For The World We'Re Gonna Make

For The World We'Re Gonna Make
Rasa Iba



“Ih, lucu banget! David, kita beli ini, yuk!” Gadis itu menunjukkan berbagai hoodie di tampilan situs belanja online.


“Dompetku kering, Vel. Jangan ngajak yang aneh-aneh, deh.”


Velicia mencerutkn bibirnya sambil melirik tajam David yang sibuk main rubik. Daritadi hanya kubus itu terus yang diperhatian, David seakan tidak peduli dengan gadis di sampingnya. “Oke, Veli tetap mau beli.”


“Silakan, Princess Bocah.”


Kedua kaki gadis itu diayunkan silih berganti. Setelah memesan apa yang diinginkan, Velicia merebut rubik yang warna putih dan hijaunya sudah tersusun. Gadis itu mengulum senyum tak berdosa yang dibalas decakan oleh David. “Daritadi Veli ditatap mulu sama orang-orang yang lewat. Veli jadi curiga,” katanya sambil memainkan rubik.


David menautkan keningnya. “Curiga apa?” tanyanya serius.


“Curiga mereka kenal sama Veli.” Gadis itu terkekeh geli.


Dikerjai oleh adik kelas sendiri membuatnya memutar bola mata malas lalu beranjak menuju kantin. Velicia dikenal banyak orang ya wajar. Bahkan tidak hanya dikenal satu sekolahan, jutaan orang Nusantara pasti tahu gadis itu. Langkahnya terhenti di stand minuman. Beberapa menit menunggu antrean akhirnya David berada di antrean paling depan.


“Cappucino sama vanilla late,” pesannya langsung diangguki wanita berseragam merah hitam. Segaram khas penjual yang tetapkan sekolah.


Beberapa menit menunggu, pesanannya sudah jadi. David kembali lagi ke taman samping sekolah untuk menemui gadis yang tadi ditinggalkan. Habisnya dia kesal, hari ini Velicia tampak tak bersemangat menjalani hari, itu juga berpengaruh pada dirinya.


Baru saja mau menginjakkan kaki di atas rumput, langkahnya terhenti saat melihat Velicia berbincang dengan sahabatnya. Posisi Jeani memunggunginya hingga tidak mungkin dapat melihat kehadirannya. Beda lagi dengan Velicia yang berada di hadapan Jeani, gadis itu menatap David yang mematung dengan dua minuman tertuang dalam gelas plastik.


“David itu pengin jadi youtubers, tapi subscribenya nggak nambah-nambah.” Jeani tertawa puas sekali, seperti mengejek. “Gimana mau subs nya nambah kalau yang diunggahnya itu cuma  video cover lagu yang nggak berkelas. Main gitar, nyanyi, di kamar, ituu aja terus. Gimana mau maju coba. Dia itu pengin jadi musisi, tapi cuma bisa main gitar, biola, sama piano. Aneh deh tuh orang.”


“Anehnya kenapa?” tanya Velicia yang terlihat penasaran, seperti kemakan ucapan Jeani.


Yang David takutkan adalah kehilangan Velicia. Bagaimana jika setelah ini dia memilih menjauh karena fitnah Jeani? Mungkin saja Velicia kemakan omongan sahabatnya bahwa David hanya memanfaatkan Velicia.


“Banyak hal aneh sama dia. Banyak banget cita-citanya. Di satu sisi, mau jadi musisi, terus mau jadi youtubers, tapi dia suka banget sama hal-hal berbau fotografi. Dia suka edit-edit video, edit foto, buat desain di corel atau photosop. Namun, cita-cita itu nggak mungkin dia capai.”


Hati David terasa remuk seketika saat mendengar kalimat terakhir dari sahabatnya. Dia berusaha mengatur napas untuk menenangkan diri. Kenapa gadis itu selalu merendahkannya.


“Veli akan pastikan, dia bisa mencapainya.”


Pemuda itu menatap Velicia tidak percaya. Seringan itu Velicia mengucapkannya? Jeani yang sudah lama mengenalnya tidak percaya dengan semua mimpinya. Bahkan, Jeani mengatakan bahwa mimpi-mimpinya itu adalah hal konyol.


“Ya nggak mungkinlah. Karena David harus jadi dokter. Jadi, gue mohon sama lo, jangan pengaruhi sahabat gue.”


“Kenapa dokter?”


David tidak kuasa lagi mendengar apa yang dikatakan sahabatnya. Kepalanya digelengkan pelan seiring dua minuman di tangannya jatuh. Velicia menatap sorot terluka pemuda itu. David pergi begitu saja setelah pandangannya dan Velicia bertemu. Mimpi itu adalah hak semua manusia, sayangnya tidak semua manusia merdeka dalam bermimpi. David berbeda dengannya, mau bermimpi apapun, sebanyak apapun,  keluarga akan selalu menopang.


Setumpuk buku yang dibawa seorang gadis berhamburan karena ditabrak David saat berbelok. Pemuda itu mematung di hadapan gadis yang terjatuh karenanya. Tidak ada uluran tangan, tidak ada bantuan membereskan buku kembali, dan tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya meski itu sekadar kata maaf.


“Kak—”


David berlalu bergitu saja. Langkahnya cepat menelusuri koridor.


“Maaf.” Velicia mengulurkan tangan kepada gadis berkaca mata bulat yang tadi ditabrak David. “Kamu tidak apa-apa?”


Gadis itu tersenyum seraya mengangguk.


Velicia membereskan buku yang berserakan. Namun, tindakannya itu ditahan oleh gadis tersebut. “Biar aku aja, Vel.”


Velicia mengangguk dan langsung berdiri. “Sekali lagi maaf. David tidak sengaja menabraknya.” Setelah itu dia memilih berjalan cepat untuk menenangkan pemuda malang yang dikekang. Sebagai orang yang punya hati, rasa iba tentu saja ada.


Langkah kaki gadis bersepatu hitam menutupi mata kaki terhenti. Arah matanya menatap punggung pemuda di ujung koridor yang sedang mengamati keindahan kota dari balik kaca besar lantai lima. Rasa kasihan menyelimuti menggerakkan langkah untuk mendekatinya. Tangan kanan terangkat menepuk pemuda itu. Namun, tidak ada respon.


Velicia tersenyum sambil mengambil satu langkah untuk mensejajarkan diri dengan David.


“Apa sih yang disedihkan?” tanya Velicia seraya menatap gedung-gedung menjulang tinggi di depan matanya.


“Dia benar, Vel. Bagaimapun caranya, mimpi aku hanya sebatas imajinasi.”


“Kamu mau menyerah sebelum melawan?”


David diam sejenak. Matanya masih lurus ke depan. “Karena semuanya nggak mungkin,Vel. Pengorbananku hanya sia-sia aja.”


“Nanti sore ada kegiatan?” tanya Velicia sengaja bermaksud membelokkan pembicaraan.


“Aku mau main badminton dulu.”


“Kamu mau jadi Ginting next generation?”


David terkekeh tanpa sebab. Ditatapnya Velicia yang masih meluruskan pandangan ke depan. “Just hobby.”


“Kalau setelah badminton tidak ada kegiatan lagi, Veli tunggu di rumah.”