
Punggung pemuda itu menjadi pusat lemparan. Kaos yang semula putih telah berubah warna. Sekumpulan orang di tepi lapang melemparinya dengan gumpalan kertas, air warna, serbuk hitam, percahan kain, bahkan ada yang menumpahkan seember air ke kepalanya. Kepalan pemuda itu sangat erat di samping badan.
Seorang gadis menatapnya iba dari jendela terbuka di lantai dua. Sorot matanya mengatakan tidak rela jika pemuda di tengah lapang tersebut diperlakukan semena-mena.
Setetes air mata lolos dari tahanan kelopak mata pemuda itu. Kakinya bergerak perlahan, dengan sekuat tanaga berlari menelusuri koridor. Gadis yang dari tadi mengamati di jendela terbuka pun berbalik untuk pergi dari sana. Pemuda itu menaiki tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua. Dia kembali menelusuri koridor kemudian berlari menaiki tangga yang menghubungkan lantai dua.
Seorang gadis yang tadi mengamati dari lantai dua ikut serta berlari untuk mengejar pemuda itu.
Mereka berlari di koridor lantai tiga lalu kembali meniki tangga yang akan menghubungkan ke lantai empat. Napas gadis itu mulai tidak beraturan, peluh sudah menetes di pelipisnya. “Mereka bisa bilang semuanya terdengar gila, mereka bisa bilang kamu kehilangan akal, kamu nggak usah peduli. Biarkan mereka panggil kamu si gila. Di saat kamu sudah tidak kuat untuk menghadapinya, kamu bisa lari ke dunia yang kita bentuk,” teriaknya sukses membuat pemuda di ujung tangga itu membalikkan badannya.
Lengkungan tipis menghias bibir pemuda itu. Tatapan mereka bertemu lama sekali. Gadis dengan midi dress warna putih tersebut kembali menaiki tangga. Mereka berpegangan, saling lempar senyum, kakinya dilangkahkan bersamaan.
Pemuda itu menghentikan langkah tepat di depan tangga, dia segera mengambil posisi jongkok di hadapan sang gadis. Velicia digendong pemuda tersebut menaiki tangga yang menghubungkan lantai lima dan rooftop.
“David, Veli berat, ya?”
“Iya,” jawabnya jujur sekali.
Velicia menahan diri untuk tidak membulatkan mata. Bisa gagal video klipnya jika tidak bisa mempertahankan ekspresi. Dia hanya bisa mendengkus. Percakapan itu memang tidak ada di naskah, Velicia bertanya hanya untuk mengisi suara.
Begitu pintu di buka, sinar langsung menerpa, David segera menginjakkan kaki di rooftop. Velicia turun dan langsung mengrahkan pandangan ke hamparan rumah dan gedung. David muncul dari belakangnya memberikan balon berbentuk huruf V dan di tangan pemuda itu ada balon berbentuk huruf D. David menariknya pelan menuju puluhan balon udara berbentuk bola yang diikatkan ke pembatas rooftop. Velicia mengembangkan senyumnya saat David melepaskan ikatan dan memberikan seluruh balon itu kepadanya. David mengangguk, tangannya memegang kedua tangan Velicia yang menggenggam balon. Keduanya berhadapan, Velicia mengangguk, mereka melepas balon udara itu bersamaan.
David merengkuh gadis itu dari samping, mata mereka berpusat pada balon udara yang terbang di langit biru. “For the world we’re gonna make,” ucapnya bersamaan.
“FINIIIISHHH,” teriak laki-laki berambut kriting yang sedang memegang remote untuk mengendalikan drone dengan girang.
Ega meninggalkan kamera yang diletakkan di atas tropid lalu menghampiri David dan Velicia. Mereka berempat menurunkan pandangan tepat ke arah lapangan sekolah.
Laki-laki berkumis tipis melambai dari tengah lapangan disertai anak-anak basket yang kebetulan sedanv latihan.
“Thank you, Vel,” bisik David seraya mengelus lengan atas gadis itu.
“You are welcome. So, setelah ini kita harus semangat garap projek baru.”
“Hah? Projek apa?”
Gadis itu tersenyum menatap pemuda di sampingnya. “Besok Veli tunggu di rumah setelah sekolah. Jangan lupa bawa kamera.” Velicia melepaskan diri dari David, arah langkahnya menuju pintu keluar.
🎗🎗🎗🎗
David mengekori Sumi dari lantai dasar sampai lantai tiga. Koridor dari tangga sampai ke kamar Velicia itu panjang, David merasa tidak sampai-sampai ke tempat tujuan. “Lo tuh siapanya Veli, sih? Terus mau bawa gue ke mana?” Dia mulai emosi mengikuti gadis pecicilan di depannya.
“Veli pesan sama gue buat bawa lo ke tempat biasanya Veli.”
“Tempat biasa apaan?”
Sumi menghentikan langkahnya tepat di depan pintu tinggi. “Di dalam sini tempat biasanya Veli. Masuk aja.”
“Lo masuk sendirian, ya. Soalnya gue masih takut dengan tatapan Veli.”
“Gue nggak bakalan nyasar?”
Sumi terkekeh melihat ekspresi pemuda ganteng di hadapannya. “Enggak kok. Ini satu jalan.”
“Oke.” David mendengkus sebelum ambil langkah masuk. Kakinya menelusuri tempat asing, matanya tidak lepas dari dinding abstrak tiga dimensi serta lantai bebatuan. Ini seperti nyata, tapi hanya desain. Dia menaiki tiga tangga.
Pemuda itu tidak bisa menutup mulutnya melihat sambutan luar biasa. Lantai yang didesain samudera biru, pagar pembatas terhalangi jajaran bambu air, teropong bintang di dekat jendela, piaono yang tidak jauh dari teropong, kursi yang melingkari meja kaca, dan sinar matahari sore menyorot dengan sempurna.
Seorang gadis bercelana selutut dan berkaos overzise warna magenta muncul dari pintu kaca dengan i-Pad di tangannya.
“Sorry, tadi Veli mandi dulu. Kamu udah lama nunggu?”
David masih tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. Apa ini mimpi? Kenapa dia terdampar di sini?
“David, astagfirullah, ngapain berdiri di sana mulu? Sini ih, biar cepet.”
Hidup dalam kesederhanaan dengan rumah minimalis dua lantai membuat David tidak tahu harus berkata apalagi saat dirinya berdiri di dalam rumah sebesar itu. Rumah Jeani dengan segela kemewahan saja kalah dengan rumah Velicia. Ini kali keduanya dia ke rumah ini, tapi yang kali pertama ke rumah Velicia hanya menginjakkan kaki di ruang tamu saja. Dari luar memang sudah terlihat semegah itu rumah Velicia, tapi dia tidak percaya bahwa di dalamnya lebih megah dari yang dipikirkan.
Dia mengusap wajah kasar untuk menyadarkan diri. Gadis yang duduk di kursi itu memanggilnya lewat isyarat tangan.
“Vel, serius, deh. Rumah kamu gede banget.”
“Ini rumah Mama-Papa.”
Objek mata Velicia adalah kamera yang mengalung di leher pemuda itu. Senyumnya terukir. “Mau sampai kapan berdiri?”
David tersenyum kaku. Setelah mengetahui semewah itukah kehidupan Velicia, dia menjadi sungkan meski sekadar dekat.
“Kamu serius nggak mau duduk?” tanya Velicia lagi.
David langsung duduk seraya melepaskan kamera dari lehernya.
“Boleh pinjam kamera itu?” Velicia menatap ekspresi David yang kaku dan ragu untuk memberikan kameranya. Velicia langsung melihat foto-foto dirinya dan David yang diabadikan dalam potret. Sepanjang perjalanan sampai ke Garut, David sering mengambil gambarnya, sering juga meminta Ega untuk mengambil gambar berdua.
Gadis itu tersenyum lebar.
“Vel, ada apa, ya?” tanya David dengan wajah polosnya yang membuat Velicia tidak kuasa menahan kekehan. “Maksud ucapan kamu yang kemarin apa?”
“Gambar yang kamu dan Kak Ega ambil itu bagus-bagus. Veli jadi punya ide untuk membuat karya. Bagaimana jika kita kumpulkan foto-foto kita dalam sebuah buku?”
“Maksud kamu bagaimana?” David menggaruk belakang lehernya. Dia masih kebingungan.
“Kita buat photozine. Itu kayak kumpulan poto dalam sebuah buku,” jelasnya tanpa mengalihkan dari kamera. “Di setiap halamannya tambahin quotes. Itu akan menjadi sebuah karya antimainstream, David. Belum banyak buku-buku seperti itu di Indonesia.”