
Christine pulang dengan perasaan sedikit kecewa. Ia tidak sepenuhnya kecewa karena sejujurnya jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia juga menginginkan pertunangan ini gagal. Hanya saja ia merasa kecewa saat mengetahui kalau kakak yang paling disayanginya adalah dalang dari kesakitannya.
Christine menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Pikirannya menarik kenangan saat dimana dirinya dan Peter kembali baikan di tengah taman New York. Kenangan itu berputar dikepalanya tanpa mau berhenti, seolah memang sudah saatnya ia mengingat kembali kenangan manis itu.
Christine tidak pernah mengira kalau ia akan seperti ini. Jatuh cinta sangat dalam pada Peter, lelaki yang pernah membuatnya hancur.
Cara Peter menatapnya selalu berhasil membuat Christine merasa bahwa ia adalah wanita paling beruntung. Tatapan lelaki itu membuatnya merasa bahwa Peter juga sangat mencintainya dan sangat menginginkannya.
Sayangnya saat ini Christine rasanya ingin menangis. Menangis karena lagi-lagi Petet menyakitinya. Menghancurkan setitik harapan yang pernah ia bangun dengan sentuhan jari. Christine tersenyum miris kala mengingat saat dengan mudahnya Peter menolak panggilannya.
Mungkin untuk sebagian besar orang itu bukan suatu masalah yang besar. Tapi ketika kau jatuh cinta dan kau menurunkan gengsimu untuk menghubunginya terlebih dahulu namun ternyata dia menolakmu maka itu menjadi masalah yang besar.
Pertemuannya dengan Peter yang terakhir bukan pertemuan yang indah, dari sanalah awal dari semua kekacauan ini berlangsung. Saatbitu Peter meninggalkannya hanya karena ia sedikit ragu.
Setelah itu Peter tidak pernah lagi menghubunginya, ditambah lagi ketika Kevin menginginkan dirinya untuk segera mempersiapkan diri karena akan bertunangan hingga akhirnya menikah dengan Erick.
Namun ketika ia sudah kecewa pada Peter, Christine kembali harus merasakan kekecewaan yang selanjutnya karena pernikahannya dengan Erick kembali batal. Dulu pertunangannya dengan Erick batal karena toko perhiasan tempat mereka membuat cincin itu menghilangkannya. Yang kedua pertunangannya batal karena mobil yang Erick tumpangi mengalami kecelakaan yang tidak besar namun membuat lengan lelaki itu harus di jahit. Yang ketiga kali ini akan langsung disatukan dengan pernikahan namun akhirnya kembali gagal karena perbuatan kakaknya.
Apakah semua lelaki memang ******** termasuk kakaknya sendiri?
“Christine!” panggil seseorang dari luar. Tidak perlu menebak karena Christine sudah tahu kalau yang sedang memanggilnya saat ini adalah Kevin.
Christine lebih memikih mengabaikan panggilan dan gedoran itu dengan menggunakan headset.
Berbeda dengan Kevin yang masih setia mengetuk pintu kamar Christine. Namun adiknya itu bahkan tidak menyahut sama sekali.
“Apa Christine benar di dalam?” tanya Kevin pada salah satu pelayan yang ada di rumahnya. Pelayan yang sama juga saat Christine mencari Kevin di ruang kerjanya.
Pelayan itu mengangguk, kemudian berjalan meninggalkan Kevin yang kembali memanggil nama Christine dengan gedoran dan suara yang lebih keras dari sebelumnya hingga adiknya itu menyahut.
“CHRISTINE!!”
“Pergi kak! Aku sedang ingin sendiri!” Sahut Christine. Dari caranya menyahut, Kevin tahu Christine sedang marah.
“Tidak, Kakak harus bicara denganmu!”
“Tapi aku tidak ingin mendengar apa-apa dari kakak!”
“Christine buka pintunya!!”
“Tidak! Berhentilah mengurusi hidupku!!!” dan kali ini Christine benar-benar marah dengan berteriak tanpa berniat membuka pintu sama sekali.
Sudah tidak ada lagi suara Kevin maupun suara gedoran dari depan kamarnya, membuat Christine menghela napas dan memejamkan matanya.
Dia tidak membenci Kevin, tidak ia tidak bisa membenci Kevin. Ia hanya kecewa. Christine tersenyum miring merasakan kalau saat ini dirinya terlihat menyedihkan.
Christine mengambil ponselnya dan menghubungi Lexy, tiba-tiba saja ia mengingat sahabatnya itu.
“Hallo..” sapa suara di seberang.
“Bagaimana kabarmu?”
“Kau masih mengingatku ternyata, aku baik-baik saja.”
“Apa kau bersama Allen?”
“Tidak, ada apa?”
“Tidak, hanya saja kalau kau bertemu dengan Allen bisa kau tanyakan padanya Peter berada di mana? Mungkin Allen tahu dimana posisi Peter sekarang.”
“Aku tidak tahu, aku sudah mencoba menghubunginya, tapi dia menolakku.”
“Benarkah? Kurang ajar! Tapi kau tenang saja, aku akan menanyakan itu pada Allen nanti.”
“Ngomong-ngomong aku belum memberitahumu kan, aku akan menikah lusa.”
“HOLY ****! kenapa dipercepat? Bukankah seharusnya tiga bulan lagi?”
“Apa maksudmu dipercepat? Apa kau sudah tahu mengenai pernikahan ini?” Christine mengangkat sebelah alisnya, bingung.
“Ya, sekitar sebulannyang lalu dia menghubungiku. Mengingat pertunananganmu sampai batal dua kali jadi dia mengatakan kalau akan langsung menikahkanmu saja dengan Erick.”
Satu lagi fakta yang membuat Christine semakin bersedih. Christine kembali merasa kecewa tapi kali ini kecewa terhadap sahabatnya sendiri.
“Kau sudah tahu mengenai pernikahan sialan ini lebih dulu, tapi kau tidak memberitahuku?”
“Bukan seperti itu. Aku justru ingin menghubungimu dan menanyakannya langsung padamu tapi aku lupa karena terlalu sibuk. Maafkan aku.”
Christine terkekeh kecil. “Inikah yang disebut dengan persahabatan?”
“Christine bukan begitu maksudku, ku kira kau sudah move on dari Peter jadi aku merasa mungkin ini memang yang terbaik untukmu karena kau juga berhak bahagia.”
“Jadi kau lebih mengatahui kebahagiannku daripada aku sendiri? Kau bahkan berbohong padaku Lexy?”
“Aku tidak berbohong padamu!”
“Tadi kau bilang kalau kau sibuk, lalu barusan kau bilang ini yang terbaik untukku. Jadi yang mana yang benar?”
“Christine bu-”
“Kurasa sudah cukup Lexy, selamat malam.” Christine segera mematikan ponselnya.
Damn! Sebenarnya apa salahnya? Kenapa semua orang seakan paling mengerti tentang dirinya. Kenapa mereka semua tiba-tiba menjadi peramal yang tahu kebahagiannya. Christine tertawa miris, kenapa nasibnya begini sekali?
Ia bahkan tidak bisa menangis dengan mengeluarkan air mata. Entahlah ia merasa dadanya sangat sesak. Menangis juga seakan tidak ada artinya, tidak bisa mengurangi rasa sesak yang ia rasakan sekarang.
“Christine ayo makan malam.” ajak Kevin dari luar dengan suara yang terdengar frustasi dan menyesal.
Christine melirik jam dinding, yang ternyata sudah jam 6 p.m. Berapa lama ia merenungkan nasibnya? Ternyata sangat lama.
“Aku belum lapar.” kata Christine datar.
“Ayolah Christine, kakak tidak ingin kau sakit.”
Christine terkekeh kecil mendengar kalimat Kevin barusan, ia sudah mulai muak dengan semua orang, salah satunya adalah Kevin.
“Aku tidak akan sakit hanya karena terlambat makan sekali.” sinis Christine dingin.
Kevin menyerah, Christine sudah sangat kecewa padanya. Ia akan menunggu sampai besok pagi, saat sarapan.
Kevin akhirnya memilih makan malam sendiri di ruang kerjanya. Sementara Christine mulai memejamkan matanya sejenak, berharap sesak di dadanya sedikit berkurang.
Tapi rasa sesak itu tidak berkurang, membuat Christine semakin tersiksa. Ia benar-benar butuh waktu sendiri saat ini. Bukan di New York, kota ini terlalu ramai dan berisik.
Christine butuh waktu untuk memikirkan ulang kembali apa yang sudah terjadi, ia butuh ruang untuk mengintrospeksi diri. Dan yang paling dibutuhkan Christine saat ini adalah waktu untuk menenangkan diri.