He Is My Bad Boy

He Is My Bad Boy
35. Different side



Peter mengemudikan mobilnya membelah jalanan kota New York yang tidak pernah sepi.


Tadi sebelum ia berangkat, Allen mencegahnya dan memberinya saran yang menurut Peter tidak masuk akal.


Sahabatnya itu memiliki pemikiran yang cukup gila. Bagaimana tidak, Allen mengatakan jika Kevin tetap tidak merestui hubungannya dengan Christine, maka Peter harus melakukan tindakan yang cukup nekat, yaitu menghamili Christine.


Sontak saja pernyataan yang diucapkan oleh Allen tersebut langsung membuat Peter menganga.


Ia memang pernah berpikiran untuk membawa Christine ke ranjangnya dan membuat perempuan itu menjerit memanggil namanya sepanjang malam. Bahkan kalau bisa mereka akan berada dikamar selama 24 jam, dan membuat Christine tidak bisa berjalan keesokan paginya.


Tapi hal itu ingin dia lakukan jika mereka memang ditakdirkan bersama. Sejujurnya ia tidak akan menunggu sampai mereka menikah. Cukup ketika mereka sudah bertunangan dan mendapat restu maka ia akan merealisasikan pikirannya itu.


Tapi sayangnya ia harus bersabar cukup lama untuk merealisasikan pikirannya tersebut, dikarenakan saat ini bagaimanapun juga ia harus segera mendapat restu dari Kevin, kakak sialan dari wanita yang dicintainya.


Peter melambatkan laju mobilnya saat melihat lampu lalu lalu lintas berwarna merah. Mobilnya berhenti tepat dibelakang sebuah mobil sedan berwarna hitam mengkilap. Peter melirik ke luar jendela dan melihat orang-orang berjalan kaki, namun matanya menangkap sepasang kekasih yang berjalan sambil tertawa di trotoar.


Peter mulai membayangkan jika seandainya sepasang kekasih yang tertawa bahagia di trotoar itu adalah dia dan Christine. Ah, Peter bahkan tidak bisa membayangkan betapa bahagianya dirinya jika memang seperti itu.


Dia menginginkan Christine.


Seutuhnya. Menjadi miliknya.


Tiba-tiba pembicaraannya dengan Allen tadi malam terlintas dipikirannya. 'Kau harus membuat Christine jatuh cinta padamu dan membuat Christine yakin kalau kau yang dibutuhkannya' kira-kira seperti itulah yang diucapkan oleh Allen tadi malam.


Membuat Christine jatuh cinta. Jatuh cinta setengah mati padanya.


Terdengar naif memang, tapi kadang ke naif-an itu akan membuatmu bertahan lalu berjuang dalam ketidakpastian menuntutnya menjadi sebuah kepastian. Peter merasa kalau saat ini Christine adalah obsesinya, dan obsesi itu membuatnya hampir gila.


Peter kembali melajukan mobilnya saat lampu lalu lintas sudah berubah warna menjadi hijau.


­­__________________


William menatap Christine tak percaya. Seingatnya dulu Christine berusaha mati-matian untuk menolak Peter. Putrinya itu bahkan rela pergi dari rumah karena tidak ingin dijodohkan dengan Peter.


Tapi saat ini? Christine berpacaran dengan Peter?? Apa ia tidak salah dengar?


"Tunggu, bisa lebih diperjelas lagi? Ayah sedikit kebingungan di sini." tutur William dengan wajah bingungnya. Christine menghela napas pasrah, begitu ia hendak memberi penjelasan pada William, Kevin sudah lebih dulu memotongnya.


"Bagian mana yang membuat ayah bingung?" tanya Kevin santai. Tanpa menunggu jawaban dari William ia kembali menjelaskan. "Saat ini Christine memang berpacaran dengan Peter, lelaki yang dia tolak saat ayah menjodohkan mereka." katanya.


"Apa benar begitu Christine?" tanya William menatap lurus ke arah Christine.


Christine hanya diam dan mengangguk pelan.


Dan sontak saja anggukan Christine membuat William tersenyum senang.


"Kenapa tidak mengatakannya pada ayah lebih awal?" tanya William semngat membuat Christine langsung menatap William dengan tatapan kaget sekaligus senang.


Ia tidak berpikir kalau William akan menyukai hubungannya dengan Peter. Peter sendiri juga pernah mengungkapkan penolakannya dengan menemui ayahnya secara langsung.


Berbeda dengan Kevin, lelaki itu terlihat biasa saja dan lebih terkesan sudah bisa menebak kalau William memang tidak akan marah seperti dirinya. Karena Ayahnya tidak tahu apa yang sudah dilakukan Peter pada Christine.


Untuk lebih menyatukan pertemanan mereka, William dan Josh merencanakan perjodohan Peter dan Christine sejak beberapa bulan setelah ibunya meninggal. Tapi rencana mereka itu baru mereka realisasikan saat Peter sudah kuliah semester akhir.


"Apa ayah tidak marah?" tanya Christine pelan masih dengan wajah terkejut.


"Untuk apa ayah marah? Ayah bahkan berharap kalau kalian bisa menikah suatu hari nanti." ucap William sambil tersenyum, membuat pipi Christine merona. Mendengar kata menikah yang belum pernah dipikirkannya sebelumnya.


Sedangkan Kevin hanya diam sambil tersenyum menatap ayahnya dan adiknya yang terlihat senang. Sejujurnya melihat Christine dan ayahnya senang seperti itu membuatnya sedikit luluh. Jujur saja ia juga ikut senang. Ia menyayangi mereka berdua, sangat menyayangi mereka.


Tapi apa yang sudah dilakukan Peter pada Christine, bukan sesuatu yang bisa dia terima sebagai 'kesalahan biasa saja'. Kejadian seperti itu pasti sudah direncanakan dengan matang. Dan kesalahan yang direncanakan tidak mudah untuk dimaafkan. Kesalahan itu membuat darahnya mendidih. Ia sebagai kakak yang notabene selalu berkelahi setiap saat dengan Christine saja harus terlihat akur di luar. Sedangkan lelaki itu, ia selalu bersikap manis dan membuat Christine merasa dicintai. Tapi apa yang dia lakukan? Ia mempermalukan Christine. Dan lebih parahnya lagi, lelaki itu MEM-PER-MA-LU-KAN Christine di hadapan banyak orang.


Ia tidak bisa menerima hal itu. Meskipun Christine sudah memaafkan Peter, tapi ia tidak akan pernah memaafkan lelaki itu.


"Apa hari ini ayah akan bolos bekerja?" tanya Kevin menginterupsi keakraban Christine dan ayahnya.


William menoleh, "Memangnya sudah jam berapa sekarang?" tanyanya.


"Sudah hampir siang." kata Kevin membuat William melotot.


"Kenapa tidak mengatakannya dari tadi? Ayah sudah terlambat!" sentak William kesal, namun Christine dan Kevin hanya tersenyum.


William segera mengambil tasnya dan bergegas keluar, tapi sebelum ia sampai di luar ia berbalik dan berkata "Christine kau harus lulus secepatnya." katanya tersenyum lalu meninggalkan Christine dan Kevin yang mengantar William sampai pintu utama.


Christine tersenyum mendengar ucapan ayahnya barusan. Ia paham betul makna yang ada dibalik kalimat itu. Christine harus lulus secepatnya agar ayahnya juga secepatnya menikahkannya dengan Peter.


Membayangkan pernikahannya dengan Peter, Pipi Christine kembali merona. dan itu dapat dilihat oleh Kevin membuat lelaki itu menghela napas.


"Baik ayah!" teriak Christine saat William sudah berada di dalam mobil, dan sedetik kemudian mobil itu sudah meninggalkan pekarangan rumah mereka.


"Jadi jam berapa Peter akan menemui ku?" tanya Kevin kembali memecah keheningan yang terjadi diantara mereka.


Jujur saja Kevin begitu kesal karena gara-gara lelaki sialan yang saat ini sudah menjadi kekasih Christine. Adiknya itu seperti sudah membuat benteng untuk melawannya, dan dia sangat tidak menyukai ketika Christine menjadi pendiam saat bersamanya.


"Peter sudah dalam perjalanan, apa kakak akan ke kantor?" tanya Christine.


"Iya, aku ada meeting beberapa saat lagi. Karena kau mengatakannya mendadak jadi aku tidak bisa langsung membatalkan jadwalku untuk yang sekarang." kata Kevin menoleh pada Christine. "Kalau dia mau, dia bisa datang ke kantorku nanti atau kalau tidak, katakan saja di mana alamatnya, dan aku yang akan menemuinya." lanjutnya.


Christine mengangguk paham. "Hmm, akau akan mengabari kakak setelah aku bertanya pada Peter," katanya kemudian tersenyum.


Melihat Christine tersenyum membuat perasaan Kevin campur aduk. Tatapannya melembut, Ia mengarahkan tangannya ke kepala Christine dan mengusap lembut rambut adiknya itu.


"Kakak menyayangimu, kakak hanya ingin kau bahagia." kata Kevin pelan. Menarik tangannya dari kepala Christine, lalu mengambil tasnya yang berisi berkas di dalam ruang makan. Lalu kembali lagi dan melihat Christine masih berdiri diam di teras rumahnya.


Ia berjalan ke arah mobilnya, tapi sebelumnya ia berhenti di depan Christine. Adiknya itu masih menunduk.


"Seandainya bukan dia, kakak pasti dengan senang hati mendukungmu." kata Kevin pelan kemudian berjalan memasuki mobilnya. "Kakak berangkat." ucapnya lagi lalu melajukan mobilnya meninggalkan Christine yang masih menunduk.


"Ya, hati-hati dijalan kak." gumam Christine lirih setelah ia sudah tidak mendengar suara mobil Kevin lagi.


Ya Christine menangis lagi, namun kali ini ia menangis karena ia sadar kalau Kevin sangat menyayanginya. Kevin melakukan semua itu karena tidak ingin melihatnya hancur sekali lagi.