For The World We'Re Gonna Make

For The World We'Re Gonna Make
Mengajar



“Mr. Vardlan is calling for you, Velicia. He waited in his room.”



Velicia berdecak atas panggilan itu. Kehadiran gadis berambut cokelat terang menghentikan kegiatannya membuat sketsa rumah menggunakan prespektif dua titik hilang. Sketch book di pangkuannya segera ditutup. “I will go there now,” ujarnya seraya beranjak dari bangkunya. “Thank you.”



Mr. Vardlan adalah seorang guru fisika kelas 10\-IPA\-3, 10\-IPA\-4, dan seluruh kelas sebelas IPA. Dipanggil seperti ini membuatnya menerka\-nerka ada apa? Yang jelas bukan karena sebuah kesalahan dirinya dipanggil. Karena Velicia belum pernah diajar oleh Mr. Vardlan.



Langkahnya menelusuri koridor gedung guru. Di SMA Pancasila tidak ada ruang guru, karena setiap guru mempunyai ruangan masing\-masing. Velicia berhenti di depan pintu bertulisan Mr. Vardlan. Tangannya terangkat untuk mengetuk pintu. Suara dari dalam yang memerintah untuk masuk membuat Velicia mendorong pintu tersebut.



Gadis itu diperintahkan untuk duduk.



“Do it!”



Velicia memicingkan mata melihat selembar HVS yang berisi soal fisika dan dua lembar HVS kosong. Guru fisikanya Ms. Kelly, bukan Mr. Vardlan, maksud dari kerjakan soal\-soal itu maksudnya apa? Velicia menghela napas lelah seraya mengambil bolpoin. Dia memilih untuk mengerjakan daripada menentang.



Ketika bel masuk terdengar samar, pria berwajah lonjong yang mempunyai rahang tegas menyuruhnya fokus mengerjakan soal. Velicia mencoba fokus dan berusaha mengusir pikiran buruk tentang Mr. Vardlan. Sebenarnya kenapa dia harus mengerjakan soal itu?



Hanya memakan waktu dua puluh menit untuk mengerjakan delapan soal tersebut. Velicia menyerahkan dua lembar HVS yang penuh dengan kombinasi huruf, angka, dan simbol.



“What is the purpose of all this, Mr?”



Pria itu mengangguk\-angguk ketika memeriksa hasil kerja Velicia. “Number five isn’t quite right, but I’m tolerating.”



“Sorry. I’m forgot the formula.”



“No problem. You are smart,” pujinya seraya menyimpan kertas jawaban Velicia di atas meja. “I have heard that you have taught in front of the class to resplace Ms Kelly was unable to attend. You know? That’s very pround! I am going out of town for one day. Ms, Kelly recommended you to help me. Will you teach in classes 10\-Science\-4 and 11\-Science\-1 to replace me? I believe in you. You are a trusted student of Ms. Kelly.”



Gadis itu menatap pria di depannya tidak percaya. “But I’m still in the tenth grade.”



“Eight questions that you worked on for elevent grade, and you managed to answer them.”



Ini mimpi? Velicia berusaha mempertahankan wajah datarnya. Pria mendesaknya untuk menggantikan mengajar. Statusnya yang bernotabe ‘murid' akan menjadi cibiran orang lain jika harus mengajar. Dua bulan yang lalu memang pernah mengajar untuk menggantikan Ms. Kelly yang berhalangan hadir, tapi itu di kelasnya sendiri.



Mr. Vardlan memberikan modul kelas sebelas untuk dipelajari Velicia terlebih dahulu.



Gadis itu menyanggupi meski ragu. Dia harus berani mengambil sesuatu yang baru untuk mendapat pengalaman. Mengajari kakak tingkatnya? Yakinlah, orang\-orang yang nanti akan mencibir, tapi orang yang yang berpendidikan tidak akan seperti itu. Velicia menghela napas, kemudian berbincang tentang materi yang harus dia sampaikan dan bertanya seputar proses mengajar dengan pria di depannya. Di kelasnya sedang berlangsung kegiatan belajar mengajar PKN, tapi Mr. Vardlan mengatakan bahwa dia sudah mengizinkan Velicia di kelas itu.


🎗🎗🎗🎗


Hari Kamis pagi hari, kelas 11\-IPA\-1 dihebohkan dengan ketidak hadiran Mr. Vardlan. Namun, satu chat ke grup kelas masuk lagi selang beberapa menit.



Mr. Vardland: Today you guys study with my assistant.



“Yah, ternyata kita masih belajar,” seru Jeani tidak suka. “Dav, kira\-kira asistennya Mr. Vardlan siapa, ya? Keren, ya, guru di sini udah kayak dosen aja.” Gadis itu menggelengkan kepala tidak percaya. Meski sekolah elit, selama ini belum pernah ada guru yang mempunyai asisten.



“Ms. Kelly atau Mr.Fandi, mungkin,” jawab David tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.



“Ya kali mereka. Nggak mungkin, Dav.”



“Mungkinlah, mereka kan sama\-sama guru fisika.”



“Gue yakin bukan guru fisika, deh. Pak Vardlan kan bilang asistennya.”



“Lihat aja nanti. Nggak usah ribet gitu kali,” cibir pemuda itu.



Jeani bosan melihat teman sebangkunya sibuk main game. Pipinya dikembungkan lalu membuang karbon dioksida dari mulutnya. Suasana kelas menjadi tenang kembali saat Mr. Vardlan mengatakan bahwa hari ini akan belajar. Mereka sibuk membuka materi untuk hari ini sebelum asisten Mr. Vardlan masuk kelas. Jeani sibuk coret\-coret tidak jelas di belakang bukunya untuk mengusir kebosanan.



Sesekali melirik David yang tetap fokus pada game online, seperti inilah kekurangan sebangku dengan laki\-laki. Membosankan.



“Morning, class.”



Seluruh pasang mata di ruang itu menatap seorang gadis berseragam SMA Pancasila memasuki kelas. Jeani membulatkan mata dan mengangakan mulut melihat gadis di depan pintu. Adik kelasnya masuk dengan langkah santai membawa dua buku dan satu I\-pad dalam dekapannya.




“Jangan bilang dia asistennya Mr. Vardlan,” bisik Jeani sambil melirik pemuda di sampingnya. “Dav, yang di depan itu beneran Velincia?”



Ini adalah pengalaman yang mungkin hanya sekali seumur hidup. Mengajari kakak kelasnya membuat gadis itu gugup setengah mati, beruntunglah dia punya wajah datar yang bisa dijadikan topeng. “Let me introduce myself. My name is Velicia Navvirel Aulia and you can call me Velicia. I’m from grade 10 Sciences 1. Stand here to replace Mr. Vardlan could not present.” Beruntunglah kegugupan itu tidak mempengaruhi suaranya, meski jantung sudah marathon.



Satu lagi yang menjadi keberuntungan Velicia hari ini. Mungkin karena tunjangan pendidikan, mereka dengan senang hati mau diajari oleh Velicia yang notabenya adik kelas mereka. Di awal terasa canggung saat menerangkan teori termofinamika. Sepuluh menit menyampaikan materi lalu memberikan contoh soal. Velicia menulis di papan tulis dengan sedikit gemetar sambil berbicara untuk menerangkan.



“Dav, gila, pacar lo pro banget jadi guru,” bisik Jeani.



David membasahi bibirnya seraya membuang wajahnya ke sebelah kanan. Dari tatapan Velicia, gadis itu seolah tidak mengenalinya. Bahkan, sejak gadis itu memasuki kelas, tatapannya tidak pernah mengarah kepadanya.



“Jea, kenapa gue dan Veli jadi kayak gini? Jaraknya dekat, tapi terasa jauh.”



“Ini belum ending, lo tenang aja,” kata Jeani lalu kembali memperhatikan Velicia yang menjelaskan.



“Any question?” tanya Velicia setelah memberi jeda beberapa menit supaya mereka memahami apa yang dijelaskan.



Tidak ada jawaban.



“Understand?” tanyanya sekali lagi.



“Yes,” serunya serempak.



“If there are no questions, please join Mr. Vardlan’s google class with the JSLA04J class code. Please do it. If there are difficulties, you can ask. Think of it as a discussion.” Velicia mengembungkan pipinya lelah. Sudah semalaman tidak tidur, paginya harus mengajar, ditambah pemuda yang duduk di bangku kolom ketiga baris ke empat menatapnya seintens itu. Status bisa dibilang pacaran, tapi sikap mereka tidak menunjukkan status itu.



Gadis itu duduk di kursi putar seraya memijat kedua pelipisnya. Hari yang melelahkan.



Dia meraih I\-pad untuk mengerjakan sesuatu di aplikasi autocad. Desain rumah tiga dimensi itu harus diselesaikan secepat mungkin untuk melatih kemampuannya. Karena dua hari lagi harus diserahkan kepada Pak Andri untuk dinilai.



Beruntunglah hari ini terlepas dari kegiatan belajar di kelas, Velicia bisa memanfaatkan beberapa menit sambil menunggu kakak kelasnya menyelesaikan tugas untuk melanjutkan kerjaannya.



“Dav, kerjain tuh soal. Jangan natap Veli mulu, dia nggak bakal pergi, kok.”



“Kok dia bisa sih sesantai itu di saat ada gue di depannya. Nggak niat sapa gue atau apa gitu?”



“Ya kali. Ini di kelas, Dav. Veli tahu tempatlah, dia harus bisa bersikap professional.”



“Sapa gue dikit, gitu. Apa itu sulit?”



Jeani berdecak melihat layar ponsel sahabatnya yang masih menampilkan layar depan. “Cepet masuk ke google class, Dav. Fokus, dong. Ini lagi belajar.”



Pemuda itu menuruti perintah sahabatnya. “Kode kelasnya apa?”



“Tanya sama Veli aja, gue lupa lagi.”



Pertanyaannya, apa Velicia akan menjawab? Secara keduanya seperti sedang perang dingin. Namun, demi masa depan yang cemerlang, David harus bertanya. Tangannya mulai terangkat seraya memanggil nama gadis itu.



“Yes. What happened?” tanya Velicia saat David memanggilnya. Bertatap muka dengan pemuda itu membuat rasa bersalahnya meletup\-letup dalam dada.



“Class code?”



“JSLA04J,” jawabnya.



David mengangguk lalu memasukkan kode kelas untuk bergabung ke google kelas Mr. Vardlan.



“Kok gue ngerasa gimana, gitu. Secara yang ngajarin kita di depan itu adik kelas,” kata Jeani sambil menghitung.



Tidak ada jawaban. David berusaha fokus untuk mengerjakan soal yang diberikan Mr. Vardlan. Mau adik kelas atau bukan, itu bukan hal penting. Yang lebih pentig, ilmu tersampaikan dengan sempurna. Sesekali lagi matanya melirik gadis di depan yang tengah terfokus pada I\-pad, David menghela napas lelah. Sampai kapan akan seperti ini?