
Cuaca sangat cerah pagi ini. Langit tak berawan membuat sang mentari dengan mudahnya masuk menembus jendela kamar Christine. Ia masih tidur nyenyak dan sepertinya sedang bermimpi indah.
Beberapa pelayan sudah mencoba membangunkan Christine, bahkan gorden kamarnya sudah dibuka agar cahaya masuk dan mengganggu matanya. Namun nihil karena sampai saat ini Christine masih belum berniat membuka matanya.
Seorang lelaki berusia mendekati akhir dua puluh tahun-an memasuki kamar Christine dengan langkah tegap. Beberapa pelayan yang tadi mencoba membangunkan Christine, meninggalkan kamar itu begitu melihat Kevin masuk. Lelaki itu berjalan ke tepi tempat tidur kemudian dengan gerakan cepat, ia menarik selimut yang masih melilit tubuh adik perempuannya itu dengan erat.
"Christine bangun!"
Kevin bersuara lantang sambil menggoyang-goyangkan tubuh Christine dengan kuat agar adik satu-satunya itu bangun.
"Ngghhh!!"
Christine bergumam malas lalu menggulingkan tubuhnya berusaha mencari posisi yang nyaman untuk melanjutkan tidurnya lagi. Ia mencari-cari guling untuk di peluk sementara matanya masih tetap terpejam.
Kevin yang melihat kelakuan adiknya itu tersenyum geli. Ia mengambil guling yang hendak di peluk oleh Christine lalu melemparnya jauh.
Christine bergumam kesal karena Kevin mengambil guling nya. Masih dengan mata terpejam, ia kembali mencoba mengambil bantal yang ada di bawah kepalanya untuk ia peluk. Namun sekali lagi Kevin dengan cepat mengambil bantal itu dan menjauhkannya dari jangkauan Christine.
Mau tidak mau akhirnya Christine harus membuka matanya. Ia bergerak ke posisi duduk lalu menatap tajam ke arah Kevin. Namun Kevin yang ditatap tajam seperti itu tertawa terbahak-bahak.
"Kak, jangan menggangguku!!"
Christine berteriak kesal. Ia cemberut. Kenapa sih kakaknya ini suka sekali menggangunya?
"Bangunlah adikku sayang. Sampai kapan kau akan tidur terus? Ini sudah jam delapan pagi, kau kan ada kelas jam sembilan."
"Tapi aku masih mengantuk kak!"
Christine tetap tidak terima. Ia berusaha merebahkan tubuhnya lagi, ingin melanjutkan tidurnya.
Namun Kevin yang melihat gerak-gerik adik kesayangannya itu langsung bergerak menarik tangan Christine ke atas dengan kuat dan cepat hingga langsung membuat adik perempuannya itu berdiri.
"Kau itu seorang perempuan, kenapa malas sekali. Ayo bangun, bangun! Cepat! Kau akan terlambat kuliah kalau kau tidak bangun!"
"Aku ingin bolos saja hari ini, aku malas ke kampus." ucap Christine memanyunkan bibirnya.
"Bukankah kau ingin lulus tiga bulan lagi? Seharusnya kau tidak bermalas-malasan seperti ini, agar kau bisa menyelesaikan tugas akhirmu dengan cepat." Kata Kevin.
"Ayo cepat siap-siap! Aku akan menunggumu di bawah. Ayah meminjamkan mobilmu untuk dipakai pelayan berbelanja, jadi aku akan mengantarmu ke kampus. Kalau dalam empat puluh lima menit lagi kau tidak juga turun maka aku akan meninggalkanmu"
"Aku membencimu kak." kata Christine dengan memanyunkan lagi bibirnya.
"Aku juga menyayangimu adikku yang jelek."
Kevin berjalan meninggalkan kamar Christine dengan bibir tersenyum. Sedangkan Christine berdecak kesal. Ia ingin bolos hari ini. Tapi apa yang dikatakan kakaknya tadi ada benarnya, ia ingin lulus tiga bulan lagi jadi tidak seharusnya ia bermalas-malasan.
Christine mengambil bathdrop nya kemudian berjalan ke kamar mandi. Dua puluh menit kemudian ia sudah selesai mandi. Ia hanya butuh dua puluh menit lagi untuk bersiap-siap.
Tidak butuh waktu lama untuknya untuk bersiap-siap. Ia bukan seperti perempuan yang menghabiskan dua jam hanya untuk bersiap-siap. Bahkan jika ia sangat terburu-buru, Christine bisa bersiap hanya sepuluh menit saja. Itu sudah termasuk mandi dan berdandan, jangan tanya bagaimana ia melakukannya karena kalian pasti tidak akan menyangkanya.
Dengan langkah malas, Christine berjalan turun menuju ruang makan. Ia masih memiliki waktu empat menit untuk sarapan. Christine mengambil roti dan mengoleskan selai kemudian berjalan ke ruang tamu sambil membawa rotinya. Ia melihat kakaknya sedang duduk sambil men-scroll layar ponselnya.
"Kak aku sudah siap."
Kevin langsung menoleh ke arah Christine.
"Kau memang perempuan yang luar biasa." Kata Kevin takjub sambil melirik jam tangannya. "Kau bersiap-siap selama empat puluh empat menit!"
"Memangnya kenapa?"
"Tidak, hanya saja yang kutahu perempuan membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk berdandan."
"Kak!"
"Baiklah, kau memang tidak sama dengan perempuan-perempuan pada umumnya, mereka tidak malas bangun pagi, biasanya mereka lah yang bangun te--"
"K.a.k!" Christine memotong ucapan Kevin dengan nada yang penuh penekanan.
"Baiklah, baiklah. Ayo kita berangkat!"
---------
Kevin menurunkan Christine di gerbang kampus. Beberapa mahasiswa terlihat keluar masuk melalui gerbang itu.
"Kau akan selesai jam berapa?"
"Apa kakak akan menjemput ku juga?"
"Kalau kakak sempat, kakak akan menjemputmu nanti. Jadi jam berapa berapa kau selesai?"
"Sepertinya sore kak, tapi aku belum yakin. Nanti aku akan mengabarimu kalau aku sudah selesai."
"Baiklah, belajarlah yang rajin! Jangan lupa tiga bulan lagi kau harus lulus!" teriak Kevin setelah Christine sudah keluar dan menutup pintu mobilnya.
Christine menoleh kemudian berdiri tegap dengan tangan kananya berada di pelipisnya membentuk sikap hormat seorang militer. "Siap bos!" katanya lalu tertawa dan berbalik. Berjalan menuju kelasnya.
Lexy menghampiri Christine yang berjalan lurus menuju kelas tanpa melihatnya. Lexy sendiri bingung melihat Christine. Hari ini wajah sahabatnya itu terlihat sangat bersahabat.
"Christine!"
"Eh, Lexy kau mengagetkanku!" kata Christine kesal.
"Maafkan aku." Cengir Lexy sambil menggaruk kepalanya yang jelas tidak gatal. "Ngomong-ngomong sepertinya hari ini kau bahagia sekali, ada apa?" Tanya Lexy penasaran.
"Bukannya setiap hari aku memang begini ya?"
Lexy memicingkan matanya. "Tidak. Biasanya kau tidak seperti ini,"
"Memangnya aku biasanya seperti apa?"
"Yang jelas bukan seperti ini."
"Sudahlah, mungkin itu hanya perasaanmu saja."
Christine berjalan mendahului Lexy yang masih memicingkan matanya. Sahabatnya itu terlihat kepo. Christine sendiri memang tidak merasakan adanya perubahan dalam dirinya. Biasanya ia juga seperti ini. Ralat, selalu seperti ini.
"Kenapa semalam kau pulang cepat dari pestanya Allen?" Tanya Lexy menyusul Christine yang mendahuluinya.
Christine tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, aku hanya ingin pulang lebih cepat."
"Benarkah? Bukan karena Peter?"
"Eh? t-tidak bukan karena dia. M-memangnya kenapa kau... sampai berpikir ini tentang lelaki s-sialan itu?"
Christine seketika gelagapan hanya karena memdengar nama lelaki sialan itu. Tidak menyangka kalau Lexy bisa menebaknya dengan benar.
"Ah tidak, semalam saat kau pergi ke toilet, Peter mengejarmu. Beberapa lama setelah itu, ia kembali sendirian dan malah bertanya kenapa kau tidak ada bersama kami. Aku jadi bingung, apa kau tidak bertemu dengannya?"
"Ah seperti itu, a-aku t-tidak bertemu dengannya kok. Sudahlah, ayo ke kelas." Christine segera mengalihkan pembicaraan. Malas rasanya jika harus membahasa tentang lelaki sialan itu.
Lexy sejujurnya bisa menangkap kebohongan dan keraguan dari yang diucapkan oleh Christine barusan. Lagipula semalam Peter mengatakan kalau ia bertemu dengan Christine dan perempuan pergi duluan. Peter kira Christine pergi menuju Lexy ternyata perempuan itu pulang. Ia akan menunggu sampai Christine mengungkapkan kebenarannya. Biasanya sahabatnamya itu akan jujur padanya setelah berbohong terlebih dahulu.
-------------
Peter sedang mengikuti rapat di kantor pusat. Setelah mengetahui kalau dirinya berada di New York lebih awal karena menghadiri acara wisuda Allen, ayahnya langsung menghubunginya dan memaksanya ikut rapat.
Di sinilah Peter sekarang. Duduk diantara orang tua. Dia satu-satunya yang paling muda diantara mereka.
Memang ada juga seorang yang terbilang cukup muda diantara mereka jika dilihat dari perawakannya tapi jika dilihat-lihat orang itu berusia akhir tiga puluhan.
Intinya di sini dialah yang paling muda.
Semua orang yang melihat kehadiran Peter sedikit terkejut. Mereka tidak menyangka kalau diriny akan ikut rapat di kantor pusat. Peter sensiri dianggap jenius karena strategi marketingnya cepat dalam menghasilkan keuntungan perusahaan cabang yang dipegangnya. Mereka tidak menyangka Peter benar-benar mampu mengerjakan pekerjaannya.
Saat ini Peter terlihat bosan karena rapat tersebut. Ia lagi-lagi melirik arlojinya. Sudah 3 jam dia duduk bersama dengan orang-orang tua ini dan ia sudah sangat bosan.
Josh melihat tingkah putranya yang menunjukkan ekspresi ketidaktertarikannya itu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Bagaimana tidak? Saat ini Peter tengah memainkan pena yang dipegangnya seperti sebuah pesawat. Persis seperti anak kecil.
Putranya itu juga sudah beberapa kali menjatuhkan pena yang dimainkannya itu dengan 'sengaja'. Josh tahu Peter sengaja melakukannnya. Ia sudah mengawasi gerak gerik putra semata wayangnya itu sedari tadi. Peter akan menjatuhkan penanya kemudian meminta maaf dan mengambilnya. Tidak lama setelah meminta maaf, putranya itu akan kembali menjatuhkan penanya kemudian meminta maaf lagi lalu mengambilnya lagi. Itu terus berlanjut sampai berkali-kali, membuat beberapa orang terganggu dengan kelakuannya. Namun Peter tidak peduli dengan itu.
Josh akhirnya mengakhiri rapat mereka, karena ia sendiri juga terganggu dengan kelakuan putranya. Tidak mungkin Josh menyuruh Peter keluar saat sedang rapat. Bagaimanapun juga anaknya itu sudah membuat suatu pencapaian yang cukup besar pada perusahaan yang dipegangnya saat ini.
Mengetahui rapat sudah selesai, Peter memperlihatkan giginya pada Josh. Peter sendiri sadar kalau sedari tadi ayahnya itu menatapnya dengan tatapan terganggu.
Peter kemudiab menghampiri Josh yang sedang membereskan berkasnya.
"Terima kasih ayah karena sudah mengakhiri rapat yang sangat membosankan ini."
"Kau mengganggu, kau tahu itu!" Josh menatap kesal putranya itu.
"Rapat ini terlalu lama ayah, aku sangat bosan."
"Rapat memang seperti ini, memang bagaimana kau rapat di Manhattan?"
"Kami hanya rapat selama lima belas menit."
"Apa?! Rapat macam apa itu??"
"Rapat tidak perlu lama-lama ayah!" kata Peter menasehati lalu nyengir seperti orang bodoh. "Sekarang aku akan ke kampus menemui jodohku yang sempat tertunda dulu."
"Jodoh yang tertunda?" Josh mengernyit tidak mengerti.
Peter mengangguk mantap. "Anak sahabat ayah."
"Bukannya kau sudah menolak perjodohan itu? Kenapa kau menemuinya lagi?"
Peter tidak menjawab pertanyaan ayahnya. Ia hanya tersenyum lalu melambaikan tangannya dan berlalu. Membuat Josh kembali mengernyit karena tidak mengerti.
Apa maksudnya?