
Velicia mengklik dua kali postingan David yang baru saja diunggah. Senyum tipisnya muncul dan langsung mengetikkan kalimat di kolom komentar. First like nih, dapat apa?
David yang sedang online di instagram segera membalas dan membuat Velicia langsung menyemburkan tawanya. Hatiku. Gadis itu membekap mulut, berusaha menahan tawa meski tidak dapat ditahan. Sopir pribadinya ikut tersenyum melihat putri majikannya kembali tertawa lepas setelah melewati puluhan purnama yang diselimuti dengan kesedihan.
“Pak, Veli mau ke Taman Menteng dulu.”
Pria itu menautkan kedua pelipis, memandang gadis di belakang dari kaca spion. “Nggak jadi ke kantor, Neng?”
“Ke Taman Menteng sebentar.”
Ekor mata Velicia melirik launchpad pro di sampingnya. Ada baiknya dia yang memberikan papan yang bisa menghasilkan musik elektronik itu langsung. Padahal niatnya biar sopir pribadinya yang memberikan itu. Velicia tahu posisi David dari postingannya yang menambahkan lokasi, kegiatan yang di post pun seperti sedang take. Baguslah… David masih bisa berdiri tanpa dirinya.
Taman Menteng memang lumayan jauh dari posisinya. Perjalanan memakan waktu setengah jam lebih. Tidak ada yang membuat Velicia membuang waktunya selama itu kecuali pemuda yang bernama David Anjaya Anggana. Sial!
Gadis itu melirik jam tangannya sebelum turun dari mobil. Kaki mungilnya berjalan cepat memasuki taman, melewati rumah kaca, matanya menelusuri sekitar untuk mencari. Ponselnya dinyalakan kembali, melihat postingan David di mana. Kakinya kembali melangkah, menelusuri bundaran taman, dan akhirnya menemukan sekelompok tim.
Di sana terlihat David dan Ega yang sedang mengarahkan kameranya ke seorang gadis yang duduk di kursi dari sudut berbeda. Velicia melupakan sesuatu untuk David. Harusnya kemarin tidak hanya membeli launchpad, karena pemuda itu sudah tidak mempunyai kamera lagi. Velicia yakin, kamera yang dipakai itu bukan milik David.
“Veli!” pekik Jeani sontak membuat David langsung menoleh mengikuti arah pandang sahabatnya.
Fokus David langsung ambyar ketika matanya menemukan gadis yang memakai t-shirt putih dan celana kulot warna drak gray. Tanpa mempedulikan shooting, dia memberikan kamera di tengannya kepada Jeani. Kakainya berlari kecil menuju gadis kesayangannya yang selalu dirindukan David. Kehadiran Velicia adalah hal besar dan membahagiakan.
Pemimpin yang tidak professional.
Take yang ke-3 kembali gagal karena Jeani berteriak dan David meninggalkan tim begitu saja.
“Jadi, Veli lebih penting daripada mereka?” Gadis itu menatap David tanpa ekspresi.
“Masih nanya, ya iyalah!” decak David seraya mengacak rambutnya sendiri.
Velicia langsung memberikan launcpad pada pemuda itu. “You have a chance to dream again. For you from your princess.” Mata David menyorotkan tidak percaya melihat apa yang gadis itu berikan. “Sebenarnya kamu mampu tanpa Veli. Kalau Veli enggak mau bermimpi sama kamu lagi, kamu tetap melanjutkan apa yang sudah dimulai, kan?” candanya.
Pemuda itu langsung menggeleng. Sorot matanya langsung kosong. David ada sampai di titik ini karena Velicia. Gadis yang menjanjikan jika urusannya sudah selesai, mereka akan menyatukan dua dunia yang dibuat David dan Velicia. Apa gadis itu lupa? “Jadi, kamu mau ingkar janji? Terus buat apa selama ini aku bermimpi sejauh ini, Vel?”
Pertanyaan David menohok gadis berponi itu. Velicia kira David bisa berdiri tanpa dirinya.
“Enggak, kok. Teruskan apa yang kamu mulai. Veli usahakan untuk kembali secepatnya.” Velicia mencoba untuk tidak ragu dengan ucapannya. Apakah dia bisa menempati janjinya kepada David? Dia terlalu takut jika hidupnya akan terus seperti ini.
“Janji?”
Jawabannya hanya ‘iya’ atau ‘tidak’. Namun, terlalu sulit untuk memilihnya. Velicia takut tidak bisa kembali, tapi jawaban ‘tidak’ hanya akan membuat pemuda itu menelantarkan impiannya. Gadis itu tersenyum tipis seraya menatap lekat pemuda di depannya. “Veli mau berusaha menyelesaikan apa yang Veli mulai dulu,” ucapnya dalam satu tarikan napas. Velicia segera memutuskan kontak mata dan langsung berlalu.
David segera mengejarnya kemudian berhasil meraih pergelangan tangan gadis itu. “Kamu harus janji dulu.”
“Vel, launchpad—” David tidak bisa menyusul. Semakin Velicia dikejar, semakin jauh gadis itu menghindar. “Vel, terima kasih!” teriaknya seraya tersenyum.
Tunggu, Velicia memberikannya launcpad? Tangannya langsung menepuk kening. Ngaku aja, Dav, lo deketin Veli buat manfaatin dia, kan? Suara Jeani menguasai otaknya.Tidak! Dia tulus mendekatinya tanpa ada niat memanfaatkan sedikit pun. David segera berlari mengejar pacarnya, tapi Velicia lebih dulu masuk mobil. Saat kaki David menginjak aspal, mobil mewah warna putih itu sudah berlalu.
Aku nggak ada niat manfaatin kamu, Vel. Sebelah tangannya meremas rambut frustasi. Harusnya tadi menolak, tapi karena terlalu bahagia menerima launchpad membuatnya lupa.
****
“Kita gunakan material kaca sebagai railingnya, di sisinya ditutup material kayu yang senada dengan tangga kayunya.”
Pak Andri mengangguk setuju dengan usulan itu. Pria itu sangat percaya dengan kemampuan gadis kecil yang duduk di hadapannya. Material kayu terkenal dengan kekuatan dan daya tahan yang cukup tinggi, walau bisa dibilang jadul, tapi akan terlihat menarik jika yang mengolahnya Velicia.
Di meja bundar itu ada empat orang yang berdiskusi tentang konsep rumah minimalis yang modern dengan nuansa rustic. Sesekali Velicia memijat pelipisnya yang agak berdenyut. Pekerjaan menuntutnya untuk absen sekolah, otomatis Velicia harus mati-matian mengejar ketertinggalan dalam materi untuk mempertahankan prestasi. Hal itulah yang membuat fisik Velicia sulit untuk diistirahatnya, karena tidak ada waktu.
“Ini bagusnya dibuatkan balkon atau kanopi?”
Velicia mengamati miniatur yang ada di tangan pemuda berkumis tipis. “Balkon bagus, Fik. Mungkin.” Sungguh, Velicia lelah sekali hari ini. Daritadi ucapannya liar ke mana-mana, ketika ditanya pun jawabannya penuh keraguan serta tidak jelas. Sejenius apapun otaknya, tetap saja akan lelah jika terus dipaksakan dipakai. Terlebih, semalam tidak tidur.
“Little bos, tehnya?” tawar seorang pemuda menghampirinya seraya memberikan segelas teh.
Gadis itu tersenyum tipis. Di bawah tekanan pekerjaan yang bisa membuatnya melupakan segala hal, dia masih mempunyai orang yang masih memperhatikannya. Contohnya teman sekantor, mayoritas karyawannya memang laki-laki, tapi mereka memperlakukan Velicia dengan sebaik-baiknya. Meski sikap baiknya mereka ada tujuan tertentu. Siapa yang tidak tertarik dengan Velicia? Cantik dan jenius.
“Akan sedikit menyiram otak Veli. Thank you,” ucapnya seraya menerima gelas itu. Sebenarnya Velicia tidak sedang bercanda, tetapi mereka sukses menyemburkan tawa mendengar ucapan bos kecilnya.
“Emang otaknya lagi tandus?” tanya Hifda, perempuan berhijab warna tosca.
“Dikit.”
“Kalau mau istirahat, istirahat saja. Atau mau pulang?” Andri khawatir jika bos kecilnya sakit karena terlalu memforsir diri. Dia tahu bahwa Velicia lembur sampai pagi, berangkat sekolah dari kantor, pulang sekolah langsung ke kantor. Pakaiannya saja masih seragam sekolah. Kini wajah cantik itu terlihat pucat.
“Ah, tidak. Kita lanjutkan dulu diskusinya, biar cepat pulang.”
Bukan Velicia jika sedang lelah akan terlihat bodoh. Dia masih bisa konsentrasi dalam diskusi meski ingin tidur, ingin istirahat, dan ingin makan. Satu jam setelahnya, diskusi selesai karena sudah waktunya pulang kantor. Biasanya Velicia tidak ikut pulang, tapi pengecualian hari ini. Kasihan badannya yang kini semakin kurus jika terus ditekan. Meski dia sudah biasa dengan ritme kerja yang diluar batas, tetapi Velicia juga tidak bisa menghindari kata lelah.
Setelah sopir pribadinya memberitahukan sudah di parkiran, gadis itu segera turun dan cepat-cepat masuk mobil.
Kepalanya didongakkan, tangannya terulur untuk menghidupkan AC. Kedua matanya ditekan, bibir bawahnya digigit. Kenapa kepalanya terasa pening?
“Neng Ayu, Bapak sudah pulang siang tadi.”
Velicia langsung menegakkan duduknya, semua rasa lelah, ngantuk, dan pening rasanya hilang saat mendengar berita yang dibawa sopirnya. “Ngebut ya, Pak,” titahnya tidak sabar. Entahlah, sebagaian hati masih kecewa, tapi Velicia tidak mau berbohong bahwa dia merindukan sosok pahlawannya.