He Is My Bad Boy

He Is My Bad Boy
68. Don't cry



Ia tidak sedang salah dengar kan? Atau kupingnya bermasalah? Tadi Peter mengajaknya apa? sepertinya ia yang terkena fatamorgana sekarang.


“Peter.”


“Hmm?”


“Tadi kau mengajakku apa?”


“Apa?”


Christine langsung melepas pelukan mereka dan menatap Peter bingung, Peter juga balas menatapnya bingung.


“Apa?” ulang Peter.


Christine tersenyum kecut, ternyata dia memang salah dengar.


“Sudahlah lupakan.” ucapnya kesal sembari berjalan ke arah sofa, tapi sebelum ia kembali melangkah lengan Peter sudah lebih dulu memeluknya dari belakang.


Peter tersenyum mendengar nada kesal gadisnya itu.


“Aku masih merindukanmu,” ucap Peter sembari menciumi pundak dan leher Christine lembut.


Mau tidak mau Christine tersenyum karena berewok dan kumis lelaki itu yang sudah tumbuh dan menusuk-nusuk kulitnya, sebelah tangannya meraih kepala Peter dan ia menoleh menatap Peter yang saat ini juga sedang menatapnya lembut.


Christine langsung berbalik dan menatap Peter, tangannya kembali ia arahkan wajah Peter. Christine menyentuh rahang Peter lembut. Peter memejamkan matanya menikmati sentuhan tangan Christine.


“Bulu-bulu ini membuatku geli,”


“Mereka milikmu, bukankah dulu kau menyukainya? Kau ingin aku mencukurnya?” Peter membuka matanya dan menatap intens Christine yang tersenyum.


“Biar aku yang mencukurnya, aku menyukainya tapi tidak suka kalau terlalu lebat seperti ini. Kau terlihat seperti orang jahat.”


“Aku orang jahat yang tampan.”


Peter terkekeh, “Jadi kau sudah memikirkan untuk mengurungku?” tanya Peter menggoda Christine, dan sontak saja mendengar pertanyaan itu membuat pipi Christine langsung memanas.


Bukannya berhenti lelaki itu semakin menggodanya lagi, “Kau ingin mengurungku di mana? Di rumah atau di kamar?”


Ya Tuhan apa lagi ini? Christine sudah tidak tahu harus bagaimana sekarang, ia salah tingkah, pipinya pasti sudah sangat merah. Ia malu sekali, apa yang harus ia lakukan? Ia bahkah belum bisa memakai otaknya untuk berpikir ketika Peter kembali menggodanya.


“Aku yakin kau pasti akan mengurungku di kamar karena kalau aku bisa keluar dari kamar, aku akan bertemu dengan asisten rumah tangga. Dan kau pasti tidak menyukai itu,” Peter sudah mau tertawa terbahak-bahak melihat Christine yang saat ini sudah terlihat sangat menggelikan.


Dan seakan belum puas menggoda Christine yang sudah seperti kepiting rebus ia masih terus menggoda gadisnya itu, kapan lagi ia akan menggoda Christine kan? Pikiran gadisnya ini sangat sulit untuk ditebak, bukan seperti kebanyakan gadis pada umumnya, gadisnya ini tidak umum.


“Apa yang kau lakukan padaku setelah mengurungku?”


Deg. Sialan.


Christine sudah membeku, Peter yang sudah sangat tidak tahan akhirnya tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Christine masih diam. Diam dan tak bergerak, dan Peter masih tertawa.


Christine kemudian mendongak dan menatap Peter dengan mata berkaca-kaca dan langsung menghentikan suara tawa Peter, membuat lelaki itu panik.


“Christine kenapa kau menangis?”


“Kau keterlaluan!” dan pecahlah tangisan Christine. Tidak tahukah lelaki ini betapa jantungnya sudah hampir lepas karena deg-degan.


“Christine maafkan aku, jangan menangis.”


Bukannya berhenti tangis Christine malah semakin menjadi-jadi membuat Peter akan melakukan apa saja agar gadisnya ini berhenti menangis. Sedangkan Christine tidak tahu harus bagaimana ia semakin malu saat ini karena menangis di hadapan Peter.


Jika ia tiba-tiba berhenti menangis makan ia akan semakin malu, itulah yang ada dipikirannya jadi ia memutuskan untuk terus menangis. Peter yang sudah kelabakan karena tidak tahu harus bagaimana, langsung memeluk Christine dan mencium pucuk kepala gadisnya itu.


“Cup cup Christine sayang maafkan aku oke? Aku tahu aku sudah keterlaluan tadi, jangan menangis lagi,”