For The World We'Re Gonna Make

For The World We'Re Gonna Make
Pertemuan Tanpa Kata



Enam buku tebal yang dipinjam dari perpustakaan dimasukkan ke tasnya. Persiapan untuk ujian harus dari jauh\-jauh hari, karena David tidak suka terburu\-buru. Berhubung shooting sudah dibreak, mengedit tinggal sedikit lagi, untuk mengisi kekosongan waktu ya dengan belajar. Pemuda itu menarik Jeani keluar dari perpustakaan. “Sore nanti antar gue ke toko buku.”



Jeani mengangguk, jika pun dia bilang tidak mau, pastinya David akan memaksa.



“Jea, pas istirahat pertama, gue mau nyusul lo ke kantin. Nah, pas di koridor dekat lab, gue lihat Veli jalan cepet ke arah gudang. Gue kan penasaran, akhirnya gue ikutin.” David mempersilakan sahabatnya untuk menuruni tiga tangga di depannya lebih dulu. “Tiba\-tiba sketch book Velicia dan dua pensil jatuh, dia bersadar di tembok, awalnya nangis aja, lama kelamaan malah mukul kepala. Pas gue samperin, dia pergi gitu aja.”



“Kok gue jadi penasaran. Dia ada masalah apasih? Kalau soal mamanya, itu kan udah lama. Sebulan lebih, kan? Sebentar lagi dua bulan.”



David yakin bukan soal itu. Jika berduka, tidak selama itu juga. Velicia terlalu datar dan tertutup hinngga orang lain sulit menebak.



“Orang cerdas kayak dia punya cara sendiri buat ngatasi masalah. Dia bakal kembali kalau udah selesai,” kata Jeani seraya menepuk punggung sahabatnya dua kali untuk menangkan.



“Gue kangen cover lagu bareng dia,” ujar David.



Jeani memutarkan bola matanya malas. Bucinnya David mulai keluar lagi. Dia memarkirkan sepada supaya keluar dari dalam garis, begitu pun dengan David.



Ketika David baru saja menginjakkan sebelah kaki ke pedal sepeda, sosok gadis yang hendak masuk mobil membuat aksinya terhenti. Mobil putih itu melenggang pergi tak lepas dari tatapan David. Menebak Velicia terlalu sulit.



“Woi! Dav, ayo!” Jeani berseru dari jarak lima meter di depannya.



Pemuda itu mulai menggayuh tak bersemangat. Sepanjang perjalanan tidak ada perbincangan seperti biasanya. Jeani mengerti kondisi hati sahabatnya, saat ini pemuda itu butuh ketenangan. Gadis itu menepuk pundak David seraya menunjuk jalan yang belok ke kiri. Dalam kondisi David yang kacau terlalu bahaya jika melintasi jalan kota. Sebaiknya jalan searah lebih aman meski jarak ke rumah mereka bisa dua kali lipat. David menyetujui saja, dia membelokkan sepedanya ke kiri.



Bertahan dalam suasana sunyi adalah hal membosankan. Namun, jika mengajak David ngobrol, pasti tidak ditanggapi. David menjadi budak cinta sejak bertemu Velicia, hal itu membuat Jeani memaki adik kelasnya itu dalam hati. Kalau bukan karena Velicia, mana mungkin sahabatnya seperti ini. Meski Velicia adalah idolanya, tapi ada rasa tidak suka saat melihat sahabatnya terpuruk karena gadis itu.


🎗🎗🎗🎗


David memandang deretan buku sains untuk memilih mana yang harus dibeli. Tangannya telurur mengambil buku berjudul Kimia Medisinal. Seorang laki\-laki yang tingginya melebihanya mengulurkan tangan untuk mengambil buku Astrofisika untuk Orang Sibuk karya Neil deGrasse Tyson. David menoleh, sebelas alisnya terangkat saat mengenali orang yang ada di sampingnya. Laki\-laki pecicilan di rumah sakit itu?



Laki\-laki itu memandang David, dia bingung kenapa bisa ditatap seperti itu.



“Kak Rio, tolong ambilin buku Kosmos.”



David menoleh ke belakang. Dia tertegun melihat gadis terbalut hoodie dengan bawahannya celana drawstring warna capucino. Baru saja mau melangkah untuk menghampiri, laki\-laki pecicilan di sampingnya sudah lebih dulu beraksi. Ario dan Velicia menuju rak yang ada buku Kosmos karya Carl Sagan. Bahkan, dalam jarak sedekat tadi saja, gadis itu tidak menyapanya.



Melihat punggung dua orang itu membuatnya berdecak. Saat di rumah sakit berpelukan, sekarang berdekatan, bahkan, sekarang laki\-laki pecicilan itu mencubit hidungnya Velicia. Apa mungkin ini alasannya? Alasan kenapa Velicia menjauh. David memijat pelipisnya seraya pergi menuju rak khusus fiksi remaja.



“Ada Veli,” katanya pada gadis yang sedang membaca blurb novel.



Gadis itu menoleh dan langsung berpandangan dengan David. “Di mana?”



David mengembuskan napasnya lelah. “Pulang, yuk!”



“Hah?”



“Besok ke sini lagi,” ujarnya dan langsung diangguki Jeani.



Sepertinya kesialan berpihak pada David. Ketika di kasir, hendak membayar buku Kimia Medisinal dan satu novel yang Jeani pilih, Velicia dan laki\-laki pecicilan itu berdiri menunggu membayar bukunya.



Jeani ragu untuk memegang tangan sahabatnya, sampai akhirnya David meraih tangan Jeani lebih dulu.



“Totalnya 2.140.000,” ujar kasir itu seraya memberikan paperbag dan struk pembayarannya. Ario menerimanya seraya tersenyum.




Tidak ada satu kata terucap ketika mereka bertemu, bahkan saling lempar senyum pun tidak. Velicia berlalu setelah kartunya kembali ke tangannya lalu menarik Ario untuk keluar, tanpa sedikit pun menoleh pada David. Hubungannya dengan Velicia itu apa? Kenapa menjadi seperti ini? Seolah mereka tidak pernah kenal.



Ario membukakan pintu mobil untuk gadis kesayangannya. Perlakuan manis untuk gadis yang kelewat manis. Gadis itu masuk diikuti Ario.



“Setelah dari kantor, antarkan Kak Ario ke yayasan,” ujarnya langsung diangguki sopir pribadinya.



“Istirahat sehari bisa nggak sih, Vel?” tanya Ario kesal.



“Ada yang harus Veli diskusikan dengan Pak Andri.”



“Terserah kamulah. Kepala batu,” cibirnya seraya membuang pandangan ke tepi jalan.



“Eh, itu buku Veli siniin.”



Ario membuka paper bag untuk mengambil tiga buku milik Velicia. Ada puluhan buku yang dibelinya hari ini, tapi itu untuk bacaan anak\-anak di yayasan. Perjalanan ditempuh dengan waktu kurang dari lima belas menit. Velicia turun dan segera memasuki gedung.



Apakah Velicia tidak lelah?



Anak seusia dia belum saatnya ditekan untuk mengerjakan yang belum seharusnya dikerjakan. Belum saatnya juga ditekan untuk dewasa, meski pikirannya jauh lebih dewasa daripada orang dewasa.



Ario merasa bersalah atas kehidupan gadis kesayangannya. Dia bisa hidup enak seperti ini atas kebaikan hati mamanya Velicia yang memungutnya di jalanan. Teringat sepuluh tahun yang lalu saat dirinya tidak punya uang untuk makan, hidup di kolong jembatan, menghabiskan waktu dengan mulung sampah, dan makan terkadang dari sisa makanan orang lain. Betapa menyedihkan hidupnya yang kelam, sampai akhirnya Felyana datang dan membawanya kd sebuah tempat di mana di dalamnya terasa hangat dengan kasih sayang. Hidupnya menjadi terjamin, pendidikannya dibiayai, dan dialiri kasih sayang setiap saat.



Setelah besarnya kebaikan keluarga Velicia atas puluhan anak jalanan yang ditampung yayasan, di saat Velicia dalam kondisi seperti ini, mereka tidak punya daya untuk membantu.



Gadis itu keluar dari lift di lantai empat belas. Saat masuk ruangannya, seorang pria berkemeja rapi sudah standbay menunggunya. “Maaf telat. Tadi ada hal yang harus diurus.”



“Tidak apa\-apa, Veli.”



Velicia menyerahkan I\-pad yang sudah diarahkan ke aplikasi autocad.



Pak Andri meneliti desain yang baru selesai sembilan puluh persen. Gadis itu harap\-harap cemas dengan penilaian, ini pertama kalinya membuat desain rumah. Apalah dia yang amatir.



“Kamu cerdas, loh. Untuk seusia kamu, tanpa ada latar pendidikan arsitektur, ini keren, Vel. Ya… meski… kekurangan itu tidak luput. Karena kelebihan dan kekurangan itu satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Kamu bisa belajar lagi, lebih kreatif lagi.”



Velicia menanggapinya dengan mengangguk, menjawab ‘iya’, tersenyum paksa, dan terkekeh. Pria itu mengomentari panjang lebar serta memberi saran. Orang kepercayaan mamanya di kantor ternyata sebaik ini, membantunya banyak hal saat dia belum tahu apa\-apa. Semua ini bukan hal mudah, tapi Velicia memilih untuk menjalani saja dulu, jika gagal, jadikan pengalaman.



“Bantu Veli untuk mempelajari lebih dalam lagi. Jujur, ini bukan suatu hal yang mudah, maka dari itu, Veli butuh Bapak.”



“Saya senang dengan keinginan disertai kecerdasan kamu. Saya itu merasa, andai saya punya anak seperti kamu, bangga sekali hati ini,” ujarnya disertai acungan jempol.



“Bisa aja. Bukankah tugas orang tua harusnya selalu bangga dengan kemampuan setiap anaknya? Dan kemampuan setiap anak itu tidak sama, membandingkan dengan yang lain adalah suatu kesalahan.”



“Astagfirullah al adziim.” Pak Andri mengusap wajahnya kasar. “Maafkan saya, Veli.”



Gadis itu menanggapinya dengan seulas senyum.