He Is My Bad Boy

He Is My Bad Boy
47. Because of Christine



New York, USA.


Kevin memasuki sebuah arena balapan dengan langkah tegap. Seolah memberitahu kepada orang-orang yang ada di sana kalau ia bukanlah orang sembarangan. Nyatanya ia memang donatur terbesar setiap kali Moto GP diadakan.


Ia berjalan lurus ke bagian samping arena balapan, mencari seseorang yang akan segera menjadi adik iparnya, sayangnya ia tidak bisa menemukan calon adik iparnya itu.


"Sir, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya seseorang menghampiri Kevin.


Kevin berbalik karena mengenali si pemilik suara lalu tersenyum. "Sudah berapa kali ku katakan jangan memanggilku begitu Jack." katanya lalu memukul bahu Patrick pelan. Jack adalah manajer Erick.


"Tapi tetap saja kau adalah donatur yang selalu memberi Erick motor baru dan membiayayai semua medis."


"Ngomong-ngomong di mana anak itu?"


"Ia sedang latihan, itu." tunjuk Jack ke arah sirkuit arena dan melihat seseorang sedang mengendarakan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata.


"Apa aku boleh meminjamnya setelah selesai latihan?"


"Tentu saja, sebenarnya ia sudah selesai latihan dari tadi. Tapi entah kenapa ia tidak mau berhenti dan tetap melanjutkan latihan, padahal dari tadi hasilnya sama saja."


"Baiklah kalau begitu."


"Apa ia sedang memiliki masalah?" tanya Jack penasaran.


"Kenapa kau bertanya begitu?"


Kevin menaikkan sebelah alisnya, tidak ada yang tahu mengenai pernikahan Erick yang akan dilakukan lusa nanti. Ia sendiri juga menyembunyikan hal itu dari publik.


"Tidak. Hanya saja," Patrick menghela napas sebum melanjutkan kalimatnya, "dari tadi ia seperti orang yang sedang banyak pikiran. Ia juga kesulitan berkonsentrasi belakangan ini. Ku pikir mungkin kau tahu sesuatu, tapi sepertinya tidak. Baiklah kalau begitu aku akan pulang, katakan pada Erick kalau aku sudah pulang duluan." kata Zach kemudian meninggalkan Kevin yang saat ini sudah terdiam.


Kevin masih harus menunggu beberapa lama sampai akhirnya Erick menghentikan motornya. Pandangannya langsung ter-arah pada Kevin yang tengah duduk sambil menyilangkan kakinya bak seorang bos. Kenyataanya Kevin memang seorang bos. Bos otomotif terbesar ke tiga di dunia, sekaligus yang bertanggung jawab membiayai seluruh tim medis Moto GP.


"Sepertinya kita harus bicara Kevin." kata Erick serius tanpa berbasa-basi terlebih dahulu begiti ia sampai di hadapan Kevin.


"Aku juga harus berbicara padamu." Balas Kevin tak kalah serius.


"Sebaiknya kita mencari tempat yang lebih sepi untuk berbicara."


"Apakah ada masalah? Sepertinya yang ingin kau katakan ini sangat penting." Kevin memicingkan sebelah alisnya, "apa ini berhubungan dengan yang dikatakan Jack kalau kau seharian ini terlihat seperti orang yang banyak pikiran?" tanyanya penasaran.


"Sudahlah, sebaiknya kita mencari tempat tempat terlebih dahulu Kevin." kata Erick kesal.


"Apa kau stress karena pernikahanmu yang akan dilakukan dua hari lagi?" tanya Kevin semakin penasaran.


Erick tidak menjawab. Ia terus berjalan ke arah bangku penonton yang terlihat kosong walau tidak sepenuhnya karena ada beberapa fans Erick yang terlihat sedang meneriakinya.


Kevin mendengus karena Erick tidak menjawab pertanyaannya tapi malah menghampiri fansnya yang terus menerus meneriaki namanya, membuat Kevin kesal sendiri.


Setelah Erick selesai mengurusi fansnya, ia mendatangi Kevin yang sudah duduk di tempat duduk penonton paling pojok dengan wajah datar.


"Jadi kenapa kau banyak pikiran?" tanya Kevin tanpa melihat kearah Erick. Dia bertanya begitu merasakan kehadiran Erick dan duduk di dekatnya.


"Kurasa kau sudah tahu alasannya."


"Karena pernikahanmu lusa nanti?"


"Mungkin lebih tepatnya karena Christine."


Kata Erick menoleh pada Kevin yang saat ini sudah sangat serius.