
Seorang pria berseragam biru tua khas sopir berdiri di depan pintu besar. Pandangannya lurus ke kotak tipis di samping pintu yang memancarkan sinar hijau. Tidak lama kemudian, sinar hijau itu tidak ada seiring terbukanya pintu. Putri kesayangan majikannya keluar dengan tas ransel di punggungnya.
Pak Dirga segera mengambil alih ransel tersebut.
Velicia melangkah lebih dahulu menuju lift. Kamarnya berada di lantai tiga, untuk memilih tangga sebagai jalan menuju lantai dasar terlalu lama. Gadis itu melangkah anggun begitu keluar dari lift.
Velicia beradu pipi dengan mama dan papanya begitu sampai di ruang makan. Sang Mama menarik kursi di sampingnya untuk mempersilakan putrinya duduk. Seorang gadis seusinya segera memberikan segelas air ke hadapannya. Dia belum terbiasa melihat Sumi, gadis belia yang seharusnya berada di dunia bebas harus terikat oleh kerjaan di bawah kekuasaan orang lain.
“Kamu mau ke mana, Vel? Rapi banget.”
Velicia mengambil roti yang sudah dilapisi cokelat tanpa ada niat menjawab pertanyaan Sumi.
“Bekal untuk Velicia sudah siap, Sumi?” tanya Felyana selembut mungkin.
Gadis berseragam asisten rumah tangga itu mengangguk. Dia mengambil langkah menuju dapur dan kembali lagi dengan sekotak bekal. Sumi menyimpannya di atas meja makan tepat di hadapan Velicia.
“Davidnya mau ke sini, Vel?” tanya Hans setelah menyelesaikan makannya.
“Iya.”
“Mama ketemu lagi dong sama anak ganteng itu.” Felyana ikut serta dalam perbincangan pagi antara dua orang yang selalu serius.
Tidak ada respon dari keduanya. Velicia menegak air putih tiga kali. Hans mengambil tisu dari kotaknya. Felyana berseru lemah, niatnya mencairkan suasana gagal total. Hadir di antara orang\-orang serius sangat menguji kesabaran, karena hidup mereka terlalu kaku.
Wanita itu berdehem sekali. "Sumi, maafkan Veli yang tidak menjawab, ya. Dia memang tidak suka ditanya hal yang nggak penting."
Velicia mendengkus pelan.
“Pak, Ibu, Oma tidak mau membuka pintu, katanya nggak mau makan.”
Wanita paruh baya yang baru hadir di ruang tersebut menjadi pusat perhatian tiga pasang mata. Velicia mengambil langkah menuju kamar omanya tanpa mengeluarkan suara kepada kedua orang tuanya dulu.
Felyana dan Hans berpandangan sekejap kemudian memilih mengikuti jejak Velicia. Begitu mereka masuk ke kamar wanita tua kesayangannya, Velicia sedang menyuapi omanya.
“Janji ya perginya nggak lama.”
“Kan kita bisa video call, Oma.”
“Nggak mau. Kalau di video call, Oma nggak bisa nyentuh wajah kamu.”
“Setelah pulang nanti, Oma puas\-puasin deh sentuh wajah Veli.”
Wanita itu mengecup lembut pipi cucunya.
Felyana dan Hans memilih kembali keluar karena Velicia sudah bisa mengatasi omanya. Baru saja munutup pintu, seorang perempuan yang masih agak muda menghampirinya.
“Ada tamunya Non Velicia, Bu. Sekarang ada di ruang tamu.”
Perintah Felyana diangguki perempuan itu. Hans meraih tangan istrinya kemudian membawanya pergi dari sana.
🎗🎗🎗🎗
Satu\-satunya gadis yang ada di mobil itu adalah Velicia. Di saat David dan teman\-temannya sibuk main ponsel, Velicia membuka laptop untuk merevisi novel keempat yang akan segera terbit. Gadis itu duduk di samping kursi kemudi, telingnya disumbat earphone bando.
“Vid, lo nemu cewek begitu di mana? Geulis pisan euy,” ujar sepupu David yang duduk di sebelahnya.
“Di kayangan,” jawab David asal.
“Gue serius. Kalau udah liat yang bening\-bening gitu jadi ngebet mau nikah.”
David yang daritadi sibuk dengan ponselnya menatap tajam sepupunya. “Sembarangan! Kuliah dulu yang bener, siap\-siap perang sama skripsi, nggak usah mikirin cewek dulu, Bang.”
“Aelah elo, Vid. Ngapain ingetin gue sama skripsi? Bocah kayak lo tahu apa sih.”
“Aa David aya telepon. Engal angkat.”
David segera melihat layar ponselnya yang menampilkan sebuah panggilan dari Jeani. Tidak ada yang tidak tertawa di dalam mobil itu kecuali Velicia. Mereka menertawakan hal sama, yaitu suara notifikasinya David yang menurut mereka lucu. Suara anak kecil perempuan bicara bahasa Sunda, menurut mereka terdengar lucu.
Sampai sepupunya David mengetuk\-ngetuk kaca mobil saking terpingkalnya dalam tertawa. “Gila, suara notif lo keren, Bung!” sahutnya.
“Ya, Jea ada apa?” David menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. “Emang gue harus lapor dulu sebelum melakukan apa\-apa? Enggak, kan?” Dia memutarkan bola matanya malas saat mendengar apa yang gadis di sebrang sana katakan. “Emang wajib izin sama lo?” Pemuda itu memijat pelipisnya. “Hanya sebatas sahabat, lo nggak berhak melarang gue.” Tanpa menunggu lama lagi, dia segera memutuskan sambungannya.
“Sadis banget, Bung!” ujar sepupu David sambil menepuk pundak David dengan keras.
Pemuda itu memilih diam daripada membalas. Matanya melirik Velicia. Sebuah ide muncul secara tiba\-tiba. Tangannya mengambul buku lalu menyobek selembar kertas. Senyum tipis terukir sambil mengeluarkan sebuah bolpoin.
“Bang Ega, ambil scene sekarang, yuk!”
Ega menampakkan raut terheran. “Serius?”
“Iya, ayolah!” David bersiap untuk menulis beralaskan papan dada.
Ega langsung mengambil kamera dan segera mengarahkannya kepada David. Pemuda itu menulis dengan lihai kemudian kertas tersebut dilipat menjadi sebuah pesawat. David mengarahkan pandangan ke gadis yang duduk di depan, senyumnya terukir lebar. Ega berkorban mengambil posisi jongkok dan mengambil tindakan mundur hingga kepalanya membentur kaca mobil untuk mengambil video mereka.
David mengulurkan tangannya ke depan untuk memberikan pesawat kertas tersebut. Velicia tentu saja kaget hingga refleks menengok ke belakang.
“And… cut!” Ega bernapas lega dan kembali duduk. Dia memutar ulang video yang baru saja diambilnya. “Good lah. Pas Veli nengok ke belakang tinggal di cut aja. Soalnya agak gimana gitu.”
Velicia yang tidak tahu apa\-apa menatap mereka penasaran. Wajahnya datar, sorot matanya tidak bersahabat. Hanya tatapan saja mampu membungkam empat laki\-laki di belakang.
David tersenyum kaku. “Sorry, kita nggak ngasih tahu dulu.”
Gadis itu mendengkus. Dia kembali memakai earphone dan melanjutkan kerjaannya.
“Gila, man, tatapan Veli membunuhku,” racau temannya Ega yang berkumis tipis duduknya di paling belakang.