For The World We'Re Gonna Make

For The World We'Re Gonna Make
Mari Kita Satukan



 


Akhir pekan yang membahagiakan. Disaksikan pasang mata yang lari pagi dan menikmati udara segar, dua pasang remaja itu terlihat romantis. David menuntun Velicia bersepeda disertai modus sedikit. Namun, gadis itu tidak tahu bahwa David memegang tangannya di stang adalah sebuah modus. Yang dia pikirkan hanyalah ingin bisa bersepeda, tidak lebih. Bahkan, jarak sedekat itu saja tidak berpengaruh padanya.


“Aku lepas, ya?” tanya David.


“Nggak boleh. Nanti Veli jatuh, bagaimana?”


“Dimarahin Papa kamulah.”


Gadis itu tersenyum penuh kemenangan. Mereka ditatap iri oleh orang\-orang yang berkunjung ke taman komplek perumahan Velicia.


Tiba\-tiba terlintas ide dalam tempurung kepala pemuda itu. Dia menarik rem untuk menghentikan sepeda dan otomatis kaki Velicia turun ke paving block. “Tunggu sebentar,” katanya seraya pergi. David menuju ke bawah pohon untuk mengambil sebuah batu. Arah langkahnya ke depan Velicia, tepat delapan meter dari jarak sepeda itu. Dia menyimpan kamera yang tadi dikalungkan di pavibg block dengan batu dipakai sebagai ganjalan. David menyetting dulu kameranya sebelum menghampiri gadis yang masih di atas sepeda. “Siap, ya?”


“Siap apa?”


Pemuda itu tersenyum sambil memajukan sepeda. Velicia tersentak atas tindakan cerobohnya David. “Santai, oke? Gayuh sepedanya.”


Velicia mengangguk dan menuruti perintah pemuda itu. Rambutnya berterbangan akitbat embusan angin. Sekarang dia mengerti atas perintah David. Senyumnya dilempar lebar ke arah kamera. David memandangi setiap inchi wajah gadis di sampingnya, senyum manis terangkat perlahan.


Dua meter lagi ke jaraknya ke kamera, David kembali menghentikan sepeda lagi. Dia mengambil kamera itu. “Istirahat dulu, yuk!” David kembali mengalungkan kamera sebelum memegang sepeda. Velicia turun dari sana dan berakhirlah dia yang menondorong sepeda itu sampai ke bangku taman.


Mereka menonton video berurasi dua belas detik itu membuat bibir keduanya terangkat kembali. Perbincangan mengenai David yang suka fotograpi membuat Velicia termenung sejenak. Arah matanya menatap ke depan, pikirannya melayang ke detik\-detik saat membuat video klip bersama pemuda itu.


Merasa iba kepada David yang tidak punya kebebasan dalam mencapai impiannya menggerakkan hati. Apa yang harus dia lakukan untuk membantu pemuda itu?


“Dulu, aku kira buat konten itu mudah. Terus dapat subscribers itu gampang. Ekspetasiku saat SMP terjun ke youtube dijatuhkan realita begitu aja. Udah empat tahun lamanya di youtube, subscribe aku baru seribu empat orang. Itu pun bisa mencapai seribu karena promosi yang dilakukan kamu saat aku posting nyanyi lagu Teman Cintaku.”


Tiba\-tiba Velicia menepuk pundak pemuda itu dengan keras. “Gimana kalau kita buat film pendek lalu diunggah di channel youtube kamu.”


“Hah?”


“Bagaimana orang lain mau nonton kamu kalau jarang mengunggah video. Update secara rutin itu penting, David. Sedangkan kamu uploud sesuatu di youtube paling cepat sebulan sekali.”


“Buat film pendek kan nggak mudah.”


“Kita bisa kolaborasi. Ajak juga sahabat kamu itu. Oh iya, cover lagu itu udah kamu rilis?”


“Belum. Aku malah ragu.” Pemuda itu menghela napasnya lelah. “Yang nontonnya pasti sedikit, padahal biaya untuk cover lagu itu … kamu tahu sendirilah.”


Velicia semakin dibuat kasihan oleh ekpresi sedih pemuda itu. David menunduk lemah, kedua sikut ditumpu ke paha, kedua tangannya tegak memegangi kepala. Sebenarnya dia tidak suka dengan orang yang takut sebelum melawan, seperti David ini. Namun, rasa ingin membantu pemuda itu mewujudkam mimpinya membuat pandangan tidak sukanya lenyap begitu saja.


“Bagaimana mau sampai ditujuan jika kita tidak mau mengambil langkah maju, David? Semuanya butuh keberanin, pengorbanan, dan mental,” nasihat gadis itu membuat David kembali menegakkan tubuh. “Sekarang, apa yang kamu ragukan?”


Pemuda itu memilih bungkam.


“Nanti Veli bantu promosi. Jangan mengedepankan pesimis kalau mau maju.”


Dengan hati yang perlahan membaik. David mengangguk sambil tersenyum. “Makasih.”


“Bagaimana kalau cover lagu itu buat hadiah ulang Veli? Sekitar dua minggu lagi, kok. Dirilisnya tepat hari ulang tahun Velicia pukul 00.00.”


Velicia tersenyum penuh harapan akan permintaannya pada pemuda itu.


“Tanggal?”


“14 Oktober.”


Memberikan hadiah tentu saja. Velicia adalah teman bermimpinya, dia akan mengabulkan permintaan princess bocahnya. “Ulang tahun yang keberapa?”


Velicia tersenyum ditutupi kedua tangannya. Dia menunduk malu untuk mengatakan umur.


“Malah senyum lagi.”


Gadis itu mendengkus seraya menegakkan duduknya. “Empat.”


“Eh, serius, ya.”


“Veli kan masih kecil.”


“Bodo amat.”


“Ih, David! Katanya udah baca semua novel karya Veli. Kok kamu nggak tahu?” tanyanya merajuk.


“Yuk ah, belajar sepeda lagi,” ajaknya untuk menghentikan obrolan mereka.


Velicia memajukan bibirnya sebagai ekspresi tidak suka. “David jadi jahat sama Veli.”