For The World We'Re Gonna Make

For The World We'Re Gonna Make
Merdeka dengan Mimpinya II



Ario diamanahkan Velicia untuk membawa David ke yayasan. Maksud dari perintah itu supaya David lebih membuka pikirannya yang sempit. Pemuda itu jangan sampai berhenti bermimpi, karena Velicia melihat sesuatu yang langka dalam dirinya. Pemuda yang punya attitude baik, selalu totalitas, tidak banyak berteori, tapi spontanitasnya mantap. David adalah seorang pemuda yang bisa menjadi representasi anak muda milenial jika potensinya digali lagi.


Velicia melihat sendiri sesuatu yang berbeda dari hasil editan video, sederhana, tapi punya nilai tinggi. Anak itu punya ribuan karya dalam jiwanya yang jika dilahirkan ke bumi akan mengguncang dunia. Sayangnya, karya itu masih belum keluar sempurna.


Mobil terhenti di depan bangunan lantai dua berwarna hijau muda. Ario keluar diikuti David. Bangunan itu bukan rumah, tapi lebih dari itu, di mana di dalamnya banyak anak yang sedang menggali potensi untuk menemukan passion hidup.


Tempatnya terlalu asing bagi David, apalagi saat memasuki bangunan dua lantai itu. Terdapat beberapa anak yang berpakaian sederhana, sedang asyik dengan aktivitas masing-masing.


“Ini, bukan tempat biasa, Vid. Bukan sekadar tempat tinggal atau tempat bermain. Di yayasan ini menerapkan sebuah quotes ‘kreatif untuk bertahan hidup’. Apa lo mau tahu tentang kisah kita?” Ario tersenyum kepada beberapa adiknya yang menghampiri untuk menyalaminya. “Kita adalah anak terlantar yang terselamatkan.” Mereka melanjutkan langkah untuk semakin menelusuri bangunan.


“Ini panti atau apasih?” tanya David saat melihat ada seorang anak gemuk yang melukis di kanvas.


“Apa, ya? Enggak juga, sih. Tapi bisa juga disebut panti. Kita ini adalah anak yang dulunya terlantar, tinggal di jalanan, sampai akhirnya ada keluarga yang menyelamatkan kami. Dia adalah Tante Felyana dan Om Hans. Mereka orangnya baik, kepergian mereka adalah kesedihan terdalam bagi kami.” Ario berjalan menghampiri pemuda yang usianya seumuran David. Mereka bertos ria kemudian berlalu begitu saja.


Ario tersenyum sambil melirik pemuda di sampingnya. Matanya seolah mengatakan ‘ikuti gue, Vid!’.


Mereka berbelok kemudian menelusuri lorong. Tidak ada suara, langkah terus bergerak menuju suatu tempat. Sampai akhinya sampai di ruangan terbuka. David menatap bangunan bercat merah putih berbentuk letter U. Sebuah plang warna putih bertulisan SD Kasih. Di samping bangunan itu, ada juga bangunan bercat putih biru, plangnya bertulisan SMP Kasih.


“Yayasan ini didirikan oleh Tante Felyana dan Om Hans. Di sinilah kami punya kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Bisa belajar, berkarya, dan berimajinasi.”


David masih mengamati lingkungan asing itu, bangunannya memang sederhana, tapi kebersihannya patut dicontoh.


“Velicia bisa dibilang pelopor yang memajukan yayasan ini lewat menggali potensi anak-anak. Di yayasan ini ada anak yang di sekolahnya bodoh, tapi pintar melukis, seperti anak gendut yang lo lihat tadi. Cowok yang bertos sama gue masih SMK, anak TKJ kelas dua belas, tapi udah bisa membangun jaringan wifi yang menghasilkan uang, dia nekat membuat RT/TWnet. Jadi, kita bisa wifian selama enam jam hanya dengan bayar tiga ribu. Lo mau? Coba aja. Ada juga anak cewek yang baru SMP, dia suka desain pakaian, sekarang malah udah kolaborasi sama desainer butik.” Ario memasukkan tangan ke dalam saku celanya, mata tajam beralis tebal menatap lurus ke bangunan sekolah dasar.


“Apa hubungannya sama Velicia?” tanya David bingung.


“Dia bisa lihat potensi anak-anak. Mana yang suka nanyi, masak, nari, melukis. Semuanya dikasih fasilitas. Mungkin anak jalanan seperti kami dipandang sebelah mata oleh orang lain, tapi Velicia membantu kami untuk bersinar.” Embusan napas Ario terdengar gusar, suara decakan lolos dari bibirnya. “Ikut gue lagi, Vin,” katanya seraya melangkah menyusuri selasar.


Setelah berjalan melewati taman yang sedang diisi oleh beberapa anak yang yang sedang bercocok tanam, mereka masuk ke sebuah bangunan lagi, melewati lorong yang lebarnya satu meter, Ario membuka salah satu pintu. Ruangannya kecil, tapi dalamnya terdapat satu set alat band.


“Yayasan ini punya band, terbilang masih baru, sih. Yuk masuk!”


Ada lima orang yang ada di ruang itu, salah satunya anak kecil berusia sepuluh tahun.


“Maksud lo bawa gue ke sini buat apa?”


“Nggak semudah itu.”


“Bokap lo?” tebak Ario tepat sekali. “Vid, lo nyerah sebelum berjuang? Ayolah, kenali diri lo sendiri, apa mau hati lo, ikuti keinginan lo.”


“Gue bilang nggak semudah itu, Kak!”


“Iya, emang itu enggak mudah.” Ario tersulut emosi hingga memilih untuk berdiri. “Lo tahu hidup gue sesengsara apa dulu? Veli mengabadikan kisah gue di buku pertamanya. Di mana gue hidup dari kecil di jalanan, tanpa orang tua, belasan tahun mulung sampah, makan dari sisa orang lain. Gue nggak pernah membayangkan akan hidup enak seperti saat ini. Bagi gue, sekolah hanya angan-angan aja. Hingga tiba waktunya, gue yang nggak pernah sekolah SD dan SMP bisa kuliah ke luar negeri. Vid, lo harus ingat, semuanya nggak ada yang nggak mungkin.”


Pemuda yang mendapat tamparan dalam bentuk kata seketika mematung. Novel Menantang Dunia itu kisah nyata? Penderitaan seorang anak kecil di dalam novel itu pernah membuat air matanya terjatuh itu kisah Ario?


“Kita enggak tahu apa yang terjadi di esok hari. Selagi bisa bermimpi, ya kita bermimpi. Sekarang lo bisa mengatakan nggak mudah, mustahil terjadi, tapi kita nggak tahu masa depan kita akan seperti apa. Don't think too much. Just do what makes you happy. Easy as that. Pikiran lo yang membuat hidup lo terasa rumit.”


Percayalah, sekarang David berada di posisi pusat, dia tidak tahu harus melangkah ke arah mana, yang jelas terlalu takut untuk mengambil risiko. Antara bakti dan hati. Jika ayahnya tahu tentang semua ini, akan seperti apa marahnya.


Kepalanya digelengkan seraya melangkah mundur. “Gue perlu waktu buat berpikir.”


“Gue harap, keputusan yang lo ambil enggak buat orang yang mau bantu lo kecewa.”


David memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Memilih salah satunya tetap akan membuat orang kecewa. Ayahnya dan Velicia adalah dua orang penting dalam hidupnya. Dia melangkah cepat untuk menemukan jalan keluar dari yayasan. Sekilas bagunanya terlihat kecil dari depan, ternyata di dalamnya luas sekali, sampai David bingung harus mengambil jalan mana.


“Hai, Kak,” sapa anak kecil yang usianya delapan tahun. “Mau ke mana?”


“Jalan keluarnya di mana ya, Dek?”


“Kakak ini yang tadi sama Kak Rio?” Anak ompong itu malah melempar pertanyaan bukan menjawab pertanyaan David terlebih dahulu.


“Iya.”


“Kakak mau keluar, tapi bingung harus jalan yang mana.”


“Ayo, Kak, aku antar.”


Mimpi dan orang tua,  pilihan yang sulit bagi anak sebaik David, di mana dia punya prinsip untuk selalu berbakti kepada orang tuanya, tapi dia tidak mau mimpinya hanya ilusi yang diciptakan saja.