
Seorang perempuan berambut pendek dengan sentuhan layer untuk memberikan efek stylish mendatangi Velicia, meresmikan kontrak kerja. Beberapa hari yang lalu seseorang yang meneleponnya meminta Velicia menjadi brand ambassador parfum dan langsung disetujui gadis itu mengingat belakangan ini terlalu banyak masalah, salah satu melampiaskan kemarahan Velicia dengan cara menyibukkan diri 24 jam.
Seusai menandatangani kontrak, Velicia kembali lagi ke kantornya. Satu minggu sejak insiden Hans dan Velicia di kantor, gadis itu enggan pulang meski omanya memohon\-mohon di telepon.
“Neng Ayu teh enggak kangen rumah? Kasihan Oma, Neng.”
“Oma baik\-baik saja?”
“Tadi pagi sempat drop, syukurlah tidak sampai di rawat di rumah sakit.”
Velicia langsung mengusap wajah kasar. Kerena keegoisannya membuat wanita kesayangannya sakit. “Pulang,” printahnya dan langsung diangguki Pak Dirga.
Setelah sampai di rumah, Velicia harus bersikap seperti apa?
Datar dan berlalu jika papanya mengajak bicara?
Ide yang bagus.
Gadis itu segera turun setelah mobil berhenti di pelataran rumahnya. Kaki mungilnya berjalan cepat memasuki rumah. Seperti rencananya, dia akan bersikap datar seolah tidak mengenal papanya.
“Keterlaluan kamu!” Kemarahan Hans siap tumpah mengingat gadis kesayangannya tidak pulang selama seminggu. Velicia lebih memilih tidur di kursi kerja dan melewati malam dengan terjaga daripada pulang ke rumah untuk meluruskan permasalahan. “Anak macam apa yang gila kerja?! Kamu kira Papa tidak bisa membiayai hidup kamu?!”
Guci keramik yang tersimpan di rak pajangan kotak yang tertempel di dinding melayang ke sudut ruangan mengeluarkan suara pecahan keras dan mengundang asisten rumah tangga berbondong\-bondong ke ruang utama. Velicia menatap papanya sengit.
“Jadi seperti ini kelakuanmu selama ini?!” Hans murka dengan tindakan Velicia yang melempar guci tersebut. Meski benda itu tidak mengenainya, tetapi Hans tidak terima dengan perlakuan putrinya.
Velicia sengaja melempar guci itu sedikit ke samping dari posisi papanya berdiri, sekecewa apapun dia, mana bisa menyakiti pria itu. Tujuan pulang ke rumah untuk omanya, Velicia tidak mau membuang waktu adu kemarahan dengan papanya sendiri. Langkahnya kembali berlanjut menuju kamar omanya tanpa mempedulikan Hans marah\-marah tidak jelas.
Seorang wanita berjilbab dengan gamis menyapu lantai membawakan sepiring makanan dan segelas air beserta butiran obat dalam kotak. Wanita itu tidak punya akses masuk ke kamar tersebut, yang bisa dia lakukan hanya memanggilnya di depan kotak samping pintu kamar.
Velicia mengeluarkan kartu untuk mengakses pintu. Begitu pintu sudah bisa dibuka, gadis itu langsung menyambar apa yang dibawa wanita itu untuk omanya.
“Velicia…,” panggilnya dengan suara lembut.
Gadis yang dipanggil itu berlalu masuk tanpa ada keinginan untuk merespon. Meski wanita itu tidak punya salah sedikit pun padanya, belum pernah berkomunikasi sedikit pun dengannya, tetapi Velicia sudah sakit hati hanya karena melihat wajah wanita itu. Semudah itukah papanya melupakan mamanya hingga wanita itu akan segera menggantikan posisi almarhumah Felyana?
“Hana, kamu tidak apa\-apa?” Hans khawatir putrinya berbuat sesuatu pada orang yang tidak punya salah sedikit pun.
“Tidak apa\-apa, Mas.” Ada sorot sedih dari matanya mengetahui sebesar itu benci Velicia padanya. “Mas, kalau misalnya anak kamu tidak setuju dengan hubungan kita, cukup sampai di sini saja, ya.”
“Tidak. Saya tidak perlu peretujuan Velicia.”
“Aku tidak mau seperti itu, Mas. Kehadiranku ingin diterima oleh semuanya, termasuk putrimu dan ibumu.”
“Nanti juga mereka akan menerima seiring berjalannya waktu. Jangan terlalu dipikiran, Velicia terlalu keras orangnya.”
“Mas, pernikahan kita diundur saja, ya. Sampai aku bisa meluluhkan hati Velicia. Kalau soal Ibu, aku rasa tidak terlalu sulit.”
Hans mengepalkan kedua tangannya di samping tubuh. Perlu berapa waktu untuk meluluhkan hati batu itu? “Tidak perlu.” Tangannya bergerak ke atas untuk memijat kedua pelipisnya dengan satu tangan. “Saya sudah janji, Hana. Jangan buat saya semakin merasa bersalah.”
“Yah, aku nginep di rumah Om, ya. Besok sore pulangnya,” izin David ketika pria berkemeja marun itu baru sampai di rumah.
Wajah tidak suka Fardan tercetak jelas. Meski kakaknya seorang musisi, tapi dia tidak mau jika anaknya menjadi musisi. David harus jadi dokter. Harus paket wajib, seperti salat fardu. “Belajar dulu.”
Pemuda itu ingin mengerang frustasi. Tangannya mengacak rambut secara kasar. Meski ayahnya telah membebaskan David dalam melakukan banyak hal, tetapi belajar harus menjadi prioritas. “Udah, Ayah. Ini juga aku bawa buku pelajaran buat nanti malam belajar.” David berusaha berbicara selembut mungkin kepada pria yang wajib dia hormati.
“Baguslah. Nilai ulangan kamu bulan ini mana?”
“Ada di meja belajar. Ayah nggak perlu khawatir, semuanya seratus, kok.” David tersenyum untuk membanggakan diri. Dia benar\-benar membuktikan pada ayahnya, bahwa kegiatan di luar sekolah tidak mempengaruhi nilai akademik. Lagipula, David semakin semangat belajar setelah ayahnya membebaskan untuk bermain musik atau apapun yang David suka, dengan syarat semester nanti harus juara umum lagi. “Jadi, aku diizinin, nggak, nih?”
“Sudah, dong! Bunda mengizinkan.”
Fardan pasrah dengan keinginan putra tunggalnya. Sekarang tidak punya alasan untuk melarang apa yang David mau, karena syarat darinya sudah David kabulkan, kecuali untuk menjadi juara umum, itu akan diberikan David di bulan Mei. Dari ucapan David, pemuda itu sangat serius bahwa nanti akan jadi juara umum lagi. Kepalanya dianggukkan untuk menyetujui dan langsung disambut senyum lebar oleh putranya. Kebahagiaan David sesederhana itu. Dibebaskan ayahnya untuk melakukan banyak hal selagi itu berada di koridor positif.
“Makasih, Yah.”
Fardan kembali mengagguk untuk membalas, tanpa ada niatan buka suara.
Ah, bahagianya bisa bebas seperti sekarang. David harus berterima kasih sebanyak\-banyaknya kepada Velicia. Meskipun kebebasan ini bersyarat, tapi tanpa Velicia, ayahnya tidak akan memberi syarat.
Dia segera berlari dan langsung berteriak di depan rumah sahabatnya. Tidak lama kemudian gadis bercelana di atas lutut dengan kardigan warna abu keluar rumah. Jeani langsung naik ke sepeda David. Itu mengingatkan Jeani pada masa kecil, di mana belum bisa main sepeda, David dan Jeani selalu berboncengan ketika berangkat maupun pulang sekolah.
“Besok jemput gue lagi, ya. Pulangnya sore. Ah, besok aja gue chat, oke?”
David sengaja membawa sahabatnya ke stasiun, biar sepedanya dibawa pulang oleh Jeani. Begitupun besok, Jeani harus menjemputnya ke stasiun.
“Ini nggak gratis, ya,” ujar Jeani.
“Hari Senin gue ajak jalan\-jalan. Pulang sekolah, bebas mau ke mana pun.”
“Mall?” pinta Jeani.
“Oke.”
“Terus dinner.”
“Hm….”
“Lo yang bayar!”
David mendengkus. “Kalau ke mall, lo pakai uang sendiri. Kalau dinner, oke gue setuju.” Pemuda itu tahu seberapa rakusnya Jeani jika sudah memasuki mall. Pakaian, sepatu, tas branded, aksesoris, seperangkat alat make up, sebelum uang habis akan terus belanja. David sudah ngeri sendiri membayangkan jika Jeani ke mall dibayar olehnya. Naudzubillah….
“Loh, kok gitu?”
“Ogah gue bayarnya.”
Jeani tertawa karena tahu alasan sahabatnya tidak mau membayar belanjaannya. Dasar Jeani yang rakus, tapi belanja di sana seru juga.
“Kalau Veli mirip gue, lo mau bayarin, nggak? Kan siapa tahu aja si Veli lebih rakus dari gue kalau masuk mall.”
“Veli nggak gitu, ya. Dia anak yang sederhana,” balas David.
“Apa? Sederhana? Ya kali… tanyain tuh berapa harga kaosnya. Kalau dia pakai kaos di bawa lima puluh ribu, boleh deh lo bilang dia anak sederhana.”
Seketika David teringat dengan hoodie yang diberikan Velicia. Ketika gadis itu mengajaknya untuk membeli hoodie, harga hoodie yang tertera di layar ponsel itu 749,000.00. Jadi, selama ini, David memakai hoodie mahal? Kenapa baru sadar sekarang. Pantas saja terasa beda.
“Gue pernah lihat Veli pake t\-shirt motif koran tuh. T\-shirt kayak gitu tuh kan bermerk loh, Dav. Yakin masih mau bilang dia anak sederhana?” pancing Jeani.
Sial! Jeani semakin menyudutkan.
“Lo tahu kan barang bermerk itu harganya anu.”
“Diam lo, ah. Bawel banget.”
Jeani tersenyum lebar kemudian mengacak rambut pemuda itu. Bagaimana dia bisa tidak jatuh hati pada sosok pemuda di depannya. David yang tampan, sederhana, cerdas, berbakat. Namun, sayang, Velicia yang David pilih.