He Is My Bad Boy

He Is My Bad Boy
49. Dissapointed



Erick memandang bingung melihat Kevin yang tiba-tiba terdiam. Pandangan sahabatnya itu bukan padanya melainkan pada sesuatu yang ada di belakangnya. Dengan penuh tanya Erick dengan perlahan membalik tubuhnya, untuk melihat apa yang dilihat Kevin sampai-sampai sahabatnya itu terlihat sangat syok.


Sayangnya begitu ia berbalik, betapa terkejutnya Erick ketika ia melihat Christine berdiri tidak jauh dari mereka. Menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun satu hal yang Erick sadari, Christine tidak bahagia.


Christine memandang mereka dalam diam. Tidk bersuara dan tidak bergerak. Dari jarak itu Erick yakin kalau Christine pasti mendengar apa yang mereka bicarakan. Sial! bagaimana mungkin ia tidak menyadari kehadiran Christine dalam jarak sedekat ini?


Christine sendiri menatap mereka dalam diam, tidak tahu tepatnya pada siapa, tapi raut wajahnya tersirat kekecewaan.


“Sejak kapan kau di situ?” tanya Kevin datar.


“Sejak tadi.”


“Berarti kau mendengar semua pembicaraan kami?”


“Tidak semua, tapi aku mendengar inti pembicaraan kakak.” kata Christine sambil berjalan mendekati kedua orang yang sedang menatapnya lekat.


“Christine ak-aku t-tidak bermaksud...”  Erick berusaha menjelaskan.


“Aku sudah cukup mendengar intinya kak.” ucap Christine memotong kalimat Erick yang tidak jelas karena sudah gugup dan gagap.


“Kurasa sekarang kak Erick tidak perlu mencari alasan untuk menjelaskan ini padaku, karena aku sudah mendengarnya.” Christine tidak tahu apakah ia harus senang atau sedih karena pernikahannya dengan Erick batal.


“Menurut kakak apa aku baik-baik saja sekarang setelah mendengar sesuatu yang menyakitiku?” tanya Christine tajam namun dengan senyum masam.


“Christine kakak tidak bermaksud membuatmu sedih seperti ini...” kata Kevin khawatir melihat Christine yang masih tersenyum masam.


“Aku tidak sedih kak, percayalah.” kata Christine menunduk lesu, “aku hanya kecewa. Aku tidak percaya kalau kakak bisa mempermainkan ku seperti ini, ku kira kakak menyayangiku dan ingin melihatku bahagia. Aku sama sekali tidak pernah mengira kalau kakak tega padaku, menjadikan hidupku sebagai boneka!” Christine mulai meneteskan air mata, ia bahkan tidak peduli kalau saat ini ia menangis di hadapan Erick yang juga menatapnya dengan rasa bersalah.


“Christine kakak tidak pernah menjadikanmu boneka! Hentikan semua omong kosongmu itu! Kakak menyayangimu!” Kevin tidak bisa lagi menahan emosinya.


“Sudah cukup kak, kurasa sudah cukup kakak ikut campur dalam hidupku!” kata Christine dingin kemudian melangkah pergi meninggalkan Kevin yang sudah mematung.


“Christine kau ingin kemana?” tanya Erick mencoba mengejar Christine, tapi baru selangkah ia mengejar Christine, wanita itu sudah lebih dulu berhenti berjalan dan berbalik menatapnya tajam. Mengatakan kalimat yang mempu membuatnya mematung seperti Kevin.


“Jangan mengejarku kak, kau tidak berhak mengejarku karena kau bukan siapa-siapa!” kata Christine lalu berjalan semakin jauh.


Erick terdiam kaku di temptanya. Apa yang dikatakan Christine benar, ia bukan siapa-siapa jadi tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa memandang punggung Christine yang semakin menjauh.


Erick menghela napas. Ia berbalik melihat Kevin yang masih terdiam kaku. Erick merasa bersalah sekarang. Sebenarnya apa yang sudah mereka lakukan. Semua ini karena Kevin memaksanya untuk bertunangan dengan Christine dan bodohnya lagi ia menerima paksaan dari Kevin tersebut.


Sekarang, beginilah nasib mereka berdua, tidak bisa berbuat apa-apa. Christine sudah terlanjur kecewa pada mereka.