For The World We'Re Gonna Make

For The World We'Re Gonna Make
Berusaha Kuat II



Jarak antara David dan Velicia semakin jauh. Gadis itu tidak punya waktu untuk bercada lagi. Tidak ada maksud untuk menjauhi David, hanya saja keadaan yang menekan. Pasca operasi satu minggu yang lalu, Felyana belum sadar juga. Di saat Velicia masih kecewa dengan papanya yang tidak ada kabar selama seminggu, pria itu tiba-tiba menghubungi omanya. Saat Rianti mengatakan tentang papanya, gadis itu berlalu begitu saja memasuki kamar rawat mamanya.


 


“Hans baru sampai dari Papua. Sekarang di perjalanan menuju sini.”


Velicia sudah kecewa kepada pria kebanggaannya. Semua tentang papanya, dia tidak peduli. Gadis itu mengusap pipi Felyana dengan lembut kemudian mencium keningnya. “Veli pergi dulu, Ma,” izinnya tanpa berharap jawaban dari wanita yang terbaring menutup mata.


“Mau ke mana, Veli?”


“Ada hal yang harus diurus. Tolong jaga Mama, Veli pulangnya akan malam.”


Photozine karyanya dan David akan segera launching. Kejadian saat membanting ponselnya menyulitkan gadis itu untuk berkomunikasi. Selama seminggu tidak punya ponsel membuatnya lupa dengan semua agenda hariannya. Yang paling parah adalah SIM card berisi kontak orang\-orang penting hilang juga bersamaan ponselnya. Harusnya dua hari yang lalu menandatangani photozine bersama David untuk pre order pertama yang dibuka lima hari lagi, sayangnya baru teringat sekarang ada jadwal itu.


Sore ini harus menemui editornya dan memberitahu kepada David tentang projek itu.


“Bapak tahu alamat ini?” tanya Velicia sambil memberikan secarik kertas yang berisi sebuah alamat kepada sopirnya.


“Tidak tahu, Neng Ayu. Tapi kan ada google maps.”


Velicia tidak menanggapi. Gadis itu melamun sepanjang perjalanan. Pikirannya dipenuhi oleh papanya yang baru datang dari Papua. Untuk apa pria itu pergi jauh, tapi tidak memberitahu keluarga. Otaknya terasa kusut memikirkan permasalahan yang kini melandanya. Di saat dirinya belum siap dilanda badai, tiba\-tiba diguncang hebat oleh permasalahan besar.


“Udah atuh, Neng. Jangan sedih terus. Neng Ayu ngak capek nangis terus?”


Tidak ada jawaban. Velicia mengempaskan punggungnya untuk bersandar seraya memijat pangkal hidungnya.


“Ini udah di komplek Cempaka. Rumahnya yang mana, Neng?”


Gadis itu berdecak sebelum keluar dari mobil untuk bertanya rumah David kepada seorang Ibu yang sedang menggendong anaknya di depan pagar rumah. Pria yang masih di dalam mobil hanya memandang putri majikannya bercakap\-cakap sebentar dengan Ibu itu lalu kembali masuk mobil. “Lurus, belok kanan, di sebelah kiri jalan ada rumah dua lantai warna hijau ketupat.”


Pak Dirga mengangguk dan bersiap menjalankan mobilnya.


Velicia turun lagi di depan rumah yang dituju. Baru saja akan memasuki pelataran rumah tersebut, seorang gadis memanggilnya dari sebrang jalan. Gadis itu melambai\-lambai ketika Velicia berbalik menatapnya.


“Lo mau ketemu, David?” tanyanya setelah berhadapan dengan Velicia.


Velicia hanya mengangguk sebagai jawaban.


“Mau minta maaf, ya?” tanyanya lagi


Setelah dirasa pertanyaan Jeani tidak penting, Velicia berbalik dan melanjutkan langkah menuju rumah minimalis dua lantai warna hijau ketupat.


Jeani mengelus dadanya untuk bersabar atas sikap belagu pacar sahabatnya. Dia menghampiri Velicia yang mengetuk pintu. Agak lama dia tertegun memandang gadis itu dari samping. Velicia memang cantik, sejelek apapun penampilannya tetap saja pantas dan tidak menghilangkan kesan cantik dan imut. Beda dengan dirinya yang merasa tidak ada apa\-apanya dibanding Velicia. Mungkin itulah penyebab sahabatnya lebih terpikat kepada Velicia daripada dirinya.


“Biasanya David tidur kalau habis main badminton. Bunda sedang pergi ke butik. Ayah belum pulang dari rumah sakit,” ujar Jeani sambil mendorong pintu. “Ayo, masuk. Kalau nunggu dibukain keburu lumutan.”


Velicia terheran dengan tindakan gadis itu. David bilang bahwa Jeani adalah sahabatnya, tapi seberani itu masuk ke rumah orang sembarangan? Melihat Velicia menatapnya heran membuat Jeani terpaksa menarik tangan gadis itu untuk masuk.


“Lo duduk dulu. Biar gue yang bangunin dia,” ujarnya seraya melangkah menaiki tangga.


“Kalau gue jatuh, lo yang tanggung jawab.”


“Tenang, bokap lo dokter ini.”


Pemuda itu berdesis kesal keapada sahabatnya yang menutup matanya sempurna. Satu per satu anak tangga dituruni dengan penuh kehati\-hatian. Jeani membawa David menghampiri Velicia tanpa melepaskan kedua tangannya dari mata David.


“Say hai dong sama pacar pujaan lo.” Jeani tersenyum lebar karena rencananya akan berhasil total.


Mendengar kata ‘pacar pujaan’ membuat pemuda itu mengempaskan tangan sahabatnya dengan kasar. Mulutnya langsung menganga saat matanya disuguhkan wajah datar Velicia. Detik setelahnya dia melempar tatapan tajam dan umpatan kasar kepada Jeani sebelum berlari kembali ke kamar. Jeani tertawa puas bisa mengerjai sahabatnya sampai perutnya terasa sakit.


“Mati aja lo, sahabat laknat!” teriak David disusul bantingan pintu kamar.


David tidak bisa lagi menahan malunya saat bertemu Velicia dengan pakaian seperti itu. Rasanya ingin tenggelam saja dari bumi. Begitu dirinya masuk ke kamar mandi, wajah yang terpampang cermin sudah merah padam.


“Sahabat sialan,” desisnya benar\-benar emosi kepada Jeani.


Apa yang akan dikatakan Velicia setelah kejadian ini? Mau di simpan di mana mukanya saat bertemu Velicia? David tidak punya keberanian lebih untuk bertemu gadis itu lagi.


 


Hatinya berniat untuk tidak turun ke bawah, tapi kasihan Velicia yang sudah jauh-jauh ke rumahnya. Dia mencuci wajah dan menggosok gigi secara asal kemudian menyambar kaos abu-abu dan celana selutut warna krem dari lemarinya.


 


“Apa Veli mau minta maaf, ya?” gumamnya menerka\-nerka. “Semoga aja dia jelasin semuanya.”


Rambutnya masih acak\-acakan, tapi itu menjadi nilai tambah untuk kegantengan David. Dia memberanikan diri untuk bertemu Velicia. Sahabat dan pacarnya itu sedang berbincang, tapi Jeani yang mendominasi pembicaraan. Velicia hanya menjawab singkat, padat, jelas dengan ekspresi datar. Kenapa belakang ini gadis itu memasang wajah tanpa ekspresi? Berbeda dengan wajah Velicia sebelum pacaran, yang masih ada senyumnya, masih bisa tertawa, dan asyik diajak ngobrol.


“David ganteng nggak, Vel?” tanya Jeani disertai tawanya. “Lucu banget tuh anak ekspresinya. Kocak abis."


 


Pemuda itu melempar tatapan tajam kepada sahabatnya, seolah mengisyarat 'awas aja nanti'.


“Ya.”


 


David tertegun di tengah tangga mendengar jawaban pacarnya. Dia tidak salah dengar dipuji Velicia? Meski gadis itu tidak langsung memujinya lewat kata\-kata, tapi Velicia menjawab pertanyaan Velicia yang artinya juga dia memujinua. Di tengah pikiran yang kalut akibat jawaban Velicia, David tersentak saat gadis itu berkata dengan nada datarnya.


“Veli nggak punya waktu. Cepat ikut.”


David tidak mengerti apa maksud ucapan gadis itu. Namun, yang bisa dia lakukan hanya menurut. Bukankah jalan pikiran orang cerdas sulit ditebak? David berlari mengikuti Velicia keluar rumah. Baru saja menutup pintu, dia kembali membukanya. “Jagain rumah gue, Jea. See you.”