
Cara untuk membungkam mulut orang yang merendahkan adalah dengan menunjukkan bahwa kita bisa. Ketika masuk ke ruang meeting, tatapan client seakan tidak percaya melihat pemimpin perusahan adalah gadis kecil yang notabenya murid SMA. Tatapan dan cibiran merendahkan membuat gadis itu memiliki dendam. Lihat saja nanti, dia akan membuat mulut-mulut itu tidak berkutik.
Pak Andri mengangguk disertai senyum, dia yakin bahwa gadis kecil itu bisa.
Velicia menekan tombol power laptopnya, sebuah proyektor memantulkan tampilan monitor. Presentasi dimulai. Pembawaannya yang santai dan bicaranya yang fasih menambah nilai plus untuk gadis itu. Inilah pembalasan dari seorang Velicia yang tadi direndahkan. Presentasi berlangsung selama dua jam dengan totalitas. Slide terakhir yang Velicia tampilkan adalah sebuah rumah minimalis dua lantai tiga dimensi lengkap dengan halamannya. Dia menutup presentasinya dan langsung disambut tepuk tangan serta wajah berseri.
Menekan diri belakangan ini untuk merampungkan projek tersebut bukanlah perjuangan biasa. Siang-malam bekerja, bertanya ini-itu kepada Pak Andri, memanfaatkan buku dan internet sebagai referensi. Bisa tidur satu jam saja adalah kenikmatan yang tidak akan Velicia sia-siakan. Dia menekan kedua matanya, dalam, berusaha mengusir pusing yang mendera. Semalam tidak tidur, sarapan hanya selembar roti. Ah, ternyata dunia kerja sekeras ini.
Pak Andri langsung menghampiri gadis itu setelah merasa ada yang tidak beres. Beruntunglah meeting hari ini sudah ditutup, Velicia langsung keluar seraya memijat kedua pelipisnya.
“Tolong belikan makanan, ya. Sama air mineralnya satu botol,” pinta Velicia kepada sekretarisnya. Dia langsung menjatuhkan kepala di permukaan meja.
Tak lama kemudian, Pak Andri masuk ke ruangannya untuk memastikan gadis itu baik-baik saja. “Obatnya sudah dimakan?”
“Nanti.”
“Ya sudah, istirahat dulu. Saya belikan makanan dulu, ya.”
Velicia menegakkan tubuhnya. Mata sayu dan wajah pucat sangat mengkhawatirkan. “Mbak Mia udah disuruh Veli buat beli makanan.”
“Baguslah.”
Gadis itu beranjak menuju sofa selepas kepergian Pak Andri dari ruangannya. Kepalanya terasa berat, tubuhnya meronta minta diistirahatkan. Setidaknya tidur beberapa menit akan cukup untuk memanjakan fisik. Namun, nyatanya, tidak seperti yang diharapkan. Baru saja beberapa menit memejamkan mata, sekretarisnya masuk ke ruangannya dengan membawa sekotak makanan.
“Sebaiknya Velicia pulang dulu, biar kerjaannya saya yang handle. Memaksakan fisik yang lemah untuk bekerja hanya akan memperburuk kondisi.”
Velicia mengangguk lemah, tidak ada salahnya mengistirahatkan fisiknya sehari supaya besok bisa kembali kerja lagi. Baru saja empat sendok nasi yang masuk ke mulut, suatu cairan yang terasa panas di tenggorokan berontak ingin keluar. Tangan kanannya membekap mulut untuk menahan nasi yang sudah dikunyah keluar dari mulutnya. Dia segera berlari dari ruangan ke teoilet untuk memuntahkan isi perutnya.
Mia segera menyusul bos kecilnya dengan raut khawatir. Melihat gadis itu tersiksa membuatnya iba. Dia mengusap belakang leher Velicia kemudian merengkuhnya setelah selesai memuntahkan nasi yang tadi dimasukkan. Gadis itu dipapah untuk kembali ke ruangannya. Mia membuka tutup botol air mineral kemudian disodorkan kepada bos kecilnya.
Ada yang salah dengan tangannya ketika menerima botol itu. Tangannya gemetar hingga botol itu terjatuh sebelum isinya diminum.
“Astagfirullah,” ujar Mia terkejut.
“Veli pulang sekarang aja,” putusnya seraya berdiri. Wajah pucat mendominasi, fisiknya benar-benar tidak bisa diajak kompromi. “Mbak, tolong bawa barang-barang Veli ke mobil.”
****
“Biasanya Veli pulang jam berapa, Pak?”
Lelah, itu pasti. Sudah seminggu lebih tidak pernah absen mengunjungi rumah Velicia, tapi sang puan rumah selalu tidak ada. Jika saja sahabatnya tidak membutuhkan sosok Velicia, mana mungkin dia mau berkorban selama ini.
“Lebih baik Mbak Jea temui Non Veli di kantornya. Bapak juga nggak tahu Non Veli akan pulang jam berapa, semalam saja tidak pulang.”
“Tiga hari yang lalu saya ke sana, Pak. Tapi, Veli lagi ada urusan di luar kantor katanya. Ditungguin sampai sore nggak ada terus.”
“Aduh, gimana, ya, Mbak. Soalnya Non Veli sibuk banget.”
Jeani berseru lemah di depan gerbang menjulang tinggi itu. “Emangnya Veli kerja apa sih? Udah kaya juga,” cibirnya.
Sebuah mobil putih mengeluarkan klakson dari jarak lima meter dari gerbang. Satpam yang bernama Peto bergegas membuka gerbang. Wajah tak bersemangat Jeani berubah drastis melihat mobil yang memasuki halaman luas rumah Velicia. Dia hafal sekali mobil yang biasanya Velicia pakai.
“Itu Veli, kan?” tanya Jeani.
“Iya.”
Jeani mengembangkan senyum dan berlari mengikuti mobil itu. Seorang gadis keluar dibantu oleh seorang pemuda berpenampilan pecicilan. Tampak terjadi sesuatu dengan Velicia sampai berjalannya dipapah seperti itu.
“Vel,” panggilnya seraya menghampiri dua orang yang baru saja menginjak teras rumah.
Velicia berbalik, wajahnya pucat sekali. Jeani tidak bisa menyembunyikan keterkejutan itu.
“Ada apa?” tanya Velicia dengan suara rendah.
“David….”
“Kita ngobrolnya di dalam.”
Setiap kali akan istirahat, selalu saja terganggu. Seakan alam menginginkan Velicia terus memutar otaknya. Kehadiran Jeani dengan tujuan yang jelas. Gadis itu harus menunda waktu istirahatnya. Mereka bertiga kumpul di ruang tamu, awalnya tanpa pembicaraan, selang beberapa menit akhirnya Jeani angkat suara.
“Gue nggak jadi ke Jerman gara-gara David,” ujarnya lalu memberikan ponsel kepada Velicia.
Sebuah video yang ditampilkan layar 6 inchi itu awalnya membuat kening Velicia bergelombang. Video itu hanya menunjukkan sebuah kamar yang berserakan, ada gitar rusak, luanchpad menjadi beberapa bagian. Namun, di detik akhir video tersebut ada seorang pemuda yang duduk bersandar pintu, wajahnya muram, seperti tidak punya semangat hidup.
“Mana mungkin gue meninggalkan sahabat yang lagi terpuruk. Dia begini karena lo, Vel. Lo sih yang main ajak David buat cover lagulah, buat film pendeklah, dia jadi nggak fokus belajar. Sekarang prestasinya nurun, David juga yang disalahkan. Tapi, gue nggak akan menyalahkan lo, karena David butuh lo.” Jeani menerima ponselnya yang dikembalikan oleh Velicia. “Bokapnya marah karena dia enggak bisa mempertahankan prestasinya. Alat musik dan kameranya di rusak, David dimaki habis-habisan, dan sekarang semakin ditekan.”
“Terus?” Velicia mengangkat sebelah alisnya. “hubungannya sama Veli apa?”
“Cuma lo yang bisa buat David semangat lagi. Lo harus tahu seberapa hancurnya dia sekarang. David yang gue kenal itu bukan seorang pemurung, tapi sekarang….”
“Besok, suruh David buat ke sini.”
“Buat apa?” tanya Jeani bingung.
“Tinggal nyuruh apa susahnya, sih? Ke rumah ini, pukul delapan,” suruhnya dengan tatapan mengintimidasi.
Ini yang tidak Jeani sukai dari Velicia. Ucapan ketusnya. Dia bela-bela ke sini untuk meminta bantuan, tapi tidak dihargai. Padahal, tujuannya ke sini untuk membawa Velicia menemui sahabatnya.
“Vel, gue mau lo temui David, buat dia semangat lagi.”
“Nggak,” bantah Ario melemparkan tatapan tajam ke arah Jeani. Velicia sedang sakit, dia tidak akan membiarkan gadis kesayangannya keluar dari rumah sebelum sembuh total. “Lo siapanya sampai berani suruh-suruh Veli? Punya hak apa?”
“Jangan, Kak. Udah, Veli mau istirahat.”
Jeani tidak kalah melemparkan tatapan ke Ario. “Maaf ya, Kak. Tapi, sahabat gue butuh Velicia.”
“Tapi, Velicia butuh istirahat. Sekarang lo pulang, pintu ada di sebelah sana.” Ario menunjuk ke arah pintu. “Bilang sama David-David itu, besok harus ke sini pukul delapan,” katanya penuh penegasan di setiap kata yang dikeluarkannya.