
Beberapa saat sebelumnya
Peter keluar dari ruang rapat dengan wajah kusut, beberapa pemegang saham berkata kalau ia masih terlalu muda untuk menjadi CEO, sedangkan ayahnya sendiri beralasan berhenti karena sudah merasa terlalu tua.
Padahal ia sudah menang dan sudah berhak menjabat sebagai CEO, tapi kenapa sepertinya orang-orang itu seakan tetap tidak puas dengan hasilnya? Peter sangat kesal pada beberapa orang yang diruangan itu terutama orang-orang yang menganggapnya masih terlalu muda.
Ayahnya sendiri hanya tidak banyak menanggapi saja saat beberapa orang mengatakan kalau dia belum berpengalaman, dan ayahnya hanya mengatakan bahwa Peter sudah bisa diandalkan karena berhasil meningkatkan harga samam sampai dua kali, bahkan belum sebulan ia menggantikan Josh.
*********
Selesai sudah, Christine sudah tidak tahu lagi bagaimana ia akan bertatapan dengan kedua resepsionis yang ada di lantai bawah tadi. Wajah Christine langsung lesu, ia baru saja mempermalukan dirinya. Tadi sedetik kemudian Christine sadar kalau ia ingin bertemu dengan Peter.
“Apa Peter ada di dalam?”
“Ya Tuhan saya hampir lupa kalau nona kesini ingin menemui tuan Peter, maafkan saya nona menahan anda disini,” Hanna langsung merasa bersalah, ia sampai lupa karena saking senangnya melihat Christine tiba-tiba muncul dihadapannya.
“Tidak apa-apa Hanna” ucap Christine menenangkan Hanna, “Jadi apa ia ada di dalam?”
“Tuan saat ini sedang rapat dengan para pemegang saham nona, saya tidak tahu akan selesai jam berapa,"
Christine menghela napas tidak mengerti dengan pikiran orang-orang itu. “Apa aku boleh menunggunya di dalam?”
“Tentu saja nona silahkan masuk,”
Christine memasuki ruangan Peter dan langsung melongo karena ruangan lelaki ini benar-benar sangat indah, dari ruangan ini ia bisa melihat gedung-gedung tinggi dan ia sangat menyukainya.
Christine kemudian mengedahkan pandangannya mengelilingi ruangan Peter dan tatapannya langsung terhenti di tembok yang berseberangan dengan meja Peter. Ditembok itu ada figura fotonya yang sangat besar dan ia melongo melihatnya, ia bahkan tidak pernah berpikir untu mencetak foto sebesar itu.
Pantas saja beberapa orang pasti akan mengenalinya, bagaimana tidak jika fotonya yang hampir sebesar lemari tiga pintu itu di pajang disana. Tapi hati Christine berdesir melihat itu, itu artinya Peter masih mencintainya bukan?
Christine kemudian berjalan ke meja kerja Peter dan mendapati bahwa meja kerja lelaki itu sangat berentakan, Christine kemudian merapikan berkas-berkas yang berserakan di meja itu dan ia sadar, ia bisa menatap langsung fotonya yang dipajang di ujung sana dari tempatnya berdiri ini.
Dan lagi-lagi hatinya menghangat memikirkan jika setiap hari Peter menatap fotonya dari tempatnya bekerja. Christine kembali merapikan kertas-kertas itu dan menyesuaikannya agar tidak tercampur.Ia sudah hampir selesai merapikan meja Peter ketika pintu ruangan tiba-tiba terbuka dan seseorang yang sedang berada di pintu itu menatapnya tidak percaya.
“Ch-Christine,” panggilnya tercekat.
“Peter.” sapa Christine dengan senyum manisnya.