
Suara Haris J menyanyikan lagu Save Me From Myself memenuhi ruang 5 × 3. Pemuda itu searching lirik lagu tersebut di laptopnya. Kepalanya diangguk-anggukan seiring musik yang keluar dari ponsel. “And I want to change I need You her with me… Allah… Allah… Allah save me from my self.”
Pemuda itu tenggelam dalam alunan musik dan liriknya yang seperti mengingatkan. Merenung dalam hal ingin kembali lagi pada\-Nya adalah suatu kegiatan baik di sore hari yang melelahkan. Setelah bertanding badminton di sekolah dan menggayuh sepeda sepanjang lima kilo meter, sekarang waktu istirahatnya ditemani suara pemuda bule itu, rasanya seperti di surga dunia.
“David, ada Jea, tuh.”
Desahan pendeknya keluar seraya memutar bola mata. Rasanya malas jika harus menghabiskan waktu istirahat bersama gadis itu. “Nanti aku ke bawah, Bun.”
Wanita awet muda itu berlalu dari depan pintu kamar anaknya.
David malas keluar kamar, menuruni tangga, dan bertemu sahabatnya. Ketenangan yang tadi ada seketika hilang begitu saja saat bundanya mengatakan ada Jeani di rumahnya. Gadis itu tengah membaca novel di ruang tamu. Dia berjalan malas menghampirinya. “Ada apa?” tanyanya selembut mungkin.
“Baca novel lo.”
David langsung membulatkan mata saat melihat novel yang Jeani baca. Isyarat dan Kenangan? Dia merebut secara kasar membuat gadis itu tersentak. “Nggak boleh baca.”
“Kok gitu, sih? Lo juga sering baca novel gue.”
“Ini novel pertama gue, dari Veli. Lo nggak boleh baca,” tegasnya seraya menyimpan novel itu di pangkuannya.
“Lo beli langsung dari Veli?”
“Dikasih plus kaosnya.”
Jeani membulatkan mata. “Kok gue nggak tahu?! Udah sejauh apa lo sama Veli sampai deket kayak gitu?” tanyanya memandang curiga.
“Temenan,” jawabnya jujur. Namun, Jeani memicingkan matanya seolah tidak percaya. “Lo ngapain ke sini?”
“Mau curhat aja.”
Pemuda itu tidak merespon.
“Gue suka banget sama Veli. Dia itu baik, meski kadang mukanya datar gitu kalau di sekolah. Dia cantik banget, pakai baju apapun tetap cocok. Sumpah, gue nggak nyangka diajak acting bareng dia. David, bisa sekolah sama dia aja rasanya bahagia banget, apalagi diajak main film pendek sama lo dan dia.”
Semua tentang Velicia membuatnya semangat. Dia yang tadi malas menanggapi Jeani karena dirasa tidak akan ada pembahasan penting berubah menjadi semangat jika ada sangkut pautnya dengan gadis sempurna itu. “Dia itu sempurna, kan? Cantik, baik, penolong, multitalent, selalu memotivasi, dan masih banyak lagi. Beda kayak lo, yang bisanya cuma buat gue pesimis.”
“Ishh, lo jahat gitu sama gue. Ngomongin orang di depannya langsung, dasar aneh.”
“Biar nggak dosa.”
Jeani menatap tidak suka, tapi kekehannya keluar. “Tapi buat gue sakit hati,” jujurnya.
“Itu juga yang gue rasain pas lo rendahin gue. Kayak hancur.”
Sekarang David lebih berani bicara sadis kepada sahabatnya sendiri. Padahal, David adalah pemuda yang lemah lembut padanya, sahabat terbaik yang selalu melindungi. Sekarang, pemuda di hadapannya bukan David yang dikenalnya. “Gue begitu karena mau ingetin lo. Silakan bermimpi sebanyak apapun, tapi nggak untuk diwujudkan.”
David malas jika sudah berada di pembahasan ini. Menghargai Jeani bicara, oke dia lakukan. Namun, untuk memasukkan kata\-kata Jeani dalam hati, tidak akan pernah. Dia lebih percaya Velicia, bahwa dia pasti bisa membuat mimpi itu jadi nyata
“Gue nggak suka lo deket sama Veli, Dav. Gue emang suka sama Veli, ngafans banget, tapi gue benci kalau lagi deket sama lo.”
Sebenarnya David tahu maksud dari arah ucapan itu. Hanya saja dia tidak bisa menanggapinya. Bicara soal rasa dengan gadis itu adalah kesalahan. “Veli buat gue nyaman, Jea. Banyak hal yang terjadi kalau sama dia. Beda sama lo. Selama ini pembicaraan kita nggak ada yang penting.”
“Udah, ya. Gue nggak mau bahas Veli sama lo. Gue ke sini mau pinjam novel Isyarat dan Kenangan. Boleh, ya?” mohonnya penuh harap disertai puppy eyes.
“Besok gue antar lo beli norvel itu. Gue yang bayar. Untuk novel ini.” Pemuda itu mengangkat novel karya Velicia. “nggak ada siapa pun yang boleh meminjamnya.”
Jeani menunduk sedih atas perlakuan David padanya. Pemuda itu sampai segitunya menjaga pemberian dari Velicia. Kenapa harus seperti itu? Betapa David sangat menyayangi gadis kecil itu.
“Sorry, hari ini gue terlalu kasar sama lo.” David memaksakan untuk tersenyum kepada sahabatnya sebagai pamit untuk pergi lagi ke kamar. Langkah santainya menaiki tangga tidak lepas dari pandangan Jeani. David yang dikenalnya berubah.
David sadar akan perubahannya. Namun, sejak bertemu Velicia, rasanya tidak ingin berjauhan dari gadis itu. Setiap ada di dekatnya, ada semangat yang membara dalam dada. Sikapnya yang menjauh dari Jeani bukan karena Velicia, tapi hatinya tidak menginginkan dekat dengannya. Sikap Jeani yang selalu merendahkannya sudah cukup membuat sakit hati, itu yang tidak David sukai.
David mendial up nomor seseorang. Gadis di sebrang sana menerima panggilannya pada nada sambung keempat. Pemuda itu segera bersuara ketika ponselnya ditempelkan ke telinga. “Lagi apa, Princess?”
“Lagi diskusi sama editor via chat. Veli nggak sabar nunggu lihat photozine itu terbit.”
“Tadi Jea ke sini,” ujarnya tanpa merespon ucapan Velicia terlebih dahulu. “Puji\-puji kamu. Katanya kamu cantik, memakai pakaian apapun cocok. Baiknya nggak ketulungan. Dan banyak lagi hal tentang kamu yang Jeani suka.”
“Terus?”
“Aku puji baliklah. Semua tentang kamu itu sempurna. Hidupku, tanpamu takkan pernah terisi sepenuhnya karena kau separuhku. Berbagi, suka duka, saling mengisi dan menyempurnakan karena kau separuhku.” Terdengar kekehan kecil gadis itu mmebuat David melengkungkan senyum. Posisinya yang sedang terlentang di atas tempat tidur membuat dia menatap ke langit\-langit kamar dan membayangkan wajah cantik princessnya.
“Malah nyanyi lagi. Serius, dong.”
“Aku serius banget. Aku puji kamu habis\-habisan. Kamu itu cantik, baik, multitalent, selalu memotivasi, cerdas, dan masih banyak lagi.”
“Berlebihan banget, sih.”
“Aku selalu bersemangat kalau ada sangkut pautnya sama kamu. Aku nggak akan capek kalau harus puji kamu sampai mulutku berbusa.”
“Gombal lagi.”
David tersenyum atas respon Velicia yang singkat\-singkat. “Kamu selalu buatku semangat, Vel. Besok pas jam istirahat kita shooting, yuk!”
“Boleh. Yang part pertama udah diedit?”
“Belum,” jawabnya.
“Kerjain sana, biar cepat diunggah, teleponan mulu.”
Lagi\-lagi pemuda itu melengkungkan senyum ke atas. “Baik, Princess. Permintaanku akan segera kukabulkan.”