
Mobil Peter sudah sampai di kediaman Haliane. Salah satu penjaga keamanan rumah itu mengenal Peter, karena pernah sekali mengantarkan Christine pulang.
“Ada yang bisa kami bantu tuan,” tanya salah satu petugas keamanan dari luar melalui kaca mobil yang dibuka.
“Aku ingin bertemu dengan Kevin,” ucap Peter dingin.
“Tuan muda masih di kantor saat ini sir,”
‘Di kantor?’ bukankah hari ini pertunangan Christine.
“Kalau begitu aku ingin bertemu dengan Tuan William,”
“Tuan besar saat ini juga masih berada di kantor tuan”
“Lalu siapa yang ada di dalam?”
“Saat ini tidak ada siapa-siapa tuan, hanya beberapa pelayan saja,”
Peter memicingkan sebelah matanya, tidak ada orang? “Bagaimana dengan Christine?”
“Nona muda juga tidak ada di dalam tuan”
Kening Peter mengkerut, kemana semua orang? Bukankah hari ini Christine tunangan? Kenapa semua orang ada di kantor? sebenarnya apa yang sedang dan sudah terjadi? Apa Christine tidak jadi tunangan? Kalau tidak jadi berarti Peter tidak perlu merasa marah seperti ini lagi kan?
“Kita ke kantor Kevin” perintah Peter pada supirnya.
Mobil yang ditumpangi Peter kemudian berbalik dan melaju meninggalkan kediaman Haliane. Peter kembali berpikir dengan keras, terdengar konyol jika memang Christine tidak jadi bertunangan.
Tapi bukankah biasanya acara seperti itu akan dilangsungkan malam hari? Arrghh Peter merasa kepalanya pusing memikirkan semua ini. Yang jelas jika seandainya Christine sudah bertunangan saat ini pun, ia tetap tidak akan rela. Bagaimana mungkin perasaan Christine cepat berubah?
Christine juga tidak berada di rumah, berarti saat ini gadisnya itu sedang berada di gedung yang mereka gunakan untuk bertunangan? Memikirkan jika saat ini Christine sudah menjadi milik orang membuat rahang Peter semakin mengeras.
Ia marah! Benar-benar marah saat ini, berani-beraninya Kevin menipunya. Ini sudah sangat keterlaluan. Ia tidak akan membiarkan Kevin baik-baik saja nanti. Jika memang ia sudah terlambat mengacaukan pesta perunangan Christine, setidaknya ia tidak terlambat untuk mengacaukan pesta pernikahan Christine nanti.
Tidak! Ia, Peter Dave Chrouch tidak akan pernah membiarkan Christine menikah jika budan dengannya, Ia tidak akan rela jika Christine harus menjadi milik orang lain. Christine hanya miliknya seorang, sekalipun Christine pernah menyukai orang itu, tapi saat ini Christine hanya mencintainya jadi ia tetap tidak akan membiarkan Christine menua bersama orang lain.
“Kita sudah sampai sir,”
Peter mengarahkan pandangannya ke sekeliling, ah ternyata memang sudah sampai. Ia terlalu banyak berpikir sampai-sampai tidak sadar kalau sekarang ia sudah sampai.
Peter menghirup udara dalam-dalam, ia berusaha menormalkan kemarahannya. Ia tidak ingin membuat kesalahan dengan langsung memukul wajah biasa-biasa saja milik calon kakak iparnya yang teramat sangat menjengkelkan itu.
Peter turun dari mobil dan berjalan memasuki gedung yang cukup tinggi itu dengan kharisma yang kuat. Gedung itu cukup tinggi, tapi tidak setinggi gedung perusahaannya. Peter berjalan dengan langkah tegap, tidak perlu berbohong jika banyak karyawati yang mengagumi ketampanannya. Peter sampai di meja resepsionis dengan wajah datarnya.
“Ada yang bisa saya bantu sir?” tanya resepsionis itu dengan malu-malu.
“Aku ingin bertemu dengan Kevin Christian Haliane,”
“Beliau ada di ruangannya di lantai 12 sir, tapi saat ini beliau sedang ada tamu.”
“Hmm.” Peter tidak peduli dan melangkah meninggalkan meja resepsionis itu dengan wajah datar, tanpa berniat tersenyum sedikitpun.