He Is My Bad Boy

He Is My Bad Boy
64. Shy



Christine melirik jam tangannya, masih ada waktu sekitar satu jam lagi sampai waktu jam makan siang, seharusnya Peter masih bekerja saat ini. Ia sudah sangat merindukan Peter, membuang rasa ego dan gengsi ia akan menemui Peter lebih dulu.


Ia baru saja sampai di New York, ia tidak langsung pulang menemui ayah maupun kakaknya namun ia langsung menuju kantor Peter. Menurut beberapa majalah bisnis milik orang tua Alexa yang sempat dibacanya kala itu, Peter saat ini sudah dipindahkan kembali ke New York.


Christine memasuki gedung gedung pencakar langit  itu dengan langkah mantap. Ia harus menemui Peter, ia benar-benar sudah merindukan Peter dan ia tidak peduli jika seandainya Peter sudah melupakannya.


Christine menemui resepsiones yang juga sedang menatapnya.


“Ada yang bisa saya bantu nona?” tanya salah satu resepsionis itu dengan sopan.


“Aku ingin bertemu dengan paman Josh.” ucap Christine bohong, Christine tahu jika ia tidak berbohong maka resepsionis ini tidak akan membiarkannya bertemu dengan Peter.


“Maaf nona tapi untuk saat ini tuan Josh tidak sedang berada di kantor.”


Christine pura-pura mengernyitkan keningnya, “Bukannya ini kantor paman ya?”


“Iya benar nona, tapi saat ini hanya ada tuan Peter di ruangannya.”


“Dimana ruangan sepupuku itu?” tanya Christine meyakinkan.


“Ruangan tuan Peter ada di ruangan tuan Josh nona.”


“Terima kasih kalau begitu.” Christine meninggalkan resepsionis ini dengan perasaan senang karena berhasil membohongi mereka.


Ia memasuki lift dan menekan tombol lantai ruangan Peter, setelah sampai Christine mendekati meja sekretaris Peter. Christine menatap sekretaris Peter itu, bukan seorang perempuan muda yang dikiranya pasti akan sangt seksi, seperti yang biasa digambarkan sebagai seorang sekretaris.


Tapi ia salah, sekretaris Peter bukanlah peremouan seksi melainkan perempuan paruh baya dengan cincin di jari manisnya. Dan perempuan ini sedang fokus pada komputernya dan tidak menyadari Christine.


“Permisi,” tegur Christine.


Sekretaris Peter itu langsung mengalihkan pandangannya dari komputer ke arah Christine, dan seketika senyumnya merekah membuat Christine bingung.


Perempuan itu langsung berdiri, berlari ke arah Christine dan memeluknya erat membuat Christine tersentak kaget, dan juga membuat perempuan itu sadar dan langsung meminta maaf.


“Maafkan saya nona, saya tidak bermaksud langcang hanya hanya sangat senang sekali melihat nona berada disini”


Christine semakin tidak mengerti dan sekretaris Peter itu sepertinya sadar kalau dirinya bingung dan perempuan itu langsung membungkuk hormat.


“Perkenalkan nama saya Mary nona, saya dan semua pegawai di kantor ini sudah menantikan nona,”


“Eh?” Christine terlihat semakin bingung dan akhirnya sekertaris yang bernama Mary ini langsung menjelaskan semuanya.


“Semenjak nona hilang, tuan Peter selalu marah-marah membuat semua pegawai ketakutan dan sduah dua bulan ini tuan selalu membentak semua karyawan yang berbuat salah. Bahkan tuan selalu saja menemukan celah kesalahan dan menjadi murka karena itu, kami sangat tertekan nona.”


“Bagaimana semua pegawai yang ada di kantor ini mengenaliku?” Christine jadi curiga jika sebenarnya ia tidak berhasil membohongi kedua resepsionis Peter tadi, dan yang lebih memalukannya adalah jika seandainya kedua resepsionis itu mengetahui kalau ia berbohong.


“Tidak semuanya nona, hanya orang-orang tertentu yang mengenali anda,”


“Aku tidak mengerti,”


“Maksud saya, hanya orang-orang yang sering dipanggil tuan memasuki ruangannya yang mengenali nona,” ucap Mary


“Kenapa begitu?”


“Karena tuan memajang foto anda di dalam ruangannya nona,”


Christine membulatkan mulutnya membentuk huruf O, tapi kemudian ia bertanya, ia tidak tahan jika ia harus menahan pertanyaanya ini, “Apa orang resepsionis yang dibawah mengenaliku?”


“Tentu saja nona, saya yang menunjukkan foto anda pada mereka karena tuan menyuruh saya. Tuan mengatakan jika resepsionis harus mengetahui anda, jadi jika anda datang maka resepsionis bisa langsung mempesilahkan anda masuk nona,”