For The World We'Re Gonna Make

For The World We'Re Gonna Make
First Day



 


Gadis itu sudah bersiap dengan seragam sekolahnya. Rok hitam selutut dengan polet dua garis warna putih di bagian bawah, kemeja putih yang dibalut rompi biru tua, dan dasi pita warna hitam. Rambut cokelat gelap yang ujungnya bergelombang dihiasi bandana motif kotak\-kotak warna hitam dan putih. Velicia tersenyum di depan cermin lonjong melihat penampilannya.


Diraihnya tas gendong di meja belajar kemudian melangkahkan kaki menuju lorong yang panjangnya empat meter. Begitu dia mencabut kartu yang ada di samping pintu, lampu langsung mati tanpa ada jeda. Dia segera keluar untuk mengejar waktu. Begitu sampai di lantai dasar, kedua orangnya tua dan Sumi sudah menunggu di ruang utama.


Mereka berangkat sama\-sama.


“Seragam Sumi nggak pakai atribut memangnya nggak pa\-pa?” Velicia menatap penampilan gadis desa itu, berseragam putih biru khas sekolah menengah pertama, tapi pakaiannya sangat kusut, terlihat sekali seragam baru dibeli.


“Yang penting berseragam sekolah,” jawab Hans seraya membuka pintu mobil untuk istrinya.


Semuanya telah berada dalam satu mobil. Velicia segera mengangkat tangannya untuk menghidupkan AC. Mobil maju melewati halaman luas, gerbang terbuka secara otomatis, mereka meninggalkan kawasan perumahan elit tersebut.


“Veli, nanti ditesnya apa aja?”


Velicia menoleh, pertanyaan Sumi benar\-benar membuatnya malas menjawab. “Tes tulis, tes fisik, dan wawancara.”


“Semua murid yang daftar bisa diterima, kan?”


Pertanyaan polos apa itu? Velicia menyipitkan matanya. “Mana mungkin, Sumi.”


“Gimana kalau aku nggak diterima?”


Velicia memilih untuk menyibukkan diri dengan I\-Pad pro daripada menjawab pertanyaan tidak bermutu itu. Dia membuka agendanya, jadwal minggu ini benar\-benar padat. Ditambah menerima projek dari David.


“Sumi, nanti kamu pulangnya sendiri. Terserah kamu mau pakai jasa taksi online mau pun offline, biar ongkosnya Veli yang bayar.”


“Memangnya kamu mau ke mana?”


Gadis itu tidak menyukai pertanyaan\-pertanyaan Sumi yang menurutnya tidak penting. Kedua orang tuanya sudah tahu alasan di balik putrinya yang tidak menjawab. Felyana menatap Velicia dari kaca spion tengah. “Pulangnya jangan terlalu malam, Vel.”


“Kemungkinan akan malam. Mama nggak usah khawatir, kan ke sananya sama Pak Dirga.”


Hans ikut menatap Velicia dari spion tengah. “Telepon Papa jika ada apa\-apa.”


“Baik.”


Gerbang SMA Pancasila terbuka lebar untuk menyambut calon muridnya. Melewati gerbang yang menyembul tinggi, halaman luas sebelum memasuki tempat parkiran, dan bangunannya menjulang lima lantai. Velicia segera turun untuk meneliti lingkungan. Dari segi bangunan, Velicia cukup tertarik.


Hans dan Felyana mengapit Velicia saat berjalan menuju tangga. Beda lagi dengan Sumi yang mengekor sendirian di belakangnya sambil menunduk. Di sepanjang koridor, Sumi menjadi pusat perhatian orang. Penampilannya sangat berbeda dengan calon murid lainnya yang terlihat rapi dengan seragamnya. Hans membawa ketiga orang tersebut menuju suatu ruang, di mana seorang pria berkepala botak duduk di kursi kekuasaannya.


“Hikmal!” Felyana langsung berhambur ke pelukan pria yang baru saja berdiri.


 


Hans memaklumi aksi istrinya yang memeluk pria tersebut, beda lagi dengan Velicia. Gadis itu melotot melihat mamanya memeluk pria lain selain papanya. Hans mengusap lengan tas putrinya sebagai wakil kata-kata ‘tidak perlu khawatir’.


“Saya bisa kehabisan napas, Ana.”


Felyana melepas pelukan itu sambil tersenyum. “Aku ingin melepas rindu lebih lama sama kamu.”


Arah pandangan Hikmal teralih pada dua remaja yang ada di samping Hans. “Nggak malu dilihat anak-anak?”


“Biarin, ah. Orang dia anak aku,” jawab Felyana membuat Velicia membuang mukanya ke arah Hans.


“Dua-duanya?”


“Enggak. Anakku yang paling cantik. Masa kamu lupa sama Velicia?”


Hikmal tersenyum seraya menghampiri Hans untuk berjabat tangan. Dia menggelengkan kepala pelan. “Istrimu itu, childishnya tidak hilang-hilang.”


Hans menanggapi dengan tawa kecil sambil menatap istrinya. “Udah biasa, Mal.” Dia mencondongkan kepalanya ke telinga Hikmal. “Nggak sadar umur,” bisiknya.


Tawa keduanya menggelegar membuat Velicia hanya geleng-geleng kepala seraya memutar bola matanya malas. Gadis itu melihat jam yang melingkar di tangannya. Deheman yang keluar dari Velicia membuatnya menjadi pusat mata. “Beberapa menit lagi tesnya di mulai.”


Hikmal tersenyum sambil mengulurkan tangannya ke hadapan Velicia. “Ah iya, kalian segera ke ruang tes. Velicia, Om pinjam Papa sama Mamanya dulu, ya.”


Sepeninggalan dua remaja tersebut, Hikmal geleng-geleng kepala lagi. “Sifatmu nurun seratus persen sama Velicia, Hans?” tanyanya tidak percaya. Bukan satu-dua hari Hikmal kenal dengan Hans semasa menjadi mahasiswa di London. Dia tahu seserius apa Hans dan sedatar apa wajahnya.


“Makanya di rumah itu nggak asyik. Soalnya suami sama anak sifatnya sama. Datar, pendiem, kalau marah mukanya kayak mengintimidasi gitu,” cerita Felyana menjelaskan secara terbuka dan ditanggapi kekehan kecil oleh sahabatnya.


🎗🎗🎗🎗


 


Every night I lie in bed


The brightest colours fill my head


A million dremas are keeping me awake…


I think of what the world could be


A vision of the one I see


A million dreams is all it’s gonna take


A million dreams for the world we’re gonna make…


For the world we’re gonna make…


Mereka menyelesaikan lagunya dengan sempurna. Velicia dan David melepas earphonenya. Begitu pandangan mereka bertemu, senyuman terukir menghias bibir.


“Good job!” Seseorang di balik kaca mengacungkan kedua jempol kepada dua remaja itu.


Velicia dan David menunduk malu seraya keluar.


“Thank you, Om.” David dan pria itu bertos ria.


“Kalian keren!” pujinya.


David melihat jam di tangannya. “Om, kami mau pulang. Sekali lagi, makasih banget.”


“Tidak pa\-pa, David. Oh iya, kamu nggak mau nginep di rumah Om? Ini udah mau malam.”


“Nggak bisa, Om.” Pemuda itu melirik Velicia sebentar. “Bawa anak orang soalnya,” katanya dibumbui kekehan kecil.


“Ahaha, ya\-ya\-ya,” ujarnya sambil mengangguk\-angguk. “Ya sudah, pulang sana! Kasihan emaknya udah nungguin.”


Bagi David, mungkin itu lucu, sampai tertawa menanggapinya. Bagi Velicia, tidak sama sekali. Gadis itu mengembuskan napas lelah kemudian menarik ujung kaos David sebagai kode untuk segera pulang.


Setelah menyalimi pria bertopi bundar tersebut, akhirnya Velicia bisa menghirup udara luar. Dia segera masuk mobil tanpa ada niat membincangkan sesuatu dengan David. Di perjalanan pun seperti itu, hanya sunyi yang berkuasa. Velicia lebih memilih tidur daripada membahas sesuatu. Padahal, David ingin membincangkan tentang video klipnya.


“Den Bagus ini teman sekolahnya Neng Ayu, ya?” tanya pria di balik kemudi yang menatap David dengan lembut lewat kaca spion.


David yang teraliri darah Sunda dari ibunya mengerti siapa dipanggil Bagus dan Ayu. Senyumnya terangkat, matanya melirik Velicia sekejap. “Bukan, Pak. Kami baru kenal beberapa hari yang lalu.”


“Ooo begitu. Tadi pagi Neng Veli mengakui Den Bagus sebagai temannya. Berarti Den Bagus orang special.”


Pemuda itu menatap Pak Dirga yang sedang mengemudi. “Maksud dari specialnya apa?”


“Neng Ayu nggak pernah punya teman. Kemungkinan besar, Den Bagus orang pertama yang menjadi teman Neng Ayu.”


“Seriusan nggak pernah punya teman?” tanya David tidak percaya.


“Iya. Neng Ayu orangnya terlalu sibuk, jadinya dia tertutup sama orang lain. Dari kecil, sekolahnya di rumah, baru satu tahun Neng Ayu merasakan sekolah formal.”


Kepala Velicia jatuh ke bahunya. David segera menghalau rambut indah yang menutupi wajah gadis itu. “Sekarang kelas berapa, Pak?”


“Baru mau masuk SMA.”