kevin tersenyum meremehkan, tapi sebelum ia berbicara dengan kesarkasannya, suara Erick sudah menginterupsi.


“Kau marah karena aku dan Christine akan menikah?” tanya Erick, pertanyaan itu sebenarnya ditujukan pada Peter tapi Kevin yang menjawabnya, bukan menjawab sebenarnya tapi lebih ke arah perintah, sedangkan Peter hanya menatapnya datar.


“Diam Erick!” sentak Kevin tidak ingin Erick melanjutkan kalimatnya.


Erick tak mengacuhkan perkataan Kevin barusan dan malah kembali bertanya pada Peter “Kau marah karena itu Peter?”


Peter masih menatapnya datar kemudian menjawab “Kau masih bertanya?”


“Pernikahan kami batal,”


Peter terkejut, tapi tidak terlalu terkejut karena dari saat ia ia sampai di rumah Christine ia sedikit bisa merasakan sesuatu yang aneh, buktinya semua orang bekerja disaat seharusnya hari ini adalah hari yang besar. Sedangkan Kevin langsung berteriak menginterupsi tidak ingin Erick mengatakan yang sebenarnya.


"Memang begitu seharusnya!" Peter menatap Erick sinis.


“ERICK!”


Tapi seakan tuli, Erick tetap melanjutkan perkataannya. “Kami tidak jadi bertunangan kalau itu yang kau takutkan dalam kemarahanmu. Kami membatalkan pertunangan itu dua hari sebelumnya. kau tidak perlu cemas Christine masih menjadi milikmu.”


Peter hanya menatap Erick datar, ia tidak tahu harus bersikap apa. ia memang memiliki firasat itu, tapi ia sudah terlanjur memukul Erick dengan kuat, bahkan dari tempatnya berdiri saat ini ia bisa melihat bibir Erick yang robek karena pukulannya.


“Jadi dimana Christine sekarang?”


Erick menghela napas berat sebelum berkata.


“Ia pergi.”


Kali ini Peter benar-benar terkejut bukan main, “Apa maksudmu?”


“Christine pergi, ia menghilang, kami sudah berusaha mencarinya tapi kami tidak bisa menemukannya, bahkan jejaknya tidak bisa kami temukan,”


Peter lemas mendengar kalimat Erick, Christine benar-benar pergi. Gadisnya menghilang, sebenarnya apa yang sudah terjadi. Peter merasa benar-benar bodoh saat ini. “Kapan ia pergi?” tanya Peter lemah.


“Tadi pagi, atau mungkin tengah malam tadi.”


“Aku akan mencarinya,” kata Peter tegas.


“Aku tidak merestuimu Peter sialan, kau tidak pantas untuk adikku!” teriak kevin dari belakang.


Peter menoleh ke arah Kevin “Sejak kau menipuku, aku sudah tidak memerlukan restumu, ayahmu selalu merestuiku dengan Christine...” Peter menjeda kalimatnya sesaat sebelum kemudian menatap Kevin tajam dan berkata dengan nada dingin.


“Jadi persetan denganmu dan restumu!” Ucap Peter kemudian berbalik dan meninggalkan ruangan Kevin dengan langkah tegap dan tegas.