He Is My Bad Boy

He Is My Bad Boy
34. Peter Dave Chrouch



Peter sedang mencoba menenangkan pikirannya sebelum bertemu dengan Kevin hari ini.


Waktu sudah menunjukkan angka tiga dini hari. Namun Peter masih juga belum bisa tidur. Untuk sekedar menutup mata saja terasa sangat berat. Ia butuh air untuk menyegarkan tenggorokan dan kepalanya agar bisa berpikir kembali.


Peter berjalan keluar dari kamar menuju dapur. Ia mendapati Allen juga sedang mengambil air dan minum. Ia memang masih menginap di apartemen Allen.


"Kau tidak bisa tidur?" tanya Peter.


"Lebih tepatnya kau yang tidak bisa tidur." balas Allen menuduh, membuat Peter hanya menatapnya datar.


Peter berjalan menuju kulkas dan mengambil air minum. Mengabaikan Allen yang menatapnya penasaran.


"Jadi apa rencanamu?" tanya Allen kemudian.


Peter yang semula ingin minum seketika mengurungkan niatnya dan memandang Allen bingung.


"Apa maksudmu?" tanyanya mengangkat sebelah alisnya. Tanpa menunggu jawaban Allen, ia menenggak air minum yang sudah ada digenggamnya.


"Lexy sudah mengatakannya padaku, Christine meneleponnya tadi malam dan menceritakan semuanya." kata Allen menunggu Peter selesai minum air. Tapi sepertinya ia harus menunggu beberapa saat. Peter menenggak air mineral itu sampai tandas tanpa berniat menghentikan aktivitasnya sebelum botol itu kosong.


"Kau haus sekali sepertinya." ucap Allen lagi kemudian tertawa geli.


Peter menghabiskan air yang ada di botol minum itu, dan membuang botolnya ke tempat sampah.


"Jadi apa yang akan kau lakukan?" tanyanya lagi.


"Aku akan menemui Kevin seperti permintaanya." katanya sambil meletakkan kedua tangannya di atas meja dapur.


"Apa yang akan kau katakan padanya?"


"Aku akan jujur padanya. Tentang dendam bodohku yang dulu, setelah itu akan akan meminta Christine baik-baik padanya." Peter menatap mata Allen dengan tatapan tegas. Seakan mengatakan kalau ia tidak akan mundur!


"Kalau dia tetap tidak mau merestuimu, bagaimana?"


"Aku akan terus berusaha."


Allen menghela napas panjang kemudian berkata. "Aku ingin mengatakannya sekali lagi, hitung-hitung agar kau mempersiapkan mental baja di hadapannya. He hates you so much, dude. Apapun yang kau lakukan, akan selalu salah dimatanya terlebih lagi jika itu menyangkut Christine, adiknya satu-satunya yang paling dia jaga."


"Apa kau tahu siapa lelaki yang dia jodohkan dengan Christine?" tanya Allen dan dijawab dengan anggukan oleh Peter.


"Apa kau tahu kalau dulu Christine menyukai lelaki itu?"


Berbeda dengan responnya yang sebelumnya, pertanyaan itu sukses membuat Peter membeku. Ia tidak tahu mengenai fakta yang satu itu.


Allen yang menyadari ekspresi Peter kembali melanjutkan kalimatnya, "melihat ekspesimu saat ini, aku yakin kalau kau tidak tahu mengenai hal itu." katanya pelan karena sedikit merasa bersalah pada sahabatnya itu. Apalagi melihat raut wajah Peter yang sangat kaku.


Allen menghela napasnyai lalu mencoba memberikan saran pada Peter.


"Seharusnya kau tidak perlu berusaha mengambil hati Kevin, persetan juga dengan hati lelaki itu. Kau hanya harus membuat Christine sangat-sangat jatuh cinta padamu. Kau harus membuat Christine yakin bahwa kau adalah orang yang paling ia inginkan. karena bagaimanapun juga Christine lah yang akan memilih dan menjalaninya di akhir."


"Apa menurutmu seperti itu?" tanya Peter.


"Sebenarnya kau ini polos atau bodoh?!" tanya Allen kesal.


"Tapi Christine sudah mengatakan kalau dia mencintaiku." kata Peter lagi.


"Ternyata kau memang benar-benar bodoh!" ucap Allen kesal, "Kukira dalam hubungan kalian, kau berperan sebagai laki-laki, ternyata kau berperan sebagai perempuan." sinisnya membuat Peter tidak terima.


"Kenyataannya memang terlarang, terlarang untuk Kevin." ucap Allen lalu tertawa terbahak-bahak kemudian berjalan menuju kamarnya meninggalkan Peter di dapur sendirian.


"Sialan!" gumam Peter setelah Allen menjauh.


Peter kembali ke kamarnya dan merenungkan kata-kata Allen barusan. Benar juga, dia memang tidak perlu bersusah payah untuk mengambil hati Kevin. Seharusnya dia mengambil hati Christine saja, karena bagaimanapun juga Christine lah yang akan menjalani kehidupannya entah dengan atau tanpanya.


________


Matahari sudah menunjukkan dirinya saat Christine berjalan ke meja makan dan ikut bergabung untuk sarapan bersama Kevin dan ayahnya. Suasana sarapan pagi itu cukup hening membuat William bingung, tidak biasanya seperti ini.


William mencoba untuk tidak peduli dengan keheningan yang mencekam ini. Namun tidak bisa karena ia tidak dapat berhenti melirik ke arah kedua anaknya yang terlihat menikmati makanannya masing-masing dalam diam.


Hal yang menurut William janggal. Sejak kapan kedua bersaudara ini makan dalam tenang?


Melihat raut wajah mereka berdua, ia tahu ada yang sudah terjadi yang tidak dia ketahui. Dengan memaksakan diri dengab rasa penasaran yang menggorogotinya, William kembali menikmati makanannya.


"Jadi kapan dia akan menemuiku?" tanya Kevin memecah keheningan namun ia bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari makanannya, membuat William mendongak menatap putranya itu bingung. Tapi sebelum ia bertanya pada Kevin, Christine lebih dulu mendahuluinya dan menjawab pertanyaan Kevin.


"Apa hari ini kakak ada waktu? Ia akan menemui kakak hari ini." kata Christine pelan.


Kevin mendongak menatap Christine sambil tersenyum miring.


"Ternyata dia punya nyali besar juga langsung menemui ku," kata Kevin meremehkan Peter. "Jam berapa dia akan menemuiku? Akan ku kosongkan jadwalku khusus untuk menemuinya." tambahnya lagi dengan nada congkak.


"Ada apa ini?" tanya William berusaha mengerti apa yang sebenarnya sedang dibahas oleh kakak beradik yang ada di hadapannya itu.


Tidak biasanya Christine bersikap lemah dan pelan seperti itu kepada Kevin. Biasanya anak perempuannya itu akan dengan senang hati mengeluarkan taringnya untuk membuat Kevin mengalah. Tapi kali ini Christine seolah hati-hati dan terlihat takut-takut kepada Kevin.


"Bukan apa-apa ayah." jawab Kevin santai.


Seolah jawaban Kevin kurang memuaskan, William beralih menatap Christine dan memberi isyarat agar putrinya itu mau bercerita. Tapi sepertinya memang tidak terjadi apa-apa diantara kedua anaknya itu setelah mendengar dari Christine kalau memang sedang tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Christine bahkan tersenyum seperti biasanya, tanpa beban saat mengatakan kalau mereka baik-baik saja.


Sayangnya William tidak puas karena kedua anaknya itu terlihat seperti perang dingin. William menghela napas rendah.


"Lalu kenapa kalian terlihat seperti sedang bermusuhan saat ini?" tanya William.


"Bukan hal yang besar ayah, mungkin lebih ke arah aku menyeleksi kriteria calon menantu untuk ayah." kata Kevin lalu tersenyum tipis pada William.


"Memangnya kenapa dengan Erick?" tanya William polos tapi berhasil membuat Christine tersedak dan batuk pelan.


"Sayangnya bukan Erick yang akan diseleksi sekarang, melainkan kekasih Christine yang baru. Atau lebih tepatnya orang lama tapi rasa baru." kata Kevin lalu tertawa. Sedangkan Christine sudah terlihat was-was. Ia mulai berdoa dalam hati, semoga kakaknya itu tidak memberitahukan mengenai hubungannya dengan Peter.


"Eh, Christine punya pacar lagi? bukannya kau sudah putus dengan Max? Apa kalian balikan?" tanya William.


"Eh, eum... bukan Max ayah." sahut Christine kikuk.


"Lalu siapa?"


Christine terlihat gelisah, Kevin menyadari hal itu tapi hanya diam saja. Untuk pertama kalinya Kevin, kakak yang paling dia sayangi dan banggakan tidak membantunya, melainkan membuatnya kecewa dan sedih.


"Peter Dave Crouch, lelaki yang sebelumnya ayah jodohkan dengannya" ucap Kevin santai sambil menunjuk Christine dengan dagunya.


"EH!"


Mata William membola tak percaya. Putrinya berpacaran dengan lelaki yang dulu pernah ditolak dan menolaknya?