
“Masalah itu ada untuk diselesaikan, Mas. Bukan lari sebelum semuanya selesai. Sampai kapan pun waktu tidak akan bisa menjelaskan kesalahpahaman ini. Karena kamu kuncinya.”
“Saya tahu bagaimana putriku, Han. Kerasnya dia, nekatnya dia, saya tahu semuanya. Saya memilih untuk mengalah sementara waktu, sampai Velicia tenang dan mau mendengar penjelasan.”
“Kenapa enggak sekarang, Mas? Meskipun Velicia tidak mau mendengar, coba saja kamu tetap jelaskan di depannya. Dia pasti mendengarkan.”
“Percuma dia mendengarkan tetapi dia tidak percaya. Untuk apa saya menjelaskannya?” Hans beringsut menutup kopernya. Ini pilihan terbaik. “Dia belum pernah menghadapi masalah besar seperti ini. Yang dia butuhkan saat ini adalah ketenangan. Dan dia tidak akan tenang selama saya masih ada di sini.”
“Bagaimana jika Velicia semakin kerja diluar batas setelah tidak ada kita?”
“Kamu tahu alasan Velicia tidak mau pulang? Karena dia kecewa sama saya. Dia kerja untuk melampiaskan amarah yang tidak bisa dia keluarkan. Saya tahu perasaannya dikhianati oleh orang yang disayangi. Dengan tidak adanya saya di sini, dia akan pulang. Setelah mamanya meninggal, kendali Velicia ada di omanya.” Hans tidak akan melupakan lembutnya Velicia di depan omanya, hal itulah yang membuat pria yakin bahwa ibunya mampu mengendalikan putrinya.
“Perlu berapa lama membuatnya tenang?”
Hans tidak tahu sampai kapan. Sifat Velicia adalah turunan dari dirinya sendiri. Hans tahu apa yang harus dia lakukan, maka dari itu dia akan pergi sementara waktu. Sungguh berat harus terpisah jarak dengan putrinya, tetapi ini yang terbaik. Ibunya saja mengusirnya, hal itu tentu membuat hatinya hancur sehancur-hancurnya.
“Ayo, pesawatnya terbang dua jam lagi.” Hans menekan kedua matanya untuk menyembunyikan air mata yang hendak keluar. Dia tanpa seorang istri terbaiknya terasa hampa dan tersiksa. Felyana penguatnya, hiburannya, hidupnya. “Sebelum itu kita ke makam istri saya dulu.” Istri, iya, Hans tidak salah bicara. Selama Felyana masih hidup di hatinya, dan akan selamanya hidup dalam hatinya, wanita itu akan abadi menjadi istrinya, tidak ada yang bisa menggantikannya. Sekalipun itu Hana, istri keduanya.
Hana menurut saja. Dia tidak punya hak untuk membantah.
****
“Kamu tuh cucu kesayangan Oma. Velicia yang cantik, cerdas, baik sama Oma. Selama kamu jarang pulang, Oma itu sering sedih. Kepikiran kamu terus.”
Manjanya Oma sukses membuat bibir gadis itu melengkung indah. Velicia kembali ke rumah atas permintaan papanya dan omanya. Pria itu memilih pergi ke Singapura, katanya untuk memberi Velicia ruang supaya menenangkan diri.
“Jangan kerja lagi, ya?” pinta wanita itu membuat Velicia langsung berontak dari pelukan omanya. Permintaan apa itu?
“Siapa yang akan meneruskan perusahaan Mama, Oma? Veli senang di sana, tempat itu yang membuat Veli merasakan artinya pertemanan.”
“Kamu akan capek. Oma juga butuh kamu di sini.”
Permintaan omanya sulit untuk Velicia tolak. Lagipula ada benarnya juga. Dia harus mempersiapkan diri untuk olimpiade itu. Bedanya manusia dan Tuhan adalah, manusia itu ada batasnya dan Tuhan tidak. Sejenius dan secekatan apapun Velicia, akan ada titik di mana dia akan lelah. Fokusnya untuk saat ini lebih baik ke olimpiade terlebih dahulu.
“Baik, Oma. Tapi nggak sekarang, ya? Veli usahakan untuk menyelesaikan masalah di kantor dulu dalam minggu ini.”
“Janji, ya?”
Gadis itu mengangguk dan tersenyum kemudian memeluk omanya dengan sayang.
“Veli izin keluar, ya? Sebentar kok.”
“Ke mana?”
“Ketemu David.”
“Davidnya ke sini aja. Mau ngapain memangnya?”
“Kami mewakili sekolah di International Chemistry Olympiad dan International Physcis Olympiad.”
Ekspresi Oma Rianti setelah mendengar hal tersebut lebih dari kata bahagia, suatu hal wajar saat orang tua mendengar anaknya berprestasi. “Kalian akan belajar, kan? Di sini aja. Kan di rumah ini banyak buku tentang kimia dan fisika. Nanti Oma ajak kalian ke perpustakaan Opa di kamar. Di sana itu banyaaak sekali bukunya.”
Benar. Daripada harus ke gramedia membeli buku, lebih baik mengobrak-abrik perpustakaan opa dan papanya yang ada di kamar masing-masing. Buku tentang sains pasti menumpuk di sana.
Tangan Velicia bergerak mengeluarkan benda cerdas dari sling bagnya, teringat suatu hal tentang Velicia tidak punya nomor David membuat pergerakan jari tangannya berhenti.
Ah, itu bukan masalah. Velicia segera membuka aplikasi instagram untuk mengirim pesan lewat direct massage kepada pemuda itu. Sejak kejadian di rumah sakit saat Velicia melempar ponsel hingga hilang, sejak itulah putusnya komunikasi gadis itu dengan pacarnya sendiri. Tidak ada teleponan, tidak ada saling kirim chat. Di mana ada pacaran yang seperti itu.
“Iya. Oma ke kamar dulu, ya. Bersihin perpustakaannya Opa, malu kalau calon suami cucuku lihat banyak debu.”
Astagfirullah. Seenaknya sekali itu bicara. Velicia hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah omanya. Itu hanya bercanda, perlu digaris bawahi.
Sepeninggalan omanya, Velicia sibuk dengan ponsel dan mulai memonitoring akun media sosialnya. Hampir dua bulan lebih tidak pernah memposting sesuatu atau sekadar membukanya saja tidak punya waktu. Bahkan ada DM dari PH atau akronimnya produksi house saja belum dibuka.
Matanya membulat sempurna, sebelah pipi ditepuk-tepuk sekeras mungkin memastikan bahwa ini bukan mimpi. Karya ketiganya diangkat ke layar lebar? O ya benar? Layar lebar? Di bioskop?
Untungnya Velicia punya wajah datar, meski hatinya sudah jingkrak-jingkrak, ekspresinya hanya menunjukkan seulas senyum. Itu DM tiga minggu yang lalu, beruntunglah belum terlalu lama. Dia segera membalas direct massage itu tanpa melunturkan senyumnya.
“Di dalamnya lebih gede! Rumah ini buat kalian betah… Velicia….”
Gadis yang sedang tumpang kaki sambil memainkan gawai tersebut menoleh ke arah pintu saat namanya disebut seseorang.
Empat orang perempuan dan dua orang laki-laki berdiri di depan pintu. Gadis yang daritadi membicarakan kemegahan rumah majikannya langsung gelagapan melihat Velicia bersantai di sofa.
“Eum… Vel, ini kita… kita mau kerja kelompok di sini.”
Velicia tidak menanggapi dan memilih berlalu dari ruang itu.
“Ini bener rumah lo kan, Sumi?” tanya pemuda urakan yang masih berseragam sekolah.
“Iya. Lo nggak percaya banget, sih? Velicia itu sepupu gue. Nyokap-bokap gue udah nggak ada, terus orang tuanya Velicia anggap gue anaknya. Gitu,” jelas Sumi untuk meyakinkan teman-temannya.
“Eh, kamar lo di mana? Pasti luas banget, ya?”
“Gila sih ini rumah. Kalau gue tinggal di rumah gini, gue kagak mau deh keluar rumah.”
“Mi, ajak kita keliling rumah ini, dong.”
“Oh, iya. Nanti, ya. Kalian di sini aja dulu, gue mau ganti baju,” jawab Sumi.
“Mau dong ikut ke kamar lo.”
“Euh… nanti. Gue mau beresin dulu kamarnya. Kalian di sini aja, oke? Jaga sikap, ya. Jangan malu-maluin gue, soalnya ada Velicia.”
Duh, gue kira Velicia nggak bakal pulang lagi. Percuma kalau Bapak dan istrinya pergi tapi dia pulang!
Teman-temannya Sumi di arahkan salah satu asisten rumah tangga untuk ke ruang tamu. Mereka terlalu norak, sampai duduk saja lebaynya minta ampun, segala diraba. Selang beberapa menit datanglah David dengan sepedanya. Velicia sudah berpesan untuk langsung masuk ke rumah dan temui gadis itu di tempat biasa Velicia. David langsung paham tempat mana, yang lantainya seperti laut itu.
“Itu siapa, Mi? ***** ganteng banget!”
Teriakan itu membuat langkah David yang hendak menaiki tangga terhenti. Seluruh mata memusatkan pandangan kepada David, hal itu membuatnya segera menaiki tangga. Mereka terlalu menakutkan bagi seorang David. Perempuan bar-bar bermake up tebal dan pakaian yang terlihat sok keren membuatnya bergidik ngerti. Cantikkan Velicia yang natural ke mana-mana.
Ternyata Velicia sudah duduk di sofa yang melingkari meja bundar. Kedatangan David dengan napas tidak teratur membuat gadis yang sedang bermain dengan I-Pad itu mengerutkan kening. “Kenapa?”
“Di rumah kamu ada hantu.”
“Hah? Siapa?”
“Cewek bar-bar di bawah sana.”
Seketika tawa Velicia pecah mendengar jawaban pemuda itu yang frontal sekali. Penilaian dari sudut pandang laki-laki saja seperti itu, apalagi dari sudut pandang perempuan. “Mereka teman-temannya Sumi, salah satu asisten di sini.”