He Is My Bad Boy

He Is My Bad Boy
59. Caroline!



Christine mulai bersiap-siap untuk mendatangi festival yang dikatakan oleh Alexa tadi.


Alexa menjemput Christine sekitar jam tujuh malam. Mereka kemudian menuju tempat festival yang kata Alexa hanya diadakan setahun sekali dan juga hanya berlangsung tiga hari.


Mereka memasuki area festival, dan bisa mencium banyak aroma makanan yang menusuk hidung. Membuat Christine lapar dan tadi ia juga belum makan malam.


“Alexa aku ingin kalkun panggang,” Christine menarik lengan Alexa ke gerai kalkun panggang tapi ditengah jalan Alexa berhenti dan melirik permen kapas, oh Alexa sangat suka permen kapas.


“Kau duluan saja ke gerai itu, akan akan menyusulmu setelah mendapatkan benda manis itu” ucap Alexa tanpa menoleh ke arah Christine dan terus fokus pada permen kapasnya.


Christine kemudian mengangguk dan meninggalkan Alexa kemudian berjalan menuju gerai kalkun panggang itu. setelah sampai ia kemudian langsung memesan satu untuk dibungkus.


Christine menunggu cukup lama sebelum kemudian mendapatkan pesananya. Saat hendak meninggalkan gerai itu, seseorang memanggilnya dan ia mengenal suara itu.


“Christine Haliane!”


Christine berbalik, dan seperti yang sudah dia duga, yang memanggilnya adalah wanita sialan yang dari dulu sangat tidak disukainya.


“Oh, hai Caroline” sapa Christine dengan nada manis yang dibuat-buat.


“Sudah kuduga itu memang kau, si wanita sampah!"


Christine tidak menanggapi makian Caroline dan hanya mengedikkan bahunya. Menanggapi wanita gila seperti Caroline tidak akan pernah ada habisnya.


“Hanya itu? baiklah aku akan pergi,” ucap Christine kemudian hendak berbalik, tapi sebelum ia melakukannya Carolin sudah lebih dulu berteriak membuat mereka menjadi pusat perhatian.


Mau tidak mau, Christine kembali menoleh ke arah Caroline yang saat ini sedang tersenyum sinis.


“Apa maumu?” tanya Christine datar.


Caroline masih tersenyum sinis “Aku tidak mau apa-apa, aku hanya ingin memberitahu orang-orang yang ada disini kalau kau adalah wanita sampah dan tidak tahu malu!”


“Caroline kurasa kau sudah tidak waras.” ucap Christine santai, ia harus tenang menghadapi wanita gila yang satu ini. Jika salah sedikit, maka ia pasti akan dipermalukan.


“Apa katamu! Ingatlah Christine kau sudah dicampakkan tapi dengan tidak tahu malu kau masih menggoda Peter kekasihku?”


“Peter kekasihmu? Sejak kapan? Peter tidak akan mau memiliki kekasih gila sepertimu. Kau bilang aku menggodanya? Kurasa kau memang sudah benar-benar tidak waras, untuk apa aku menggoda kekasihku sendiri? Sudahlah Caroline hentikan semua ini,”


“Kau memang menggodanya jalang! Jika kau tidak menggodanya maka ia tidak akan melirikmu dasar jalang!”


Orang-orang semakin banyak menonton mereka dan hal itu sudah cukup membuat Christine malu, ia sangat tidak suka menjadi pusat perhatian seperti ini, apalagi menjadi pusat perhatian sesuatu yang sangat ‘drama’ ia kemudian melihat ke sekeliling dan menemukan Alexa juga sedang ikut menontonnya, terlebih lagi ekspresi wanita itu terlihat bingung.


“Aku tidak menggodanya, aku dan Peter memang sudah dijodohkan! Kau saja yang terlalu berharap padanya padahal selama ini kau tahu kalau kau tidak akan pernah bisa memilikinya, Kau hanya mainannya Carolin jadi berhentilah membuat masalah denganku!” kata Christine berusaha meredakan kekesalannya.


“Dan berhentilah menuduhku menggodanya! Jika aku memang menggodanya maka salahkan dirinya kenapa ia tergoda!” ucap Christine lagi kemudian berbalik ke arah Alexa yang masih menontonnya dengan raut wajah bingung.


“Ayo pulang!” ucpnya masih dengan nada kesal.