For The World We'Re Gonna Make

For The World We'Re Gonna Make
Pancasila



Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Di bawah terik matahari, dirinya berdiri di tengah hamparan rumput. Lima laki-laki yang sibuk dengan seperangkat alat kamera berpencar di beberapa titik.


“Oke, ini scene ke 4, ya. Velicia, udah siap? Tahan dulu panasnya, bentar lagi. Biar kualitasnya berkelas.”


Gadis itu mengembuskan napas. Laki-laki berambut kriting mengatur pencahayaan kamera yang berada di atas tropid. Objek gadis terbalut kaos oversize serta rok di bawah lutut sedang mengipasi diri dengan tangan.


David bersiap dengan dronenya. Ega melihat kolaborasi yang sudah pas. “And… action!”


Velicia menatap langit tiada berawan. Di depan matanya menjulang gunung. Satu pesawat kertas terbang di depannya. Senyum indah terukir perlahan menghias wajah cantik gadis itu. Dua pesawat kertas datang lagi. Satu pesawat kertas mengenai hidungnya. Velicia menyentuh hidung minimalisnya. Begitu mata kembali mematap langit, puluhan pesawat kertas menghias udara. Velicia menganga tidak percaya, badannya diputar hingga rambutnya berterbangan bebas diterpa angin. Senyum manisnya bertambah mengembang.


“And… cut!”


David memberikan ramote controlnya kepada Ega. Telapak tangannya memberi tepuk tangan meriah untuk Velicia. “Good job!” katanya seraya mengacungkan kedua jempol.


Gadis itu langsung berlari ke arah pohon. Dia duduk bersandar di bawahnya. Pak Dirga dan laki-laki hitam manis yang mempunyai kumis tipis ikut menghampiri sambil memijat-mijat tangannya. Mereka merasa pegal karena melayang-layangkan puluhan pesawat kertas. David membagi sebotol air mineral.


“Badan Veli rasanya kebakar.” Gadis itu menggeleng-gelangkan kepala karena saat dirasi pusing mendera. David tersenyum menghampirinya untuk mengipasi Velicia dengan buku. “Nggak usah deket-deket! Veli bau keringat.”


Tawa David menggelegar hingga menjadi pusat mata. “Semua di sini panas-panasan, Vel, semuanya juga keringetan.”


“Ada yang mau minuman dingin, nggak?” tanya Ega setelah menyimpan tropid di samping Pak Dirga.


“Green tea satu, es batunya yang banyak,” sahut Velicia.


“Es teh manis. Jangan kemanisan, soalnya di samping aku udah ada yang manis.”


Velicia lansung menoleh dan langsung meninju lengan atas David.


“Prikitiw! Acieee masa muda, masanya para remaja.”


“Salah, ****! Lagunya bukan begitu.” Laki-laki berambut keriting menoyor temannya yang berkumis tipis.


Semuanya sontak tertawa.


Laki-laki berkumis tipis itu merangkul temannya, jari telunjuk dan tengahnya diangkat ke arah Ega. “Kita berdua air mineral aja, tapi yang dingin.”


Ega menatap pria tua berkaos abu yang penuh dengan keringat berselonjoran di bawah pohon. “Pak Dirga pesan apa?”


“Air ini aja udah cukup,” katanya seraya menunjukkan botol air mineral yang tadi diberikan David.


“Nggak usah sungkan kali, Pak.”


“Samain kayak Den Bagus, es teh manis satu.”


Ega berlalu ke warung terdekat untuk memenuhi pesanan mereka. Kelima orang di bawah pohon tersebut tepar, rasanya lelah setelah panas-panasan beberapa jam.


Setengah harian penuh mereka habiskan untuk mengambil empat belas sin. Pukul empat sore hari, mereka bersiap menuju Bandung. Wajah-wajahnya terlihat lusuh, Ega dan Velicia sampai ketiduran begitu memasuki mobil. David segera memboking penginapan lewat aplikasi, selepas itu tertidur.


Hari yang melelahkan ditambah matahari tidak bersahabat.


Pak Dirga membangunkan lima orang yang sedang bermain di alam mimpi. Mereka bersiap dengan tas ransel masing-masing memasuki gedung penginapan. Begitu Velicia keluar pintu lift, setelah mencari nomor kamarnya, gadis itu segera masuk.


“Neng Ayu, ini tasnya.”


“Nanti, Pak,” sahutnya setelah menutup pintu.


🎗🎗🎗🎗


Gadis itu mengangguk-angguk seiring irama yang dikeluaran benda persegi yang ditekan-tekan David. Sampai akhirnya terbawa irama lagu, dia mengeluarkan suaranya. “To the world you see, to the word I close my eyes to see, I close my eyes to see...."


Velicia mendadak terdiam terdiam, sorot matanya berbinar menatap laptop disertai lengkungan tipis. David terhenti menekan launchpad, matanya menatap gadis itu penasaran. Velicia mengambil ponselnya dan segera melakukan panggilan video. Baru nada sambung kedua, panggilan Velicia sudah diterima.


“Hai, Sayang. Bagaimana kabarnya?” tanya wanita di sebrang sana sambil melempar senyum cantiknya.


“Baik, Ma.” Velicia mengembuskan napas seraya menatap layar laptop di pangkuannya. “Lihat deh, Ma.” Gadis itu segera menekan fitur untuk menggunakan kamera belakang.


Binar mata Felyana bahagia sekali saat melihat layar laptop putrinya, mulutnya menganga dan segera ditutup. “Congratulation, Sayang.” Senyum wanita itu tambah mengembang.


“Terima kasih, Mama. Oh iya, Sumi diterima, nggak?”


“Wait, Mama cari dia dulu, ya.”


Velicia mengangguk kemudian menyimpan ponselnya di samping.


“Ada apa, Vel?” tanya David.


Tatapan keduanya beradu. Velicia melengkungkan senyum seraya memberikan laptopnya. David juga ikut tersenyum setelah melihat layar laptop gadis itu. “Bagus, dong. Aku juga sekolah di Pancasila, loh,” kata David terlihat senang.


“Kamu juga baru masuk?”


“Hah?” David tiba-tiba tertawa. Telunjuknya menunjuk ke diri sendiri. “Maksudnya aku siswa baru, gitu?”


Velicia mengangguk polos.


“Ya enggaklah! Aku kelas sebelas.”


Mulut Velicia terbuka, matanya melotot. “Kok nggak bilang?”


“Kamu nggak pernah nanya.”


“Velicia, Sayang.” Gadis itu segera mengambil ponsel lagi karena panggilan mamanya. “Sumi nggak keterima. Bagaimana kalau kamu nyari sekolah lagi sama Sumi, biar kalian satu sekolah.”


“Buat apa? Veli mau di Pancasila, Ma. Percuma dong kemarin ikut tes kalau setelah lulus malah nggak jadi.”


“Mama nggak mau kamu berpisah sama Sumi. Sayang, hidup tanpa teman itu nggak enak, terasingkan, mau ngapa-ngapain susah.”


“Terus Mama maunya Veli sekolah di mana? Masuk Pancasila itu tesnya susah, Ma. Di saat banyak orang yang ingin masuk ke sana, Veli adalah orang beruntung bisa lulus, masa iya Veli harus melepasnya begitu saja.” Dia tidak terima dengan keputusan mamanya. Setelah serangkaian tes dia lakukan dengan terbaik, hasil akhirnya cukup memuaskan, mamanya dengan semudah itu untuk melepaskan.


“Tapi Mama nggak mau kamu nggak teman, Sayang. Pas SMP juga kamu tidak menemukan seorang teman pun. Sama teman sekelas saja nggak pernah dekat. Jangan dikira Mama tidak tahu semuanya, ya. Mama tahu kamu kesepian.”


“Ma….”


David segera merebut ponsel Velicia. “Hallo, Tante. Maaf lancang.”


Gadis itu tersentak atas tindakan David.


Senyum Felyana mengembang begitu melihat David. “Tidak apa-apa, Nak. Kalian sedang di mana?”


“Lagi di tepi kolam renang penginapan, Tante. Nemenin Veli revisi novelnya. Oh iya, aku dengar semua percakapan kalian." David menatap Velicia sambil tersenyum, seolah memgatakan bahwa dia akan memperjuangkan. "Jangan khawatirkan Velicia tidak punya teman. Aku salah satu siswa Pancasila kok, Tan. Aku bersedia jadi temannya.”


“Nak David….”


“Percaya sama aku, Tan. Anak Pancasila itu tidak diragukan lagi saat masuk universitas, itu kenapa masuk Pancasila susah banget, Tante. Benar kata Velicia, dia adalah salah satu orang beruntung yang bisa lulus. Aku mohon, Tante, biarkan Velicia sekolah di sana.”