He Is My Bad Boy

He Is My Bad Boy
40. Missing her



Lelaki berusia petengahan 20-an itu memasuki sebuah gedung pencakar langit dengan langkah tegap. Langkahmya yang berwibawa menunjukkan kalau ia bukanlah orang yang biasa-biasa saja. Meski usianya belum genap tiga puluh tahun, jangan meragukan kemampuannya dalam memimpin perusahaan cabang milik ayahnya ini.


Ia bekerja memang belum genap satu tahun, tapi pencapaian yang dibuatnya bahkan melebihi pencapaian para senior yang ada di kantor pusat.


Hal yang paling membanggakan tentangnya adalah, Ia baru saja berhasil memenangkan sebuah tender besar untuk membangun sebuah resort mewah beserta hotel bintang lima di Dubai. Sebagai pemenang tender tersebut, Peter mendapatkan sebuah rumah mewah bergaya Victoria.


Rumah mewah itu berada di sebuah pulau kecil di dekat Manhattan, tidak terlalu jauh dari pesisir pantai namun tetap memerlukan kapal atau boat untuk mencapai rumah tersebut. Karena letaknya yang cukup jauh dari kepadatan kota, akan sangat nyaman tinggal di tempat itu jika ingin menghindar dari kebisingan kota metropolitan. Rumah itu cocok untuk Josh jika nanti ia pensiun dari jabatannya. Orangtua seperti dirinya menginginkan ketenangan untuk menghabiskan sisa hidup. Setidaknya itu yang dikatakan beberapa waktu lalu agar Peter mau memberikan rumah itu padanya.


Josh bahkan menawarkan harga dua kali lipat agar ia bisa mendapatkan rumah itu, tapi sayang, anak sialan yang paling ia sayangi itu tidak berniat memberikannya. Tidak juga setelah ia memohon pada Peter.


Peter mengangguki setiap sapaan karyawan maupun karyawati yang ditemuinya ketika menuju lift. Semua orang yang melihatnya memberikan rasa hormat padanya karena berkat ke-geniusannya, kantor cabang Manhattan ini memiliki peluang untuk dijadikan kantor pusat menggantikan kantor yng ada di New York.


Peter mendesah pelan. Rasa lega menghampirinya ketika ia sudah masuk ke lift dan bersandar. Memejamkan mata sejenak dan kembali menghembuskan napas cukup kasar. Untungnya saat ini ia berada sendirian di lift sehingga ia bebas bernapas semaunya.


Peter keluar setelah lift terbuka di lantai ruangannya. Hana, sekretarisnya, tersenyum sopan meihat kehadirannya. Mungkin di dalam hati wanita itu mengatainya karena datang ke kantor terlambat. Tapi masa bodoh! Peter sangat lelah. Peter balas tersenyum sopan pada Hana lalu masuk ke dalam ruangannya.


Begitu masuk, Peter ingin mengumpat sangat kasar karena langsung disuguhkan tumpukan dokumen yang menangnti untuk di cek dan di acc olehnya.


Ayahnya bahkan sudah mulai membebankan pekerjaan CEO padanya tanpa bertanya terlebih dahulu, apakah ia bersedia atau tidak. Pekerjaan yang dibebankan pada Peter membuat ia merasa kalau saat ini sudah resmi menjadi pengganti ayahnya.


ARGGGHHHH!!


Peter berjalan ke mejanya dengan malas. Mulai membaca dan membubuhkan tanda tangannya di beberapa dokumen. Awalnya Peter memang meminta pekerjaan tambahan pada ayahnya agar ia tetap terjaga dari bayangan Christine. Nyatanya sampai detik ini, ia tidak bisa mengenyahkan bayangan pujaan hatinya itu dari kepalanya. Bayangan Christine masih selalu menemaninya. Suara, senyum dan raut wajah wanita itu silih berganti muncul di pikirannya. Bahkan sering kali tanpa persetujuannya Christine masuk ke dalam mimpinya. Memberikan mimpi yang indah, membuat Peter tidak ingin bangun lagi.


Sudah tiga bulan berlalu sejak terakhir kali ia bertemu Christine. Hingga saat ini, Peter masih belum menghubungi Christine lagi.


Meski sejujurnya ia memiliki keinginan yang begitu besar untuk menghubungi bahkan mendatangi wanitanya itu secara langsung. Rasa rindu sudah menghempiskan paru-parunya. Membuat ia kesulitan bernapas setiap kali mengingat betapa ia sangat merindukan Christine.


Tapi mengingat wajah dan ekspresi ragu yang ditunjukkan Christine padanya dulu membuat Peter harus kembali memendam keinginannya dan memberikan waktu untuk Christine untuk memikirkan ulang tentang hubungan mereka.


Peter memberikan waktu untuk Christine bukan berarti ia melepaskan wanita itu begitu saja. Christine sudah mencuri segala yang dimilikinya entah itu hati maupun kewarasannya. Melepaskan Christine sama saja dengan menjadi gila. Jadi apapun yang akan terjadi nantinya, Peter tidak akan melepaskan Christine. Tidak akan pernah.