For The World We'Re Gonna Make

For The World We'Re Gonna Make
Berusaha Kuat



Operasi Felyana berjalan lancar, tapi wanita itu tidak kunjung membuka mata. Dokter mengatakan sudah waktunya Felyana sadar, tapi ucapan itu tidak sesuai. Velicia dan Rianti menunggu Felyana diperiksa lagi dengan harap-harap cemas. Begitu dokter berkepala plontos itu keluar seraya membuka maskernya, dia hanya menyuruh untuk menunggu Felyana sadar saja, tanpa penjelasan lebih mengenai kondisi mamanya saat ini.


Gadis itu tidak langsung masuk untuk menemui mamanya, dia memilih untuk duduk dan menunduk di kursi koridor. Omanya sudah masuk begitu saja setelah dipersilakan dokter. Velicia hanya memikirkan papanya yang entah ada di mana. Kemarin teleponnya selalu ditolak, hari ini sudah tidak bisa dihubungi. Kenapa di saat mamanya membutuhkan support, Hans malah menghilang.



Beberapa orang perwakilan dari yayasan untuk menjenguk Felyana mulai berdatangan. Mereka menghampiri Velicia yang menunduk.



“Masuknya bergantian,” ujar gadis itu kepada mereka yang ingin masuk. Dia mendengkus seraya beranjak untuk menjauhi orang. Mungkin dengan sendiri dulu hatinya bisa tenang dan pikirannya tidak terlalu buruk.



Satu orang dari perwakilan yayasan itu mengikuti arah langkah Velicia. Laki\-laki berambut gondrong diponi, penampilannya pecicilan, dan kumis tipis di atas bibir itu meraih pergelangan tangan Velicia. Dalam waktu yang sangat singkat laki\-laki itu membawa Velicia ke dalam pelukan.



“Mama belum sadar,” ujarnya dengan suara serak. Dia terisak dalam dada bidang laki\-laki itu.



“Tante Felyana orangnya kuat. Kamu tenang, ya. Jangan berpikiran macam\-macam.” Di saat gadis kesayangannya rapuh seperti itu, yang bisa dilakukan hanyalah mengelus kepala Velicia untuk menyalurkan ketenangan. “Aku yakin, Tante bisa melewati semua ini.”



“Papa nggak ada, Kak.” Isaknya semakin hebat membuat laki\-laki itu kewalahan untuk menenangkan. “Papa pergi tanpa sepatah kata pun, sekarang nggak tahu ada di mana, dua malam udah nggak pulang, dan kondisi Mama—”



“Udah, ya,” potongnya seraya mengeratkan pelukan. “Tidak ada yang harus dikhawatirkan, semua akan baik\-baik aja.”



Dia belum pernah sekali pun melihat Velicia serapuh itu. Untuk menangis saja, gadis itu tidak pernah seperti ini. Ario semakin memperdalam pelukannya dan berusaha untuk menenangkan. Gadis datar yang dikenalnya ternyata tidak sekuat yang terlihat. Banyak orang yang berpandangan aneh pada mereka yang pelukan di koridor, dan Ario tidak peduli akan itu. Dia membuang rasa malunya ditatap banyak orang untuk berjuang menenangkan gadis kesayangannya supaya tidak bersedih.



Seorang pemuda berdiri di belakang Velicia sekaligus berhadapan dengan Ario. Matanya menyorotkan luka, tapi bibirnya melengkungkan senyum. Tepatnya senyum terpaksa. “Veli,” panggilnya.



Ario melepaskan pelukan itu dan membalikkan badan Velicia untuk dihadapkan dengan pemuda berseragam sekolah SMA Pancasila.



Tidak ada wajah terkejut padahal Velicia melakukan kesalahan. Pemuda itu menunggu penjelasan, tapi tak kunjung didapat. Velicia menatap pemuda itu datar, kemudian berlalu begitu saja, tanpa meninggalkan penjelasan soal pelukan beberapa menit yang lalu. Ario langsung mengejar tanpa meninggalkan suara sedikit pun membuat pemuda itu mematung. Kehadirannya seakan tidak dianggap, padahal dia sudah mati\-matian mengusir pikiran negatif sejak melihat keduanya pelukan.



“Dia siapa, Vel?”



Gadis itu tidak menghentikan langkah cepatnya membuat Ario kewalahan mengejar. “David.”



“Teman?”



“Iya.”



“Harusnya tadi nggak ditinggalin kayak gitu. Kasihan.”



🎗🎗🎗🎗


Sudah cukup semalaman menunggu kabar dan penjelasan dari gadis itu, tapi tidak didapat sampai pagi ini. Bersikeras apapun untuk berpikir positif, tapi hasilnya nihil. David mendatangi kelas Velicia untuk meminta penjelasan, dia tidak bisa terus\-terusan berperang dengan pikiran negatif. Namun, gadis itu belum datang. Sebelum bel masuk berbunyi, David duduk di kursi depan kelas 10\-IPA\-1.



Tidak ada hasil setelah menunggu setengah jam. Gadis itu tidak kunjung datang, padahal sudah dua hari tidak sekolah. David harus segera ke kelas saat bel masuk sudah berbunyi. Baru saja berniat beranjak, seorang gadis berdiri di depannya dengan mata sipit sekaligus sembab dan wajah tidak bersahabat.



David khawatir menatap Velicia. Meski kemarin gadis itu meninggalkan tanpa penjelasan, tapi melihat Velicia yang sedih seperti itu membuat hatinya menciut. “Kam—”



“Maaf.” Satu kata dengan nada datar tanpa penjelasan tentang kemarin. Velicia memasuki kelas saat David ingin menanyakan sesuatu, bahkan mulutnya baru terbuka. Namun, gadis itu memilih untuk mengabaikan kakak kelasnya.


Sikap Velicia yang seperti membuatnya bingung. Di mana letak kesalahannya?


Saat di rumah pohon itu, semuanya masih baik\-baik saja. Setelah kepergian Velicia di sore hari, dia tidak punya firasat buruk sedikit pun. Ini semua tiba\-tiba. Velicia yang tidak sekolah, ditelepon tidak aktif, dikunjungi ke rumah tidak ada, seolah hilang ditelan bumi.



David sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya berpikir positif. Kata ‘maaf’ yang dilontarkan Velicia bisa saja sebuah pengakuan bahwa gadis itu melakukan kesalahan padanya. Pemuda menggeleng seraya beranjak untuk bersikap bodo amat pada apa yang terjadi. Harusnya dia tahu risiko mencintai gadis itu, saingannya bukan orang biasa.



“Lo marahan sama Veli, ya?” tebak Jeani dengan wajah berseri\-seri saat David duduk di sampingnya. “Mukanya ditekuk gitu, tapi tetap ganteng, sih.” Bukan hal langka jika Jeani memuji kegantengan sahabatnya, dari kecil memang sering mengatakan seperti itu.



“Gue tahu mamanya Veli sakit dari omanya. Gue sengaja nelepon Oma Riantia buat nanya Veli di mana.” David mulai cerita dengan ekspresi datar. “Pas tahu Veli ada di rumah sakit, gue langsung ke sana. Di rumah sakit itulah tempat terjadinya permasalahan. Veli seakan menjauh dari gue.”



“Kalau dia menjauh, emangnya kenapa? Itu hak Velicia mau menjauhi atau mendekati siapa pun.” Jeani tidak bermaksud sedikit pun untuk membuat sahabatnya terpuruk, tapi dia harus mengatakan hal tersebut untuk menyadarkan David. Dia sudah bilang, David siapa dan Velicia siapa.



Dan kini David tersadar. Harusnya dia menyadari dari dulu. Itu hak Velicia mau menjauhi atau mendekatinya. “Tapi apa salah kalau gue mau selalu ada didekatnya?”



“Enggak, sih. Cuma lo harus sadar posisi aja. Lo emang bisa mendekati Velicia, tapi lo nggak bisa maksa dia buat selalu di dekat lo.”



“Gue sama Veli kan udah pacaran.”



Jeani memutar bola matanya malas, merasa jengkel dengan pola pikir sahabatnya. “Cuma status doang belagu. Veli emang pacar lo, tapi lo nggak punya hak untuk memaksa dan mengekang dia. Sadar dong, Vid. Posisi lo jauh di bawah Veli.”



Untuk kesekian kalinya, David dijatuhkan oleh sahabatnya sendiri. Sebegitu tidak berharganya David di mata Velicia sampai sahabatnya mengatakan seperti itu. “Dari segi segalanya emang jauh. Tapi gue akan berusaha menyeimbanginya,” balasnya yakin seraya beranjak. Pemuda itu memlih bangku di barisan paling belakang daripada harus sebangku sama sahabat menyebalkannya.



David mengerti jika Jeani cemburu, tapi tidak perlu menjatuhkannya seperti itu.



Tidak lama kemudian, seorang pria berkemeja rapi memasuki ruang kelas dengan wajah tegasnya. Pelajaran matematika dimulai, David tidak punya waktu lagi untuk memikirkan Velicia yang tidak penting. Mungkin benar, hidupnya tidak punya pilihan lain selain mengabadikan diri menjadi dokter di masa depan. Seperti permintaan ayahnya .