For The World We'Re Gonna Make

For The World We'Re Gonna Make
Happy



Di tengah hutan pinus dua orang itu sibuk mendirikan sebuah tenda. Ega mengontrol drone yang merekam Velicia dan David. Tepat ketika senja mulai tenggelam, dua remaja itu bersiap untuk mengambil sin ke-24. Mereka berdiri di depan tendanya, David tersenyum seraya mengulurkan tangan di depan Velicia. Gadis itu mengangguk dua kali kemudian mereka masuk bersamaan.


Laki-laki berkumis tipis siap mengambil David sebagai objek kameranya dari sudut kiri tenda.


Pemuda itu mengeluarkan mahkota yang terbuat dari ilalang lalu memasangkannya di atas kepala Velicia. "You are so beautifull," katanya setengah berbisik. Dia mengambil lilin dan korek dari tasnya untuk menerangi


Velicia tersenyum indah. Tangan kanan mereka diangkat, telapak tangannya diatukan, kemudian jarinya saling mengisi sela jari-jari. “Bawa aku ke sana, ke tempat di mana itu menjadi rumah, di saat mereka tidak ada yang percaya lagi.”


Velicia mengangguk untuk menanggapi apa kata David sambil tersenyum.


Laki-laki berkumis tipis itu menjadikan bayangan kepala David-Velicia sebagai objek kamera.


"Udah woy udah, baguslah!" Suara tepuk tangan Ega dari luar tenda membuat tangan Velicia dan David terlepas begitu saja. Laki-laki berkumis tersebut mengakhiri pengambilan videonya.


“Asli, keren, *****!” puji Ega saat David dan Velicia keluar. "Lo menang banyak dah bisa nempel-nempel sama Veli."


David menggaruk belakang lehernya seraya menatap Velicia. Gadis itu memutarkan bola matanya malas seraya mencerutkan bibir.


"Imut banget, Ya Allah. Gue nggak kuat mau karungin," racau Ega menatap kepergian Velicia.


“Vid, di naskah nggak ada lo yang ngomong you are so beautifull. Modus banget dah, dasar anak bucin.”


David tersenyum kaku seraya memandangi punggung Velicia. Dia kembali menggaruk belakang lehernya. “Fakta, kan? Veli emang beneran cantik.”


“Aciiiiah, masih kecil woy!” seru Ega sambil menepuk keras pundak David.


David meringis akibat tepukan itu. “Apaan sih, Bang. Kayak yang nggak pernah aja,” katanya. Dia mendengkus kemudian menghampiri Velicia dan segera menarik gadis itu untuk menjauh dari orang-orang menyebalkan.


Malam telah tiba, mereka sepakat untuk tidur di mobil sambil melakukan perjalanan ke Garut. Lima hari penuh mereka keluarkan tenaga, pikiran, dan materi. Selama itu mereka menelusuri spot untuk pengambilan video klip.


Proses pembuatan video klip belum selesai, tapi mereka harus pulang. Permasalahannya ada di David yang harus menjadi panitia untuk masa pengenalan lingkungan sekolah. Tempat terakhir yang mereka pijaki adalah salah satu bukit yang ada di Garut. Dua kali pengambilan sin di sana kemudian makan siang terlebih dahulu.


Tepat di siang hari di hari Minggu, mereka pulang lagi ke Jakarta Pusat.


Velicia bertukar tempat dengan Ega. Yang duduk di kursi barisan kedua kini menjadi David dan Velicia. Gadis itu memasangkan earphone kepada David. Ega berdehem menyaksikan dua remaja itu dari kaca spion, tapi tidak dipedulikan oleh keduanya.


“Ini lagu siapa?”


“Kirim filenya ke aku, Vel.” David mengeluarkan ponselnya.


Velicia segera mencari aplikasi shareit untuk membagikan lagu Greet Tomorrow ke perangkat yang dipegang David. Keduanya dekat sekali, terlihat sudah kenal lama.


“Run the world and greet tomorrow.” David bernyanyi karena terbawa irama musik. Pemuda itu searching liriknya, barulah dia bisa bernyanyi dengan benar.


Velicia ikut serta dalam menyanyi karena terbawa oleh David. Ketika pandangan mereka bertemu, ukiran senyum terlukis.


David melepaskan earphonenya. “Buat video klipnya lanjutin di sekolah, ya. Mau nggak?”


“Bagaimana caranya?” Kening gadis itu bergelombang.


“Nanti deh aku certain.”


“Oke.”


Suasana mobil kembali sunyi. Dua teman kampusnya Ega yang duduk di kursi paling belakang tertidur pulas. David dan Velicia tenggelam dalam pikiran masing-masing. Ega sibuk dengan ponselnya, Pak Dirga fokus ke jalanan.


Velicia mengetuk punggung tangan David yang disimpan di atas paha. Dia menoleh, senyumnya dilempar.


“Terima kasih,” bisik Velicia menatap David dengan dalam.


“Buat?”


"This is my first experience. I am very happy"


“Terimakasih juga udah mau bantu. Veli, tanpa kamu, A Million dreams hanyalah sebuah angan-angan saja.”


Gadis itu mengangguk. Dia menyandarkan kepala ke lengan atas pemuda di sampingnya. David terlalu tinggi untuknya jika ingin bersandar di bahu pemuda itu. Suasana yang menenangkan menenggelamkan Velicia ke dunia mimpi, David pun mengikutinya ketika dirasa sudah bosan memainkan ponsel.


Ega dengan ide jahilnya mengarahkan kamera ke dua sejoli yang sedang tidur sambil bermesra. Beberapa foto diambilnya dan langsung dikirim kepada David via telegram.


Pak Dirga menatap putri majikannya dan David yang tertidur. Senyum pria itu mengembang. "Mereka cocok, ya. Memgingatkan saya ke masa muda," ujarnya seraya terkekeh.


Erga merespon Pak Dirga dengan senyuman.