
Semuanya terlalu berat bagi Velicia. Gadis itu tidak mempedulikan pandangan orang sepanjang koridor yang menatapnya iba. Langkahnya cepat tanpa peduli beberapa kali menabrak orang. Di saat panggilannya sudah ditolak hampir sepuluh kali, dia berada di puncak marah, benci, jengkel, dan sedih membuatnya hilang kendali hingga melemparkan ponsel sembarangan. Di belakangnya pria berseragam hitam berlari mengejar. Sopir pribadinya khawatir sekaligus terkejut atas marahnya Velicia sampai seperti itu. Gadis yang biasanya memasang wajah datar, kini hanya ada sorot amarah dalam matanya.
“Mau pulang?” tanya pria itu menatap gadis yang matanya sembab.
Velicia langsung masuk mobil dan menutup pintu dengan keras, sampai beberapa orang di sekitar parkiran menatapnya penasaran.
“Jangan coba\-coba untuk mengatakan semua ini pada Oma.” Velicia menatap tajam sopir pribadinya lewat kaca spion. “Cari Papa sekarang juga!”
Pria itu mengangguk dan segera melajukan mobilnya. Pencarian dimulai dari laboratorium yang sudah menjadi rumah kedua untuk papanya, tapi tidak ada. Sampai ke luar kota, Velicia kunjungi itu. Hans bukan hanya ilmuan, dia memiliki perusahaan di batu bara di Purwakarta. Namun, di sana juga tidak ada. Gadis itu menatap tepi jalanan ditemani tangis yang tidak berhenti.
Ingatannya berputar ke masa empat hari yang lalu saat satu keluarga berkumpul untuk sarapan. Felyana meminta Hans untuk mengurus perusahaannya tanpa memberi alasan. Hari itulah awal papanya berubah. Pulang selalu larut malam, sering tertinggal sarapan bersama, bahkan Velicia belum bertegur sapa dengan papanya sudah lebih dua hari.
“Kita ke kantor Mama,” katanya dengan suara serak.
Sudah hampir pukul dua belas malam, dari sore tadi Velicia tidak berhenti menangis. Pak Dirga memarkirkan mobil di depan sebuah toko yang buka 24 jam. Dia tidak mau mengambil risiko saat bertugas menyopiri putri majikannya dalam keadaan mengantuk.
Gadis itu mengangkat kakinya untuk ditekuk. Dagunya disimpan di atas lutut seraya memukul\-mukul kepala. Velicia yang tidak pernah punya masalah dalam keluarga langsung terpukul begitu ada satu masalah datang. Dan dia belum siap untuk menghadapi masalah itu.
“Neng Ayu, ada telepon dari Bapak.”
Velicia langsung mendongak dan segera merampas ponsel Pak Dirga. “Pa—”
Suara tidak jelas mengusik pendengarannya hingga ucapan papanya tidak jelas. Gadis itu menjauhkan ponsel tersebut karena tidak tahan dengan suara tidak jelas dari sebrang sana. “Pap… bal… ssstt… ga.”
Suara papanya semakin tidak jelas hingga sambungannya terputus begitu saja. Gadis itu semakin kacau sampai menjambak\-jambak rambut sendiri. Velicia bebas memaki diri sendiri sebelum akhirnya Pak Dirga kembali ke mobil dan berusaha menghentikan aksi gadis itu.
“Neng Ayu teh kenapa? Jangan gini atuh, Neng. Bapak pasti ketemu. Tadi Bapak bilang apa saat nelepon?”
Velicia menenggelamkan kepalanya dalam tekukan lutut. Dia tidak ada keinginan untuk menjawab pertanyaan bodoh itu. Pak Dirga menggeleng pelan menunggu jawaban atas pertanyaannya, tapi Velicia seperti tidak akan menjawab.
“Ya udah atuh, Neng. Jangan nangis lagi, ya. Sekarang mau pulang atau ke kantor Ibu dulu?”
“Kantor Mama,” ucapnya lirih tanpa mengubah posisi.
Tidak ada hasil atas pengorbanan semalaman untuk mencari papanya. Velicia pulang dengan keadaan kacau. Beruntunglah penghuni rumah sudah tidur semua. Dia menyempatkan untuk mengetuk pintu kamar papanya. Setengah jam mengetuk dan memanggil-manggil di depan pintu, tapi tidak kunjung ada sautan. Papanya belum pulang, itu kesimpulan yang Velicia ambil.
Penampilan Velicia semakin kacau karena tidak tidur dan nangis semalaman. Awal hari yang dijalani Velicia adalah melamun. Bahkan dia tidak peduli panggilan asisten rumah tangganya datang silih berganti untuk menyuruh makan.
“Veli, ini aku, Sumi. Oma nanyain kamu daritadi.”
Gadis itu berjalan lesu menuju kamar mandi untuk memperbaiki penampilannya. Meski tetap saja mata sembabnya terlihat secara nyata. Mungkin sudah saatnya wanita paruh baya itu tahu tentang kondisi menantunya.
Begitu pintu terbuka, mata besar Sumi membulat sempurna melihat penampilan gadis di depannya. Mata sembab dan hitam, rambut tidak serapi biasanya, kaos tangan panjangnya kusut, celana selutunya terlipat sebelah sampai lutut putih itu terlihat. Gadis yang biasanya selalu sempurna jika keluar kamar, kini....
“Kamu?” Sumi kehilangan kata\-kata melihat penampilan Velicia, meski gadis itu masih terlihat cantik menurutnya. “Vel, kamu kenapa? Nggak sekolah?”
Gadis itu tidak mempedulikan pertanyaan tersebut. Baru saja ingin menuruni tangga, seorang asisten rumah tangga berbadan gempal menyodorkan sepiring makanan dan segelas air. Velicia belum bisa mengendalikan emosinya. Dua benda yang ada di tangan wanita itu dilempar keras ke tangga membuat Sumi dan wanita gempal itu menganga dengan mata membulat penuh.
“Vel....”
Velicia yang selama ini jika sedih, marah, dan senang tidak pernah menunjukkan ekspresi, kini terlihat aslinya. Selama ini belum pernah menghadapi masalah serumit ini, karena hidupnya terlalu dipenuhi kasih sayang. Sekalinya diberi masalah, langsung seperti ini. Omanya yang sudah sakit\-sakitan, mamanya harus dioperasi, dan papanya hilang entah ke mana. Gadis itu berlalu menuju lift meninggalkan dua orang yang terkejut atas tindakannya.
“Dia kenapa sih sok berkuasa banget?!” kesal Sumi setelah pintu lift tertutup sempurna. “Nggak pernah ngehargain orang, hidupnya mau seenaknya aja!”
Wanita gempal itu menatap gadis berseragam abu dengan pandangan tidak suka. “Ih, lu iriii ya sama Nona? Wajar kali Non Veli mau berkuasa. Orang dia punya segalanya. Emang elu…” Dia tertawa keras untuk mengejek gadis tidak tahu diri itu. “Jadi pembantu aja belagu.”
“Diem, Inem! Gue nggak suka sama dia!”
Velicia langsung memeluk omanya yang sedang duduk dari samping. Perlu keberanian untuk mengatakan semuanya. Velicia terlalu takut kondisi wanita paruh baya kesayangannya drop mengetahui apa yang terjadi dengan menantunya.
“Kenapa, Nak?”
“Oma….” Velicia kembali mengeluarkan air mata dengan deras. Dia terisak hebat membuat wanita paruh baya itu khawatir kepada cucunya. “Papa udah pulang, Oma?”
“Mirna bilang tidak ada jawaban. Mungkin Felyana dan Hans masih tidur.”
Tebakan omanya menusuk hati gadis itu. Sampai sepagi ini, papanya belum pulang. “Oma….”
“Ada apa, Sayang?”
Velicia kembali menurunkan air matanya. Dia setengah sanggup dan tidak untuk mengatakan semua itu. “Mama….” Gadis itu semakin mengeratkan pelukan pada omanya. “mama di rumah sakit. Mama… mama sakit, Oma.”
Wajah wanita itu seketika tegang. Hal itu yang ditakutkan Velicia.
Gadis itu langsung mengusap\-usap lembut lengan atas omanya. “Oma tenang, ya. Mama pasti sembuh, mama kuat.”
“Menantuku….”
“Mama pasti kuat.”
“Menantuku sakit apa?!"