
Mereka menjadi pusat perhatian. Namun, mereka tidak tidak terganggu oleh tatapan sekitar. Langkahnya beriringan menuju ruang kelas. Tidak ada satu orang pun yang hari pertamanya sekolah di antar orang tua, terlebih sudah tingkat SMA. Hanya Velicia yang seperti itu. Hans dan Felyana ikut serta masuk ke dalam kelas untuk memilihkan meja. Baru ada beberapa orang di kelas itu, mungkin kebanyakan masih mencari letak kelas.
“David sudah dipanggil ke sini, kan?” tanya Felyana.
Velicia belum sempat menjawab, seorang pemuda baru saja masuk kelas. “Itu orangnya,” katanya sambil menunjuk ke arah David dengan isyarat mata.
Felyana membalikkan badan dan langsung tersenyum lebar ketika melihat David. Dia menyalimi kedua orang tua Velicia, rasa hormat kepada yang lebih tua masih melekat dalam diri pemuda itu.
“Maaf, Om, Tante, aku telat.”
“Tante juga baru ke sini.”
Suara deheman pria membuat Hans menjadi pusat mata. Pria itu berdiri tegap dengan dua tangan dimasukkan ke saku celana. “Om titip Veli. Pastikan tidak ada sesuatu yang terjadi pada putri Om. Dan jika terjadi sesuatu, hubungi Om secepatnya.” Tegas, datar, itu sudah ciri khas Hans.
David mengangguk paham.
“Ya sudah, Mama sama Papa ke kantor dulu, Sayang. Baik-baik hari pertamanya.” Setelah mengecup singkat kening putrinya, Felyana mengusap lembut pipi kanan Velicia.
Hans mengulurkan tangannya dan lansung disambut Velicia untuk dicium.
Perlakuan dua orang itu adalah bentuk sayang kepada putrinya, hanya saja terlalu over. Velicia langsung duduk sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Rasanya malu diperlakukan seperti itu, mana di depan David, tapi dia tidak bisa menolak. Karena penolakan akan menorehkan luka di hati mereka. Dikekang sedemikian rupa, diperlakukan sespesial apapun, Velicia akan diam dan berusaha menahan malu. Itu adalah bentuk baktinya dia kepada orang tua.
“Hei, kenapa?” tanya David khawatir.
Velicia menghapus air mata yang tidak sengaja jatuh. Matanya menatap lekat pemuda yang berdiri di hadapannya. “Kamu tahu rasanya diperlakukan seperti itu?”
“Senang?”
“Iya. Terus malu.” Gadis itu menunduk malu. “Veli udah SMA, bukan anak SD lagi.”
“Harusnya kamu bersyukur. Di saat banyak orang di luar sana yang mau diperlakukan seperti itu, kenapa kamu yang mudah mendapatkannya malah tidak mau?”
Velicia mendengkus seraya menatap David. “Kamu nggak ilfil, kan?”
“Buat apa ilfil? Wajar kali. Wujud kasih sayang orang tua itu adalah hal paling membahagiakan bagi seorang anak.” David mengangkat tangannya, awal-awal memang ragu melakukannya, tapi dia berhasil mengelus rambut gadis itu. “Udah ah, jangan nangis. Istirahat nanti aku ke sini lagi, jangan ke mana-mana.”
Bagai anak ayam polos yang selalu menuruti perkataan induknya, Velicia mengangguk. David tersenyum senang kemudian keluar dari kelas itu.
Beberapa anak kelas sepuluh menyapa David saat berpapasan. Begitulah kelebihan menjadi panitia masa pengenalan lingkungan sekolah, di kenal oleh adik-adik kelas. Apalagi punya tampang, kaum hawa tidak bisa menyembunyikan rasa obsesinya.
Tepat ketika langkahnya di tengah tangga, suara yang tidak asing serta tepukan keras mendarat di bahu David.
“Dav, kok gue ditinggal?”
David menghentikan langkahnua. “Sorry.” Dia kembali melanjutkan langakah.
Gadis itu membulatkan mata atas respon sahabatnya. Hanya maaf?!
“Dav!” Dia menyusul David yang kini sudah di ujung tangga. “Lo jadi nggak asyik. Kenapa sih lo berubah? Gue salah apa? Dav!” Gadis itu meraih tangan sahabatnya. “Apa gue ada salah?”
“Nggak ada, Jea. Gue minta maaf, ya,” kata David sambil melepas cekalan Jeani. Pemuda itu tersenyum sekilas kemudian kembali melangkah.
Jeani menghelas napas. Kini sahabatnya berubah. Sekarang lebih kaku, datar, dan tidak suka diajak bercanda. Punggung David kian jauh, lebih kecil, hingga ditelan belokan koridor. Dia menggeleng tidak percaya, kelopak matanya berusaha menahan air mata.
🎗🎗🎗
Dia mengayunkan kedua kakinya. Jari-jari tangan mungil itu sedang sibuk menari di atas keyboard. Velicia tampak fokus pada apa yang dikerjakannya. Seseorang dari belakang berjalan pelan, tepat ketika sudah ada di belakang gadis itu, dua minuman kaleng yang dingin ditempelkan ke pipi gadis tersebut.
“David!” sentaknya. Hampir saja laptop di pangkuannya terjatuh.
Pemuda itu terkekeh geli seraya ikut duduk di samping Velicia. “Sama kakak kelas itu bicaranga yang sopan sedikit, dong. Panggil aku Kak David, gitu.”
“Males,” respon gadis itu dengan ekspresi datar.
Tidak ada respon.
“Vel—”
“Berisik!” Velicia bangkit untuk pindah tempat. Dia tidak suka dengan pertanyaan tidak penting.
Mereka tidak belum lama kenal, tidak tahu bagaimana sifat-sifatnya seperti apa. Di balik cantiknya gadis itu, ada sifat jutek. David mengelus dadanya sambil mengikuti Velicia. Saat ini masih bisa sabar menghadapi sikap cuek gadis itu. Lebih baik menurunkan egonya. “Aku mungkin salah, aku minta maaf.”
Tidak ada respon.
Lima hari penuh menghabiskan waktu bersama gadis itu, tapi David tidak pernah mendapat perlakuan seperti itu. Velicia tidak sedingin dan sedatar detik ini.
David memberika satu kaleng minumannya.
“Terima kasih.” Velicia mengangkat kedua sudut bibirnya.
Kenapa berubah secepat itu?
David kira ini adalah awal yang baik untuk mengajaknya berbincang. Sekarang akan dicoba. “Vel, kenapa kamu nggak mau diajak teman sekelas ke kantin bareng?”
Tidak ada respon.
Hening menguasai. David semakin penasaran dengan gadis di sampingnya.
“Tadi juga kenapa diajak kenalan cuma salaman aja? Mereka kan mau kenal sama kamu.”
Tidak ada respon.
Velicia sibuk mengetik, seolah tidak menganggap kehadiran David. Pemuda itu mendengkus, rasanya jengkel dikacangin Velicia.
“Vel, aku punya ide buat akhir video klip. Rencananya aku ambil latar di sekolah ini.” Pemuda itu harap-harap cemas. Semoga kali ini Velicia merespon.
Gadis itu menutup laptopnya. Di detik yang sama, mereka sama-masa menoleh hingga pandangan keduanya bertemu dalam satu garis. David tersenyum seraya menggaruk belakang lehernya. Ditatap seinsten itu oleh Velicia membuatnya gugup. “Kapan?”
Pemuda itu bersorak dalam hati karena Velicia merespon ucapannya. Meski hanya sath kata. “Ikut aku, ke sana sekarang.”
Velicia menurut saja ditarik David. Cekalannya tidak erat, justru terasa lembut. David membawanya ke arah tangga.
“Kamu kuat berlari di tangga?” tanyanya.
Tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua tidak lurus, melainkan ada belokan tepat di tengah tangga. “Kuat,” jawabnya yakin.
“Gimana kalau nanti kita lari di tangga sampai rooftop?”
“Hah? Yang benar aja?! Jauh banget.”
“Enggak langsung lari dari sini sampai rooftop kali. Kita lari sampai lantai dua, kalau capek, berhenti, istirahat dulu, terus dilanjut lagi. Pas di lantai lima, aku gendong kamu naik tangga sampai rooftop.”
“Terus?”
“Kita terbangkan balon udara sama-sama di atas sana.”
Gadis itu melengkungkan garis bibirnya ke atas. Bayangan akan aksi itu membuatnya berekspetasi tinggi. Dia langsung mengangguk. “Kapan shootingnya?”
“Besok.”
Velicia suka dengan David yang cepat beraksi. Mereka diam sesaat sebelum saling lempar senyum. Velicia menunduk malu karena pemuda di hadapannya menatap seinstens itu. Dia menyimpan laptopnya di depan dada, langkahnya manaiki tangga.
“Vel, ke mana?”
“Kelas.”